Urban Mobility Scorecard untuk Mengukur Mobilitas Kota Berkelanjutan
Foto: José Gasparian di Unsplash.
Wilayah perkotaan umumnya memiliki mobilitas yang tinggi. Saban hari, orang-orang di kota bepergian dari satu tempat ke tempat lain, entah untuk bekerja, menjalani aktivitas sosial, dan mengarungi kehidupan. Untuk mendukung mobilitas tersebut, diperlukan perbaikan sistem transportasi mengingat ruang perkotaan yang semakin padat. Baru-baru ini, Koalisi Mobilitas Baru Global (Global New Mobility Coalition) meluncurkan inisiatif penting untuk mengukur mobilitas kota berkelanjutan di berbagai tempat.
Transformasi transportasi
Transportasi menyumbang 37% emisi CO2 pada tahun 2021. Jalanan kota dipenuhi oleh kendaraan pribadi yang menyebabkan polusi udara dan kemacetan. Di Mumbai, India, hampir 50% jalanan kota dipadati oleh mobil pribadi. Sektor transportasi masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil meski inovasi kendaraan listrik telah bermunculan.
Perhatian terarah pada moda transportasi listrik dalam upaya transisi menuju mobilitas kota berkelanjutan. Kelayakan kendaraan listrik perlu ditingkatkan mengingat potensinya untuk mengurangi emisi dan kemacetan. Sebagai contoh, angkutan umum perlu dilengkapi dengan fasilitas yang inklusif dan aman untuk semua. Urban Mobility Scorecard (UMS) yang diluncurkan oleh Global New Mobility Coalition menyediakan alat untuk menciptakan kota yang sehat bagi masyarakat, lingkungan, dan ekonomi.
Mengenal Urban Mobility Scorecard
Global New Mobility Coalition (GNMC) merupakan inisiatif di bawah naungan World Economic Forum. Urban Mobility Scorecard (UMS) bertujuan untuk membantu kota dalam mengukur dan mempercepat perkembangan mobilitas kota yang berkelanjutan dan inklusif. Alat ukur ini merupakan hasil kolaborasi multistakeholder swasta-publik antara anggota koalisi.
UMS menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kuesioner untuk menilai kemajuan kota dalam transportasi berkelanjutan. Alat ukur ini memiliki beberapa fitur, seperti penilaian mobilitas, pembandingan hasil, pengaturan tindakan, dan sumber daya pendukung. Alat ini juga menampilkan praktik terbaik dari berbagai kota di seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong tindakan dari sektor publik dan swasta.
Alat UMS beroperasi berdasarkan tiga pilar: tata kelola, ketahanan, dan konektivitas. Dalam COP27, GNMC mengumumkan masa percobaan UMS bekerja sama dengan tiga kota: Buenos Aires, Curridabat, dan Singapura. Uji coba menghasilkan gambaran terperinci pertama dari UMS ke dalam kemajuan keberlanjutan saat ini di setiap kota. Pada Maret 2023, GNMC mengadakan diskusi sebagai ruang dialog publik-swasta dan kolaborasi untuk mengatasi masalah yang ditemukan selama pertemuan.
Meningkatkan mobilitas kota berkelanjutan
Melalui diskusi, evaluasi, dan uji coba, GNMC mengidentifikasi delapan prioritas utama yang perlu ditangani untuk mempercepat transisi menuju mobilitas yang lebih berkelanjutan dan inklusif:
- Mengatasi kebutuhan pendanaan dan menjajaki investasi publik-swasta
- Kolaborasi infrastruktur, investasi, dan regulasi untuk mobilitas listrik
- Menyampaikan aksi bersama lintas kota, wilayah, dan sektor swasta
- Merangkul teknologi dan mode baru, disertai dengan regulasi yang tepat
- Menghubungkan mobilitas bersama dan aktif untuk membuka multimodalitas yang lancar
- Mengutamakan aksesibilitas dan pemerataan di pusat perencanaan mobilitas
- Mengelola dan memanfaatkan data untuk menginformasikan tindakan dan menggabungkan solusi baru
- Menyelaraskan antara aktor publik dan swasta perihal siapa yang memberikan layanan dan infrastruktur
Pada akhirnya, kunci mobilitas kota berkelanjutan adalah kolaborasi publik-swasta. Saat ini, GNMC sedang menjajaki kemitraan dengan kota-kota lainnya. Kota-kota diajak untuk menggunakan alat UMS untuk menilai perkembangan keberlanjutan mereka dan mengambil tindakan lebih lanjut untuk meningkatkannya.
Dokumen lengkap tentang Urban Mobility Scorecard dapat dibaca di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan