Langkah Queen Victoria Market menuju Keberlanjutan
Queen Victoria Market, Melbourne, Australia. | Foto oleh Queen Victoria Market.
Dibuka pada tahun 1878, Queen Victoria Market di Melbourne adalah ikon Warisan Nasional Australia. Pasar ini telah bertahan selama 144 tahun dan melalui banyak transformasi—dari era kolonial Melbourne dengan karakteristik pasar metropolitan abad ke-19 hingga pasar bersejarah yang ramai hari ini. Sekarang, pasar ini sedang dalam proses transformasi berikutnya dan tengah melangkah menuju target keberlanjutan.
Menggunakan Tenaga surya
“Panel surya pertama kali diperkenalkan di pasar ini pada tahun 2003 ketika 1.328 panel fotovoltaik dipasang dengan dukungan dari Kota Melbourne – panel ini adalah yang terbesar di belahan bumi selatan pada waktu itu,” kata CEO Queen Victoria Market Stan Liacos.
Pada bulan Agustus, Melbourne menyalakan 650 panel surya di kawasan Queen Victoria Market dan berencana menambah 900 unit lagi dalam beberapa bulan mendatang, yang akan menghasilkan total 900.000 kWh per tahun. Menurut pejabat kota setempat, sistem ini akan mengurangi biaya listrik pasar sebesar $100.000 per tahun.
Rohan Leppert, Penasihat Utama Portofolio Lingkungan, menambahkan, “Pemasangan lebih dari 1.500 panel surya di Queen Victoria Market akan mengurangi 1.300 ton emisi karbon setiap tahun.”
Transformasi menuju energi terbarukan ini merupakan bagian dari Program Pemugaran Queen Victoria Market, yang akan selesai pada akhir tahun 2024.
Minim Sampah
Queen Victoria Market melarang penggunaan kantong dan sedotan plastik sekali pakai pada tahun 2019. Pengunjung membawa tas belanja atau keranjang sendiri, menyewa troli, atau menggunakan kembali kotak kardus dari stasiun Pick-A-Box terdekat. Warung makan di Pasar Malam (Night Markets) juga harus menggunakan piring, peralatan makan, dan sedotan yang dapat terurai secara alami.
Pencapaian keberlanjutan teranyar pasar ini adalah mendaur ulang 80% limbahnya: kardus dan polistirena didaur ulang; sampah potongan tukang daging dan penjual ikan dibuat menjadi makanan hewan peliharaan; dan sampah organik (bubuk kopi, buah, dan sayuran) diubah menjadi energi. Selain itu, pasar tersebut juga memiliki peternakan cacing di tempat yang mengubah sisa-sisa makanan dalam jumlah yang lebih kecil menjadi pupuk yang mengandung nutrisi.
Semua Orang Berperan
Target keberlanjutan Queen Victoria Market adalah menghasilkan nol karbon dan tidak lagi mengirim satu pun sampah ke TPA pada tahun 2027. Untuk pasar besar seluas tujuh hektare dengan lebih dari 600 usaha kecil, ini adalah target yang cukup ambisius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Liacos menyebut bahwa pencapaian tersebut diraih berkat kolaborasi antara fasilitas pemrosesan dan komunitas yang beragam. Misalnya, kemitraan dengan Thrive Refugee Enterprise, yang memilih para pengungsi dan pencari suaka untuk membuka kios mereka sendiri, memberikan peluang bagi pasar untuk menghidupkan kembali hubungan dengan pemilik bisnis imigran.
“Saya menghargai para pedagang dan pengunjung kami yang telah berkontribusi secara individu untuk meminimalkan dampak pasar terhadap lingkungan hingga saat ini. Dari pembeli yang membawa tas dan troli sendiri, hingga pedagang yang meminimalkan sampah dan penggunaan energi. Setiap tindakan kecil turut bersumbangsih,” kata Liacos.
Editor & Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan