Inggris Luncurkan Biodiversity Net Gain untuk Kendalikan Dampak Proyek Pembangunan
Foto: Maxence Pira di Unsplash.
Selama ini, pembangunan dilakukan dengan mengorbankan alam dan keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya, mulai dari penggunaan bahan bakar fosil hingga pembangunan infrastruktur dan ekspansi wilayah perkotaan. Sebagai upaya untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Inggris meluncurkan Biodiversity Net Gain (BNG), sebuah kerangka kerja yang mengharuskan proyek pembangunan memberikan dampak positif terhadap keanekaragaman hayati. Melalui kerangka kerja ini, habitat spesies liar dan keanekaragaman hayati lainnya harus lebih baik dibandingkan sebelum pembangunan.
Biodiversity Net Gain Inggris
Di bawah kerangka kerja Biodiversity Net Gain (BNG), rencana dan proyek pembangunan di Inggris harus menghasilkan peningkatan nilai keanekaragaman hayati minimal 10% di habitat di lokasi. Dalam penerapannya, proyek harus menyertakan rencana konkret untuk menciptakan manfaat bagi keanekaragaman hayati.
Peningkatan tersebut dapat dicapai melalui tiga pilihan, yaitu menciptakan keuntungan keanekaragaman hayati di dalam lokasi, menciptakan keuntungan keanekaragaman hayati di luar lokasi, atau membeli kredit keanekaragaman hayati. Nilai keanekaragaman hayati dalam konteks ini diukur dalam satuan keanekaragaman hayati yang terstandarisasi dan bergantung pada ukuran, kualitas, lokasi, dan jenis. Kerangka kerja BNG ini menyediakan kalkulator untuk menghitung nilai ini, yaitu alat metrik keanekaragaman hayati berdasarkan hukum.
Kerangka kerja BNG mulai berlaku pada Februari 2024 untuk pembangunan besar dan pada April 2024 untuk pembangunan kecil. Kerangka hukum ini berlaku untuk semua rencana dan proyek dengan beberapa pengecualian, seperti pembangunan yang berkaitan dengan jaringan transportasi kereta api kecepatan tinggi dan pembangunan yang tidak berdampak pada habitat prioritas. Sementara itu, proyek pembangunan infrastruktur yang signifikan secara nasional harus mengikuti kerangka ini mulai akhir November 2025.
Apakah akan Efektif?
“Secara teori, hal ini dapat memulihkan banyak habitat,” kata Natalie Duffus, peneliti biologi dan geografi dari Universitas Oxford yang menganalisis uji coba BNG.
Namun, skema ini tidak terlepas dari kritik dan skeptisisme. Salah satu kekhawatiran yang mencuat adalah kemungkinan alat metrik keanekaragaman hayati tidak berfungsi dengan baik untuk semua satwa liar, terutama serangga. Kekhawatiran lainnya menyangkut masalah kurangnya peraturan lingkungan hidup yang efektif, penegakan hukum yang kuat, dan staf pengatur serta ahli ekologi untuk mengawasi habitat yang dijanjikan.
“Keberhasilan BNG bergantung pada regulasi, pemantauan, dan kebijakan lingkungan hidup yang efektif, namun ketika Anda melihat semua studi kasus kami di masa lalu, jelas terlihat kegagalan penegakan hukum dan kebijakan lingkungan hidup. Anda menerapkan pendekatan baru yang mengandalkan mekanisme yang harus berfungsi, padahal tidak,” kata Tom Oliver, seorang profesor ekologi terapan di Universitas Reading.
Kritik lainnya adalah bahwa peningkatan sebesar 10% saja tidak cukup dan pemerintah Inggris terkesan menggadaikan pembiayaan keanekaragaman hayati sepenuhnya kepada sektor swasta.
Namun, Duffus menyebut kerangka Biodiversity Net Gain Inggris sebagai salah satu skema paling ambisius di dunia. “Banyak pihak mengawasi kami dan melihat bagaimana hal ini bisa berjalan. Jika dilakukan dengan baik, saya pikir hal ini dapat menginspirasi banyak pasar lain untuk berkembang di berbagai negara,” katanya.
Swedia, Singapura, Skotlandia, dan Wales dilaporkan telah berupaya menggunakan BNG untuk mengembangkan skema mereka sendiri.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB