Kemajuan Perusahaan Global dalam Wujudkan Rantai Pasok Bebas Deforestasi dan Konversi
Foto: Renaldo Matamoro di Unsplash.
Planet yang sehat adalah rumah bagi beragam ekosistem yang berperan dengan caranya masing-masing—hutan, sungai, lahan gambut, dan banyak lagi. Namun, selama ini, industrialisasi telah mengancam keberadaan keanekaragaman hayati dan ekosistem. Demi menyelamatkan Bumi dari kerusakan lebih lanjut, dunia industri didesak untuk melakukan transformasi menuju rantai pasok yang lebih berkelanjutan, serta bebas deforestasi dan konversi.
Bebas Deforestasi dan Konversi (DCF)
Pembukaan lahan untuk pertanian menyumbang lebih dari 10% emisi gas rumah kaca dunia dan turut menyebabkan hilangnya sepertiga keanekaragaman hayati secara global. Selain itu, pembukaan lahan juga sering melanggar hak-hak Masyarakat Adat dan komunitas lokal.
Oleh karena itu, penghapusan deforestasi yang didorong oleh pemenuhan permintaan akan komoditas dan konversi ekosistem merupakan hal yang sangat penting. Perusahaan harus mematuhi aturan ini seperti yang disyaratkan oleh inisiatif Target Berbasis Sains (Science Based Targets initiative/SBTi). Rantai pasok bebas deforestasi dan konversi (Deforestation and conversion-free/DCF) juga diatur dalam Konvensi Keanekaragaman Hayati dan sesuai dengan Peraturan Deforestasi Uni Eropa yang mulai berlaku mulai tahun 2025.
Salah satu langkah yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut adalah menerapkan kerangka pengungkapan DCF dengan indikator yang terstandarisasi. Hal ini memungkinkan adanya penilaian yang sebanding dan mudah diinterpretasikan oleh para pemangku kepentingan— termasuk investor, konsumen, dan regulator—sehingga membantu mereka mengambil keputusan yang tepat. Pada tahun 2023, CDP dan AFi (Accountability Framework initiative) menjalin kemitraan untuk mengembangkan kerangka pengungkapan baru mengenai kemajuan perusahaan menuju rantai pasok bebas deforestasi dan konversi.
Laporan Hutan Global 2024 dari CDP
CDP telah mengidentifikasi tujuh komoditas berisiko tinggi, yaitu produk kayu, minyak sawit, kedelai, produk ternak, karet, kakao, dan kopi. Komoditas-komoditas ini menjadi fokus Laporan Hutan Global 2024 oleh CDP, dimana 1.152 perusahaan di seluruh dunia melaporkan pengelolaan deforestasi mereka pada tahun 2023. Perusahaan-perusahaan tersebut berbasis di Eropa (349), Asia (303), Amerika Utara (285), Amerika Latin (191 ), Oseania (13), dan Afrika (11).
Dari seluruh perusahaan tersebut, terdapat 186 perusahaan yang melakukan pengungkapan yang cukup komprehensif dan berkualitas tinggi. Namun, hanya 64 perusahaan (7%) yang mengungkapkan bahwa setidaknya satu dari rantai pasok komoditas mereka 100% bebas deforestasi atau konversi. Sedangkan untuk 27 perusahaan lainnya, tidak sampai 20% total volumenya dilaporkan DCF.
Lebih lanjut, laporan tersebut menemukan bahwa “Perusahaan-perusahaan terkemuka dapat menambahkan dan meningkatkan pengungkapan DCF ke dalam serangkaian praktik baik yang ada untuk mengatasi deforestasi dan konversi hutan dalam rantai pasok mereka.”
Singkatnya, 94% dari 217 pengungkapan berkualitas tinggi yang dilakukan oleh 186 perusahaan menyebutkan bahwa mereka memiliki sistem ketertelusuran. Sedangkan 92% menggunakan sertifikasi pihak ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa memasukkan kebijakan yang diperlukan ke dalam sistem dan strategi dapat membantu perusahaan berkomitmen untuk menghilangkan deforestasi dan konversi ekosistem dalam rantai pasokan mereka.
Mewujudkan Rantai Pasok Berkelanjutan
Transparansi dalam proses pemantauan dan penilaian hanyalah salah satu dari banyak aspek penting dalam mencapai rantai pasok bebas deforestasi atau konversi. Pada akhirnya, diperlukan pendekatan multisektor, multipihak, dan holistik untuk menciptakan jalan menuju produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, laporan ini menawarkan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan pengungkapan DCF perusahaan, seperti:
- Mengkomunikasikan niat perusahaan untuk mencapai rantai pasok yang bebas deforestasi dan konversi, baik secara publik maupun kepada pemasok.
- Memahami kemampuan program sertifikasi untuk menghindari model sertifikasi yang tidak memberikan jaminan status DCF.
Laporan selengkapnya dapat dibaca di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB