Menjadikan Makanan Sehat Terjangkau untuk Semua Orang
Foto: Sam Lion di Pexels.
Lebih dari sekadar kebutuhan dasar, makanan merupakan komponen krusial yang memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Namun, miliaran orang di seluruh dunia tidak mampu membeli makanan sehat. Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu mengulik kebijakan dan cacat struktural yang ada dan mengambil tindakan tegas untuk membuat makanan sehat terjangkau bagi semua orang.
Kemiskinan, Harga, dan Preferensi
KTT Pangan Dunia 1996 mendefinisikan ketahanan pangan sebagai kondisi di mana “setiap orang, kapun pun, memiliki akses fisik dan ekonomi terhadap makanan yang cukup, aman, dan bergizi yang memenuhi kebutuhan dan preferensi makanan masing-masing untuk mencapai kehidupan yang aktif dan sehat.” Namun, Laporan Kebijakan Pangan Global 2024 mengungkap bahwa makanan sehat masih jauh dari jangkauan banyak orang.
Para ahli mengukur biaya makanan sehat dengan menggunakan “kombinasi paling murah dari berbagai jenis makanan lokal yang memenuhi pedoman diet berbasis makanan”. Dengan ukuran ini, lebih dari dua miliar orang di seluruh dunia tidak mampu membeli makanan sehat, dengan sebagian besar tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama Asia Selatan dan Afrika. Namun, penting untuk dicatat bahwa standar ini belum mencakup perihal aksesibilitas dan waktu yang diperlukan untuk mengubah bahan-bahan menjadi makanan yang dapat dikonsumsi. Oleh karena itu, angka sebenarnya mungkin lebih tinggi.
Keterjangkauan merupakan aspek utama dalam menciptakan sistem pangan yang lebih baik untuk semua. Mewujudkan makanan sehat terjangkau bagi semua orang berarti mengatasi kombinasi tiga tantangan: kemiskinan, harga, dan preferensi.
- Kemiskinan: Dengan biaya hidup yang terus meningkat, banyak orang tidak memperoleh penghasilan yang cukup untuk bisa selalu membeli makanan sehat. Selain itu, mekanisme perlindungan sosial saat ini di Asia dan Afrika masih jauh dari cukup untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
- Harga: Kebijakan pertanian dan subsidi konsumen sebagian besar diarahkan pada tanaman pangan pokok dan makanan padat kalori (seperti beras, gandum, gula, dll). Sementara itu, makanan padat nutrisi (buah-buahan, sayur-sayuran, dll.) kurang mendapat dukungan atau bahkan dikenai pajak, sehingga harganya relatif lebih mahal. Faktor lain yang menyebabkan harga tinggi adalah buruknya infrastruktur transportasi, penyimpanan, dan logistik, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
- Preferensi: Permintaan konsumen terhadap gula dan makanan yang bersumber dari hewan lebih tinggi daripada sayur-sayuran dan buah-buahan.
Membuat Makanan Sehat Terjangkau
Laporan tersebut memperkirakan bahwa diperlukan setidaknya $1,3 triliun per tahun untuk menyediakan bantuan tunai bagi lebih dari dua miliar orang di 128 negara agar mereka mampu membeli makanan sehat. Oleh karena itu, diperlukan serangkaian tindakan tegas dan terukur untuk membuat makanan sehat terjangkau. Menurut penulis laporan tersebut, “Diperlukan revolusi dalam cara pandang kita tentang peran mendasar kebijakan pangan dalam menyediakan makanan yang sehat, untuk semua orang, kapan pun.”
Berikut enam rekomendasi yang diberikan oleh laporan tersebut untuk menjadikan makanan sehat terjangkau bagi semua orang:
- Peningkatan pemantauan: Ini mencakup pengumpulan dan analisis data harga makanan serta pemantauan upah dengan berbagai metode survei.
- Pertumbuhan ekonomi yang cepat dan adil: Ekonomi yang berpihak pada masyarakat miskin di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah juga perlu secara signifikan melampaui pertumbuhan populasi.
- Penyelarasan ulang kebijakan dan investasi pertanian: Restrukturisasi kebijakan untuk menjadikan makanan bergizi lebih terjangkau melalui mekanisme keuangan dan diversifikasi pertanian.
- Perbaikan regulasi dan investasi sistem transportasi, infrastruktur, dan logistik: Ini harus mencakup perdagangan domestik dan internasional serta pengembangan bisnis yang efisien di seluruh rantai nilai.
- Perlindungan sosial yang holistik dan sensitif-nutrisi: Khusus di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, cakupan, ukuran, kelengkapan, dan kecukupan nutrisi perlu ditingkatkan bersamaan dengan pendidikan tentang gizi dan pola makan sehat.
- Intervensi double-duty: Sangat penting untuk mengatasi dua sisi risiko malnutrisi—kekurangan gizi serta masalah kelebihan berat badan, obesitas, dan penyakit tidak menular yang terkait dengan pola makan.
Mewujudkan Sistem Pangan Berkelanjutan
Prinsip “Tidak meninggalkan seorang pun di belakang” dalam pembangunan berkelanjutan harus menjadi inti dari seluruh transformasi industri. Di tengah upaya kita dalam mewujudkan sistem pangan berkelanjutan yang tidak membahayakan lingkungan dan generasi mendatang, sangat penting untuk menjadikan makanan sehat terjangkau bagi sebanyak mungkin orang.
“Makanan sehat, yang diperoleh secara berkelanjutan, harus menjadi hak seluruh umat manusia. Untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan planet Bumi, kita harus bersungguh-sungguh mengatasi berbagai tantangan yang menghambat pencapaian tujuan ini, terutama untuk orang-orang yang paling rentan,” kata Direktur Jenderal IFPRI Johan Swinnen.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan