Indonesia dan Malaysia Dilanda Kabut Asap Lintas Batas di Asia Tenggara
Kabut Asap di Kalimantan Tengah tahun 2015. | Foto: Aulia Erlangga/CIFOR di Flickr.
Kualitas udara memburuk di mana-mana. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara sedang berjuang melawan polusi udara dalam beberapa minggu terakhir, dengan kualitas udara yang tergolong tidak sehat. Kabut asap lintas batas di Asia Tenggara merupakan masalah yang berulang saban tahun, dan kembali melanda Indonesia dan Malaysia tahun ini.
Kabut Asap Lintas Batas di Asia Tenggara
Kabut asap lintas batas di Asia Tenggara terutama disebabkan oleh kebakaran lahan dan hutan (Karhutla). Karhutla tidak hanya menghancurkan ekosistem hutan, tetapi juga mengubah penyimpan karbon menjadi penghasil emisi karbon, sehingga berkontribusi terhadap pemanasan global. Kabut asap juga sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Kabut asap lintas batas merupakan kabut dengan kepadatan yang cukup untuk menyebar melintasi batas negara, dan ASEAN telah dilanda masalah ini sejak tahun 1980-an. Negara-negara Anggota ASEAN bahkan telah menandatangani perjanjian yang mengikat secara hukum untuk mengurangi polusi asap pada tahun 2022. Namun, kabut asap lintas batas masih terus berlanjut.
Pada KTT ASEAN ke-43 (5–7 September 2023) di Jakarta, Pusat Koordinasi ASEAN untuk Pengendalian Polusi Asap Lintas Batas (ACC THPC) diresmikan untuk mencapai komitmen kawasan untuk bebas asap pada tahun 2030. Segera setelah peresmian itu, kabut asap menyebabkan skor indeks polusi udara di Indonesia dan Malaysia melonjak ke level yang tidak sehat.
Kabut Asap 2023 di Indonesia dan Malaysia
Pusat Meteorologi Khusus ASEAN mencatat ratusan titik api di Pulau Sumatera dan Kalimantan, terutama di Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Kebakaran lahan gambut dan hutan di wilayah tersebut telah menyebabkan kabut tebal yang membatasi penglihatan dan memaksa anak-anak sekolah untuk tinggal di rumah.
Kejadian ini bukanlah hal baru. Hampir setiap tahun selama musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Indonesia untuk membuka lahan bagi perkebunan kelapa sawit hingga pulp dan kertas. Perusahaan lokal, perusahaan asing, atau perusahaan yang terdaftar di luar negeri yang berada di Indonesia, adalah pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Malaysia telah mengirimkan surat ke Indonesia mengenai hal tersebut. Nik Nazmi, Menteri Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup, dan Perubahan Iklim Malaysia, mengatakan, “Kami mengirimkan surat untuk memberi tahu pemerintah Indonesia dan mendesak mereka agar mengambil tindakan atas masalah ini. Kita tidak bisa terus menganggap kabut asap sebagai sesuatu yang normal.”
Sementara itu, pemerintah Indonesia membantah menyebabkan kabut asap lintas batas tahun 2023 di Asia Tenggara. Faktanya, tidak ada kabut asap lintas batas, kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar kepada Associated Press.
Mencari Solusi Bersama
Pemerintah Indonesia telah menutup lahan milik 11 perusahaan yang diduga menyebabkan kebakaran lahan dan hutan di Sumatera Selatan, dan akan mengambil tindakan hukum lebih lanjut. “Kami masih berupaya menangani karhutla di pulau Kalimantan dan Sumatera dengan sebaik-baiknya. Dan gambaran situasi di lapangan sudah melandai, menjadi lebih baik,” kata Siti Nurbaya.
Selain upaya penyemaian hujan yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia dan Indonesia, pemerintah Malaysia juga menyerukan tindakan kolaboratif negara-negara ASEAN untuk memperkuat undang-undang guna mencegah kabut asap. Nik Nazmi bilang, “Saya berharap setiap negara dapat bersikap terbuka untuk mencari solusi karena dampak buruk terhadap perekonomian, pariwisata, dan khususnya kesehatan, sangat besar akibat kabut asap.”
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan