Kesenjangan Digital pada Era Internet
Foto oleh DS stories di Pexels.
Tahukah Anda bahwa internet modern ‘lahir’ pada 1 Januari 1983? Perkembangannya dimulai beberapa dekade sebelumnya, dan pertumbuhannya sangat fenomenal. Pada 1990-an, hanya ada beberapa juta pengguna internet. Saat ini, hampir lima miliar dari kita di seluruh dunia terhubung melalui internet. Namun, sekitar sepertiga umat manusia tetap offline.
Konektivitas Universal dan Bermanfaat
International Telecommunication Union (ITU) adalah badan khusus PBB untuk teknologi informasi dan komunikasi. Laporan Konektivitas Global 2022 ITU memberikan wawasan tentang hubungan dunia dengan internet.
Tujuan baru untuk tahun 2030, yang ditetapkan oleh ITU dan Utusan Teknologi PBB, adalah konektivitas universal dan bermanfaat. Tujuan tersebut memungkinkan pengalaman online yang aman, memuaskan, memperkaya, produktif, dan terjangkau untuk semua orang. Namun, penilaian ITU mengatakan kita masih jauh dari konektivitas universal dan bermanfaat.
Kesenjangan Digital
Pandemi COVID-19 telah menyebabkan pertumbuhan konektivitas yang luas, tetapi juga telah memperlebar kesenjangan digital secara global. Bagaimana pun, kita semakin terhubung sekaligus terbagi.
Laporan tersebut mengungkap bahwa kesenjangan cakupan global saat ini sebesar 5%, tetapi kesenjangan penggunaan jauh lebih tinggi. Sekitar 32% orang yang secara teknis seharusnya dapat online, justru tidak offline karena faktor biaya, kurangnya akses perangkat, atau kurangnya keterampilan digital dan literasi. Sementara itu, banyak orang online berjuang untuk memanfaatkan internet dengan baik.
ITU menganalisis berbagai pemangku kepentingan dan lima pendukung konektivitas: infrastruktur, perangkat, keterjangkauan, keterampilan, serta keselamatan dan keamanan. Hasilnya, ada lima kesenjangan digital yang terungkap dalam laporan tersebut:
- Kesenjangan pendapatan: Tingkat penggunaan internet di negara-negara berpenghasilan rendah (22%) tetap jauh lebih rendah daripada di negara-negara berpenghasilan tinggi (91%).
- Kesenjangan perkotaan-pedesaan: Ada dua kali lebih banyak pengguna internet di daerah perkotaan daripada di daerah pedesaan.
- Kesenjangan gender: Secara global, 62% pria online, sedangkan perempuan 57%.
- Kesenjangan generasi: Sekitar 71% anak muda (berusia 15-24) online, sementara populasi lainnya yang online hanya 57%.
- Kesenjangan pendidikan: Hampir di mana-mana data tersedia, semakin tinggi pendidikan maka semakin banyak penggunaan internet.
“Dengan digital sebagai jantung pembangunan sosial-ekonomi dan kemakmuran setiap negara saat ini, tidak dapat diterima bahwa sebagian besar umat manusia tetap terkecualikan secara digital,” kata Doreen Bogdan-Martin, Direktur Biro Pengembangan Telekomunikasi ITU.
Menjembatani Kesenjangan
Laporan ini juga memaparkan cara untuk menjembatani kesenjangan digital menuju konektivitas universal dan bermanfaat. Laporan itu menyarankan untuk menciptakan cakupan, kualitas, dan keterjangkauan yang lebih baik dengan memperluas jaringan broadband, menawarkan dukungan keuangan, dan meningkatkan kebijakan.
Selain itu, menyosialisasikan literasi digital dan mendorong keamanan penggunaan juga sangat penting. Pelanggaran privasi, misinformasi, konten berbahaya, pelecehan, dan penggunaan berlebihan adalah ancaman nyata yang harus diatasi. Lebih lanjut, pemangku kepentingan perlu memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak perempuan, difabel, lanjut usia, masyarakat adat, dan mereka yang berpenghasilan rendah dan tinggal di daerah terpencil.
“Akses teknologi digital yang adil bukan hanya tanggung jawab moral. Ini penting untuk kemakmuran dan keberlanjutan global,” kata Sekretaris Jenderal ITU Houlin Zhao. “Kita perlu menciptakan kondisi yang tepat, termasuk mempromosikan lingkungan yang kondusif untuk investasi, untuk memutus mata rantai eksklusi dan membawa transformasi digital bagi semua orang.”
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut