Mengulik Potensi, Perkembangan, dan Implikasi Transisi Energi di Indonesia
(Kiri-Kanan) Faricha Hidayati (IESR), Adam Adiwinata (IRENA), Faisal Basri (ICEF), Gigih Udi Atmo (Kementerian ESDM). | Foto: IESR di YouTube.
Mengurangi emisi karbon sangat penting dalam memitigasi dampak perubahan iklim. Banyak negara, termasuk Indonesia, telah menempuh transisi energi sebagai salah satu jalur utama untuk mencapai target net-zero (nol emisi). Dalam media briefing yang digelar oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) pada 15 September 2023, berbagai hal menyangkut transisi energi di Indonesia dibahas, termasuk persiapan dan implikasinya.
Transisi Energi di Indonesia
Pada tahun 2021, Indonesia berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060. Peta jalan untuk mencapai tujuan ini mencakup rencana peningkatan infrastruktur, pengembangan teknologi energi terbarukan, dan penghentian operasi pembangkit listrik tenaga batu bara. Semua rencana tersebut mesti dikembangkan dan dijalankan tanpa mengorbankan manusia dan planet bumi—istilah ini biasanya disebut transisi energi berkeadilan.
Dalam media briefing tersebut, Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa membuka sesi dengan menyoroti pentingnya upaya dekarbonisasi di sektor ketenagalistrikan. Target dekarbonisasi di sektor ini dianggap mudah dicapai dibandingkan dengan sektor lain seperti industri dan transportasi. Oleh karena itu, keberhasilan transisi energi di sektor ketenagalistrikan sangat penting untuk mempercepat kemajuan transisi energi.
Media briefing IESR mengundang Gigih Udi Atmo, Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM); Adam Adiwinata, konsultan ASEAN Energy Transition Outlook dari International Renewable Energy Agency (IRENA); dan Faisal Basri, ekonom dan anggota Forum Energi Bersih Indonesia untuk membahas perkembangan dan implikasi transisi energi di Indonesia.
Potensi dan Perkembangan
Pada intinya, Indonesia memiliki potensi dan dukungan yang diperlukan untuk mencapai komitmen net-zero. Indonesia memiliki berbagai sumber energi terbarukan untuk mendukung transisi energi, seperti tenaga surya, hidrogen, dan bioenergi. Selain itu, Indonesia juga telah bergabung dengan pendanaan internasional seperti Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (Just Energy Transition Partnerships/JETP), serta telah menetapkan rencana pendanaan nasional melalui Mekanisme Transisi Energi (ETM).
Namun, menurut Gigih Udi Atmo, sumber daya yang melimpah tersebut hanya menyumbang 12,3% dari bauran energi primer Indonesia pada tahun 2022, masih di bawah target tahun ini sebesar 15,7%. Dengan angka tersebut, Indonesia saat ini baru memanfaatkan 0,34% dari total potensi energi terbarukan (3.687 GW), dengan hidrogen, bioenergi, dan panas bumi sebagai tiga jenis energi terbarukan yang paling dominan.
Mengoptimalkan pasokan energi terbarukan dan memaksimalkan efisiensi energi menjadi hal yang penting karena Indonesia berencana mengurangi 93% emisi gas rumah kaca dari 1,9 miliar ton menjadi 129 juta ton pada tahun 2060. Namun, transisi energi merupakan proses yang kompleks dan menantang. Dengan potensi dan dukungan yang dimiliki saat ini, Indonesia masih perlu menunjukkan konsistensi dan komitmen untuk mempercepat transisi energi yang berkeadilan. Hal ini mencakup komitmen terhadap target, kemajuan, dan pendanaan yang jelas dan transparan.
Adam Adiwinata menekankan bahwa Indonesia harus berfokus untuk menciptakan transisi yang adil secara sosial dan lingkungan, meningkatkan keterampilan pekerja melalui peningkatan kapasitas, dan membangun infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas. Menciptakan lingkungan yang mendukung pendanaan dan investasi, kata Faisal Basri, juga penting dalam memastikan dukungan yang efektif untuk transisi energi.
IETD 2023
Media briefing IESR juga menandai penyelenggaraan Dialog Transisi Energi Indonesia (IETD) 2023. Memasuki tahun keenam penyelenggaraannya, IETD tahun ini mengambil tema “Memampukan Percepatan Transformasi Sektor Ketenagalistrikan di Indonesia”.
Diselenggarakan pada 18 hingga 20 September 2023, IETD 2023 mempertemukan para pengambil kebijakan, pemimpin dunia usaha, pakar, dan komunitas untuk bertukar gagasan mengenai transisi energi di Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia, diskusi dan perbaikan berkelanjutan sangat penting untuk mempercepat dan menciptakan transisi energi yang adil.
Simak media briefing selengkapnya di sini.
Informasi lebih lanjut tentang IETD 2023 dapat dipelajari di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan