Inggris Kucurkan Dana Sisa Pangan Senilai £15 Juta
Foto: Peter F di Unsplash.
Meningkatnya limbah makanan ketika jutaan orang menderita kelaparan sungguh merupakan sebuah ironi yang patut disayangkan. Keadaan ini sekaligus menegaskan kecacatan struktural dalam kehidupan masyarakat. Kini, berbagai upaya dilakukan oleh berbagai pihak di seluruh dunia untuk mengatasi masalah ini. Di Inggris, pemerintah setempat akhirnya mengumumkan rencana terkait dana sisa makanan sebesar £15 juta (sekitar Rp300 miliar) setelah bertahun-tahun janji tersebut urung diwujudkan.
Janji Lama
Jumlah total susut dan sisa pangan global sejatinya cukup untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan di seluruh dunia, bahkan dua kali lipatnya. Namun kenyataannya, sebagian besar dari sisa pangan tersebut tidak dikelola dengan baik, dibuang ke tempat pembuangan sampah dan menghasilkan emisi gas metana yang berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca.
Pemerintah Inggris memperkirakan bahwa setiap tahun, 330.000 ton makanan yang dapat dimakan berakhir menjadi pakan ternak atau terbuang sebelum diangkut dari lahan pertanian. Pada tahun 2018, Menteri Lingkungan Hidup saat itu Michael Gove membuat janji untuk mengucurkan dana sisa pangan. Janji tersebut kembali diumbar pada tahun 2024 oleh Perdana Menteri saat itu Rishi Sunak, tetapi tetap tidak kunjung diwujudkan.
Pada Desember 2024, pemerintah Inggris akhirnya mengumumkan dana sebesar £15 juta (sekitar Rp300 miliar) untuk mendistribusikan kembali kelebihan hasil pertanian kepada warga yang membutuhkan. “Setelah bertahun-tahun berkampanye melalui badan amal distribusi makanan, kami sangat gembira melihat dana ini membuahkan hasil,” kata CEO The Felix Project Charlotte Hill dan CEO FareShare Kris Gibbon-Walsh dalam pernyataan bersama.
Dana Sisa Pangan Inggris
Sektor distribusi ulang makanan di Inggris telah berkembang. Organisasi-organisasi di sektor ini mendistribusikan kembali makanan berlebih—yang tadinya dianggap sampah—dari pertanian ke bank makanan, lembaga amal, dan tempat penampungan tunawisma.
“Setiap tahun, jumlah sisa makanan yang didistribusikan kembali meningkat, tetapi sayangnya kebutuhannya juga meningkat sehingga perlu ditingkatkan. Tahun lalu, 191.000 ton makanan dari pengecer, produsen makanan, sektor perhotelan, dan pertanian Inggris—senilai £764 juta—didistribusikan kembali dengan potensi untuk membuat 450 juta makanan,” terang CEO WRAP Harriet Lamb.
Program ini akan memberikan hibah mulai dari £20.000 (sekitar Rp 399 juta) yang diberikan kepada sektor distribusi ulang makanan nirlaba. Pendanaan tersebut dapat digunakan untuk peralatan baru yang akan membantu mereka mengangkut hasil bumi dalam jumlah besar. Pendanaan tersebut juga dapat mendanai lebih banyak pelatihan bagi staf untuk meningkatkan keterampilan, kualitas, dan efisiensi mereka.
Jika dilaksanakan dengan benar, dana sisa pangan ini akan membantu mengurangi limbah pangan, membantu petani mengurangi biaya pengelolaan sampah, dan mendistribusikan lebih banyak makanan kepada mereka yang paling membutuhkan.
Menuju Ekonomi Sirkular
Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya masalah sampah, Inggris bermaksud untuk beralih ke ekonomi sirkular. Pemerintah Inggris telah membentuk Satuan Tugas Ekonomi Sirkular, yang terdiri dari pelaku industri, akademisi, dan masyarakat sipil dari semua sektor di seluruh penjuru negara. Di sektor pangan, Institute of Grocery Distribution (IGD) dan Waste and Resources Action Programme (WRAP) meluncurkan Peta Jalan Pengurangan Limbah Pangan pada tahun 2018 dan memperbaruinya pada tahun 2023.
Masih banyak yang harus dilakukan—lebih banyak komitmen yang harus dibuat dan lebih banyak janji yang harus dipenuhi. Saat ini, semakin penting untuk terus menuntut tindakan tegas dari pemerintah dan seluruh masyarakat serta memantau pelaksanaan rencana yang ada demi masa depan yang lebih baik untuk semua.
Penerjemah: Abul Muamar
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan