Memikirkan Kembali Kebijakan Agropangan untuk Pola Makan Sehat bagi Semua Orang
Foto oleh Maarten van den Heuvel di Pexels.
Kita telah melalui banyak hal dalam beberapa tahun terakhir ini. Pandemi COVID-19, konflik, dan perubahan iklim telah menghambat sedikit kemajuan yang telah kita buat untuk mewujudkan dunia tanpa kelaparan.
FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) baru-baru ini merilis laporan tentang Keadaan Ketahanan Pangan dan Gizi di Dunia 2022. Menurut laporan tersebut, sekitar 702-828 juta orang di seluruh dunia mengalami kelaparan pada tahun 2021, dengan lebih dari setengahnya di Asia.
Selain itu, hampir 2,3 miliar orang mengalami kerawanan pangan sedang atau parah, kekurangan akses pangan rutin yang memadai. Dari segi nutrisi, keadaannya lebih buruk. Hampir 3,1 miliar orang tidak mampu membeli makanan yang sehat dan seimbang pada tahun 2020 berdasarkan data terakhir.
Dukungan Kebijakan Pangan dan Pertanian yang Tidak Tepat
Krisis saat ini terus menyebabkan kenaikan harga pangan dan gangguan rantai pasokan. Ditambah lagi, dukungan kebijakan yang tidak tepat memperburuk keadaan.
Dari tahun 2013-2018, pemerintah di seluruh dunia rata-rata mengalokasikan hampir USD 630 miliar per tahun untuk sektor pangan dan pertanian. Namun, bentuk dukungan mereka sebagian besar telah mengganggu harga pasar, merusak lingkungan, dan merugikan produsen skala kecil dan masyarakat adat. Kebijakan yang ada juga gagal menyediakan pola makan yang sehat bagi semua orang.
Kebijakan yang ada umumnya mencakup intervensi perdagangan dan pasar yang menghasilkan insentif atau disinsentif harga, subsidi fiskal, dan dukungan layanan umum. Secara keseluruhan, dukungan negara-negara tersebut terutama berkonsentrasi pada makanan pokok, susu, dan makanan kaya protein hewani lainnya dan sebagian besar mengabaikan atau bahkan menghukum produksi buah-buahan dan sayuran.
Singkatnya, laporan tersebut mengungkapkan bahwa dukungan kebijakan saat ini dari pemerintah negara-negara di dunia menghambat keragaman dalam pertanian dan produksi pangan. Kurangnya diversifikasi pangan ini tidaklah berkelanjutan (unsustainable)—berbahaya bagi planet dan gagal memberikan pola makan yang sehat dan bergizi kepada manusia.
Lebih Baik, Tidak Lebih
Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar pemerintah dunia tidak mampu mengalokasikan lebih banyak uang untuk mendukung sektor pangan dan pertanian, FAO membagikan beberapa masukan untuk perbaikan. Tidak mustahil untuk menggunakan anggaran yang sama dan mengalokasikannya kembali untuk menyediakan makanan sehat yang lebih terjangkau, mudah diakses, berkelanjutan, dan inklusif.
Mengatur ulang subsidi fiskal, tindakan perbatasan, dan kontrol harga pasar merupakan bagian terbesar dari strategi tersebut. Namun, pembuat kebijakan harus memperhatikan potensi dalam pengurangan kemiskinan, pendapatan pertanian, total hasil pertanian, dan pemulihan ekonomi. Mereka harus siap dengan berbagai kebijakan perlindungan sosial di bidang lingkungan, sistem kesehatan, energi, dan sektor lainnya.
Namun, strategi ini tidak bisa berdiri sendiri. Pemangku kepentingan harus secara aktif memperkenalkan makanan yang sehat dan memberdayakan konsumen untuk memilih pola makan yang sehat. Misalnya membuat kebijakan reformulasi dan fortifikasi makanan, mengatur pelabelan dan pemasaran makanan, mengenakan pajak makanan padat energi, dan pengadaan makanan publik yang sehat.
Tentunya, kolaborasi sangat penting. Pemerintah harus secara erat melibatkan UKM, kelompok masyarakat sipil, dan organisasi global untuk menyeimbangkan kekuatan yang tidak setara di sektor pertanian dan pangan. Untuk membantu mencapai hal ini, PBB membentuk Koalisi untuk Menggunakan Kembali Dukungan Publik untuk Pangan dan Pertanian dengan organisasi internasional, organisasi nirlaba, pemerintah, petani, dan organisasi lainnya.
Laporan selengkapnya dapat dibaca di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan