Sekolah di Singapura Jadi Bangunan Berkelanjutan Nol Emisi
Gambar tiruan Rumah Kaca di Dulwich College Singapore. | Foto: Education in Motion.
Keberlanjutan dalam dunia pendidikan menjadi topik yang sedang hangat. Institusi pendidikan dapat berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan dengan berbagai cara, mulai dari hal-hal yang menyangkut bangunan fisik hingga kurikulum. Di Singapura, The Greenhouse di Dulwich College Singapore menjadi salah satu contoh bangunan berkelanjutan nol emisi dalam dunia pendidikan.
Green Mark Singapura 2021
Bangunan Singapura menyumbang lebih dari 20% emisi karbon negara tersebut. Data tahun 2019 juga mengungkapkan bahwa bangunan di Singapura menyumbang lebih dari sepertiga dari total konsumsi energi. Berangkat dari masalah tersebut, Rencana Hijau Singapura 2030 menetapkan fokus pada ‘bangunan berkelanjutan’, antara lain melalui skema Green Mark 2021.
Green Mark 2021 adalah sertifikasi yang diakui secara internasional yang disesuaikan untuk bangunan hijau (green building) di daerah tropis. Penilaian tersebut dilakukan dengan sistem yang komprehensif dan proses verifikasi pada kinerja energi dan aspek keberlanjutan lainnya – meliputi kesehatan & kesejahteraan, jumlah karbon secara keseluruhan, ketahanan, pemeliharaan, dan kecerdasan.
Kategori ‘bangunan nol bersih’ termasuk dalam Nol Energi (Zero Energy/ZE). Bangunan ZE memasok semua konsumsi energi, termasuk beban steker, dari sumber energi terbarukan. Salah satunya adalah tujuh gedung di Nanyang Technological University Singapore. Pada Mei 2023, The Greenhouse di Dulwich College menambah deretan bangunan hijau di Singapura.
The Greenhouse di Dulwich College
Dulwich College Singapore adalah bagian dari Education in Motion (EiM), sebuah lembaga pendidikan internasional dengan lebih dari 11.000 siswa di lima negara. Hingga tahun 2023, lima sekolah EiM telah menerima sertifikasi bangunan hijau.
Pendiri dan CCO EiM Karen Yung mengatakan, “Kami sangat yakin bahwa sekolah memiliki peran besar — tanggung jawab, bahkan — untuk mendorong agenda keberlanjutan dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik melalui cara beroperasi, dan cara mendidik pikiran anak-anak.”
Bekerja sama dengan DP Architects, The Greenhouse adalah gedung tujuh lantai nol emisi yang akan diluncurkan pada penghujung 2023. Bangunan ini dirancang untuk menghemat energi lebih dari 100% dan mengurangi sekitar 126 ton emisi CO2. Selain sertifikasi Green Mark Zero Energy, gedung ini juga mendapat lencana Kesehatan dan Kesejahteraan, Kecerdasan, dan Pemeliharaan.
Adapun strategi pembangunan berkelanjutan di The Greenhouse meliputi:
- produksi energi terbarukan dengan Bangunan Fotovoltaik Terintegrasi (Building Integrated Photovoltaics/BIPV) dan ubin lantai kinetik;
- efisiensi energi melalui teknologi cerdas dan desain arsitektur yang menurunkan kebutuhan akan pencahayaan buatan dan AC;
- optimalisasi sumber daya dengan menggunakan beton rendah karbon dan kayu daur ulang untuk desain interior serta daur ulang air hujan; dan
- pertimbangan kesehatan dan kesejahteraan melalui penghijauan, elemen alami, dan sensor kualitas udara.
Bangunan Berkelanjutan untuk Semua
Seiring perkembangan pesat wilayah perkotaan, bangunan dibangun dan dibangun kembali. Mengubah cara bangunan beroperasi akan memberikan dampak signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan. Beberapa kota dan negara di seluruh dunia telah mulai menerapkan bangunan nol emisi. Namun, biaya menjadi salah satu tantangan utamanya. Kiranya dengan perkembangan praktik, pengetahuan, dan teknologi, bangunan berkelanjutan dapat segera tersedia untuk semua orang.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat