Perkebunan Karet Sebabkan Deforestasi Signifikan di Asia Tenggara
Foto: Isuru di Unsplash.
Secara umum, perkebunan karet menyajikan pemandangan yang menarik: deretan pohon yang ramping dan tinggi tertata rapi memberikan keteduhan dari sinar matahari. Namun, kita sering lupa bahwa banyak perkebunan karet telah menggantikan hutan alami. Sebuah penelitian mengungkap gambaran yang lebih akurat tentang bagaimana perkebunan karet di Asia Tenggara telah menyebabkan deforestasi secara signifikan.
Perkebunan Karet dan Deforestasi
Karet merupakan bahan yang dihasilkan dari getah pohon karet (Hevea brasiliensis). Pada akhir abad ke-19, tanaman ini diperkenalkan dari Amerika Selatan ke Asia Selatan dan Asia Tenggara, yang menandai dimulainya industri karet di wilayah tersebut. Menurut data terbaru FAO, Asia Tenggara kini memproduksi 90% karet alam global.
Selain getahnya, pohon karet terkadang dimanfaatkan untuk kayu karetnya. Secara tradisional, kayu karet digunakan sebagai bahan bakar pengolahan karet, industri baja, pengawetan tembakau, dan pembuatan batu bata.
Secara global, setidaknya 90% deforestasi tropis berkaitan dengan pertanian, seperti produksi daging, minyak sawit, kedelai, kopi, kakao, dan karet alam. Deforestasi ini biasanya dipetakan menggunakan citra satelit, namun hal ini jarang terjadi dan sulit dilakukan.
Untuk karet alam, pemetaan yang akurat sangatlah sulit karena 85% produsen karet adalah petani kecil dengan perkebunan kecil yang sulit dideteksi. Selain itu, penampakan visual udara perkebunan karet mirip dengan hutan alam.
Gambaran yang Lebih Akurat
Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Royal Botanic Garden Edinburgh menunjukkan tingkat deforestasi yang berkaitan dengan perkebunan karet di Asia Tenggara. Para peneliti menggunakan citra Sentinel-2 resolusi tinggi (dengan resolusi spasial 10 m) dan komputasi awan untuk memetakan perkebunan karet di seluruh wilayah pada tahun 2021. Mereka juga meninjau lebih dari 100 studi kasus.
Antje Ahrends, penulis senior penelitian ini, mengatakan, “Dengan 70% hasil karet alam dunia ditujukan untuk pembuatan ban, permintaan tidak akan berkurang. Ancaman yang ditimbulkannya terhadap keanekaragaman hayati tidak boleh dianggap remeh. Selain itu, meskipun sebagian besar ditanam oleh petani kecil yang berpotensi mendukung mata pencaharian, karet juga berkaitan dengan perampasan lahan dan pelanggaran hak asasi manusia di beberapa negara.”
Berdasarkan penelitian, terdapat 14,2 juta hektare perkebunan karet dewasa di Asia Tenggara pada tahun 2021. Lebih dari 70% berada di Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Selain itu, lebih dari 1 juta hektare lahan di antaranya berada di Kawasan Keanekaragaman Hayati Utama.
Terkait deforestasi, penelitian tersebut memperkirakan bahwa 4,1 juta hektare hutan telah berubah menjadi perkebunan karet antara tahun 1993 dan 2016, yang berarti setidaknya dua atau tiga kali lebih tinggi dari angka yang banyak digunakan untuk menetapkan kebijakan.
Mengatur Perkebunan Karet di Asia Tenggara
Karet alam masih lebih disukai dibandingkan alternatif sintetisnya, yang berasal dari minyak mentah dan lebih berbahaya bagi lingkungan. Sementara karet alam merupakan sumber daya terbarukan yang memberikan manfaat bagi petani kecil.
Karena permintaan akan karet alam diperkirakan akan terus meningkat, para peneliti menyerukan para pembuat kebijakan untuk memberikan perhatian lebih terhadap produksi karet dalam kebijakan dalam negeri, perjanjian perdagangan, dan undang-undang uji tuntas. Mereka juga merekomendasikan kehati-hatian dan pertimbangan bagi petani kecil yang merupakan bagian terbesar dari industri ini ketika melakukan hal tersebut.
Baca penelitian selengkapnya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest