Instrumen Keuangan yang Responsif Gender untuk Ketahanan Perempuan terhadap Bencana
Foto oleh Swastik Arora di Unsplash
Bencana datang tanpa bisa diprediksi. Hari ini, ketika iklim telah berubah dan keanekaragaman hayati berkurang, kita harus siap menghadapi bencana yang bisa datang sewaktu-waktu.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai persiapan untuk menghadapi bencana? Memiliki bantuan keuangan adalah salah satunya. Namun, instrumen keuangan saat ini belum mempertimbangkan kebutuhan dan posisi perempuan dalam masyarakat. Laporan Asian Development Bank (ADB) baru-baru ini mengungkap bagaimana kita dapat membuat instrumen keuangan yang responsif gender untuk meningkatkan ketahanan perempuan di saat bencana.
Risiko bencana bagi perempuan
Bencana sangat berdampak pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Kesenjangan gender di tempat kerja masih berlangsung, dan masih banyak perempuan yang bekerja di sektor informal dengan upah rendah. Laporan tersebut menyebutkan bahwa meskipun jumlah orang yang tidak memiliki rekening bank menurun dari 49% (2011) menjadi 31% (2017), lebih dari setengah akun rekening masih dimiliki oleh laki-laki. Perempuan menyumbang 56% dari semua orang dewasa yang tidak memiliki rekening bank.
Mengapa demikian? Penyebab utamanya antara lain literasi keuangan yang terbatas, sulitnya akses bantuan keuangan, dan kurangnya produk keuangan yang relevan. Tidak memiliki rekening bank atau jasa asuransi membuat perempuan rentan saat bencana datang, padahal rekening bank adalah saluran masuknya dana bantuan. Oleh karena itu, instrumen keuangan yang responsif gender akan membantu meningkatkan ketahanan perempuan terhadap risiko bencana. Laporan tersebut mengusulkan beberapa hal yang dapat membantu mengurangi masalah kesenjangan gender dan mendorong inklusi keuangan.
Instrumen keuangan yang responsif gender
Laporan tersebut menguraikan empat hal terkait instrumen keuangan untuk mengatasi masalah kesenjangan gender:
- Pengurangan risiko
Memfasilitasi perempuan dengan berbagai sumber pendapatan dapat membantu mengurangi risiko bencana. Oleh karena itu, instrumen keuangan perlu mempertimbangkan hal-hal berikut: menerima properti pribadi sebagai jaminan, hanya memerlukan dokumen sederhana, membuat persyaratan pembayaran yang tanggap bencana, dan menerapkan pencairan cepat melalui opsi e-wallet.
- Kesiapsiagaan risiko
Perempuan lebih cenderung menggunakan tabungan mereka untuk keadaan darurat daripada mengambil pinjaman dari bank. Oleh karena itu, produk tabungan untuk perempuan harus berorientasi pada tujuan, hanya membutuhkan setoran kecil dan dokumen sederhana, mudah diakses dan dekat, termasuk program pelatihan, dan tidak membebankan biaya.
- Transfer risiko
Saat terjadi bencana, penyedia asuransi harus mentransfer likuiditas pascabencana untuk perlindungan finansial. Dalam hal ini, merancang produk asuransi untuk perempuan perlu mempertimbangkan aspek keterjangkauan premi, saluran distribusi yang tidak asing bagi perempuan, dan kemungkinan menggabungkan produk dengan fitur lain seperti tabungan dan kredit.
- Pertolongan dan pemulihan
Kredit sangat penting dalam pemulihan pascabencana karena dapat memfasilitasi penataan kembali kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, instrumen keuangan bagi perempuan perlu menyederhanakan proses pendaftaran, mendorong inklusivitas melalui literasi dan pendidikan, menetapkan jangka waktu pembayaran yang tanggap bencana, dan memprioritaskan pencairan pinjaman yang cepat.
Tabungan berbasis digital dan kesiapsiagaan
Berdasarkan keempat hal di atas, laporan ADB menyimpulkan bahwa tabungan dan asuransi untuk jaga-jaga adalah instrumen keuangan yang paling cocok untuk meningkatkan ketahanan perempuan dalam menghadapi bencana. Kesimpulan ini juga didasarkan pada kenyataan bahwa perempuan terbiasa menabung sebagian kecil dari pendapatan mereka untuk tujuan tertentu, yang merupakan sifat dari instrumen keuangan tersebut. Memanfaatkan teknologi digital juga penting dalam meningkatkan aksesibilitas instrumen ini.
Namun, menciptakan instrumen keuangan yang responsif gender harus dipikirkan dengan matang dan membutuhkan partisipasi multi-pemangku kepentingan. Baca laporan lengkapnya untuk memahami rekomendasi tindakan ADB berdasarkan para pemangku kepentingan di sini.
Editor & Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan