Membuka Potensi Kepala Sekolah sebagai Agen Perubahan
Foto: Freepik.
Pendidikan adalah kunci yang membentangkan kehidupan. Sebagai fondasi bagi kemajuan, pendidikan memiliki kekuatan untuk mencapai perubahan dalam satu generasi. Namun, sistem pendidikan yang ada saat ini masih memiliki potensi yang belum dimanfaatkan sebagai agen perubahan. Kepala sekolah, khususnya, memiliki peran penting dalam mendorong transformasi sistem pendidikan.
Potret Pendidikan Global saat Ini
Saat ini, jumlah siswa di dunia semakin banyak. Menurut Laporan Pemantauan Pendidikan Global 2024, lebih dari 110 juta anak-anak dan remaja terdaftar di sekolah. Meskipun demikian, sistem pendidikan di seluruh dunia masih menghadapi masalah kekurangan guru, akses yang terbatas, kesenjangan gender, kurangnya inklusivitas, dan berbagai masalah lainnya.
Setelah hampir satu dekade, jumlah anak-anak dan remaja yang putus sekolah hanya berkurang sebesar 1%. Sekitar 251 juta anak-anak dan remaja masih belum bersekolah, dan kesenjangan pendidikan di berbagai negara masih terlihat jelas. Di negara-negara kaya, jumlah siswa yang putus sekolah hanya 3%; sementara di negara-negara miskin mencapai 33%.
Kesenjangan pendanaan juga mengkhawatirkan. Negara-negara berpenghasilan rendah hanya menghabiskan $55 per pelajar setiap tahun, sementara negara-negara berpenghasilan tinggi menghabiskan $8.543 per pelajar.
Lebih lanjut, literasi juga sedang dalam keadaan darurat. Diperkirakan, 40% anak usia sekolah dasar di seluruh dunia tidak memiliki keterampilan membaca dasar. Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar satu dari tujuh remaja dan orang dewasa juga tidak memiliki keterampilan literasi dasar.
Selain itu, serangan yang meluas terhadap siswa, guru, dan lembaga pendidikan menimbulkan ancaman serius terhadap hak asasi manusia fundamental, termasuk hak atas pendidikan yang berkualitas.
Kepemimpinan dalam Pendidikan
Pemimpin yang baik dapat membantu membawa perubahan transformatif ke lembaga dan komunitas mereka. Di sekolah, ada kepala sekolah dan orang-orang yang memegang posisi tanggung jawab. Ada kebutuhan kritis bagi mereka untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan di seluruh dunia.
“Pemimpin sekolah yang efektif akan mendorong yang terbaik dalam diri para guru, yang pada gilirannya memberikan pelajaran terbaik. Pemimpin sekolah juga merupakan tokoh kunci dalam memastikan bahwa lingkungan sekolah aman dan inklusif, bebas dari kekerasan dan perundungan. Tanggung jawab yang mereka pikul berat,” kata Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay. “Untuk alasan ini, sangat penting untuk memastikan bahwa mereka diseleksi dengan baik, dilatih, dipercaya, dan didukung sepanjang karier mereka.”
Lebih lanjut, Azoulay mengatakan, “Banyak pemimpin dalam pendidikan yang bersemangat dalam pekerjaan mereka dan berdedikasi untuk membuat perbedaan di lapangan, tetapi sistem yang kaku menghambat perjuangan mereka. Dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengerahkan potensi terbaik, kita dapat membawa energi baru ke dalam sistem pendidikan dan menginspirasi generasi muda yang pengalaman sekolahnya dapat membentuk pandangan mereka tentang kepemimpinan.”
Realitas dan Tantangan bagi Kepala Sekolah
Namun, membangun kepemimpinan yang kuat dalam sistem pendidikan bukanlah perkara mudah. Di tingkat kebijakan, para pengambil keputusan harus mengidentifikasi, mempersiapkan, dan mendukung orang-orang dengan keterampilan dan visi yang tepat sebagai pemimpin.
Laporan tersebut menyoroti empat dimensi penting kepemimpinan yang harus dikembangkan: menetapkan harapan, fokus pada pembelajaran, mendorong kolaborasi, dan mengembangkan manusia. Namun, hanya seperlima dari program persiapan dan pelatihan untuk kepala sekolah di seluruh dunia yang berfokus pada empat dimensi tersebut—sementara itu, hampir setengahnya hanya berfokus pada satu dimensi.
Selain itu, kepala sekolah seringkali kekurangan waktu dan kesempatan untuk menjalankan fungsi kepemimpinan instruksional. Sebuah survei terhadap kepala sekolah di 14 negara berpenghasilan menengah mengungkapkan bahwa 68% waktu mereka tersita oleh tugas-tugas manajemen rutin.
Kesenjangan gender juga masih menjadi kendala. Laki-laki memiliki lebih banyak kesempatan untuk memimpin sekolah, dengan hanya 11% negara yang memiliki langkah-langkah untuk memastikan keberagaman gender dalam proses rekrutmen.
Memberdayakan Kepala Sekolah sebagai Pemimpin
Laporan Pemantauan Pendidikan Global 2024 menawarkan beberapa rekomendasi untuk memberdayakan dan mendukung kepala sekolah. Dengan sinergi dari pemangku kepentingan yang relevan di seluruh sistem pendidikan, hal ini dapat membuka potensi mereka sebagai agen perubahan.
Rekomendasi pertama adalah menciptakan kondisi yang dibutuhkan bagi kepala sekolah untuk memaksimalkan fungsinya. Ini melibatkan pemberdayaan mereka melalui pemberian otonomi yang memadai—diimbangi dengan akuntabilitas—untuk mengelola sumber daya keuangan dan manusia di sekolah yang mereka pimpin. Mereka juga harus mampu membuat keputusan terkait pengajaran dan pembelajaran.
Kedua, laporan tersebut menekankan pentingnya berinvestasi dalam profesionalisasi kepala sekolah. Laporan tersebut mencatat bahwa guru terbaik belum tentu menjadi kepala sekolah terbaik. Jadi, penting untuk memiliki proses rekrutmen kepala sekolah yang terbuka, kompetitif, dan inklusif.
Ketiga, program pelatihan dan persiapan sangat penting. Hampir setengah dari kepala sekolah di negara-negara kaya tidak menerima pelatihan apa pun sebelum memangku jabatan kepemimpinan mereka. Seperempat dari mereka bahkan tidak memiliki pelatihan yang memadai dalam skil-skil praktis seperti literasi digital, manajemen keuangan, dan penggunaan data.
Keempat, laporan tersebut juga menyarankan untuk menetapkan standar kompetensi kepemimpinan sekolah nasional. Kinerja kepala sekolah harus dinilai berdasarkan standar-standar ini. Kemudian, umpan balik, rekomendasi, penilaian, dan sertifikasi dapat menjadi langkah selanjutnya berdasarkan hasil.
Mendorong Kepemimpinan Bersama
Pada akhirnya, sangat penting untuk berbagi fungsi kepemimpinan di sekolah. Kepala sekolah perlu memanfaatkan komite sekolah, guru, dan bahkan dewan siswa sebagai mitra kolaboratif dalam konsultasi dan keterlibatan.
“Hubungan kolaboratif seperti itu akan memperkuat tata kelola, meningkatkan pengambilan keputusan, meningkatkan akuntabilitas, dan menumbuhkan lingkungan yang inklusif dan tangguh,” demikian menurut laporan tersebut. “[Lingkungan seperti ini] akan memberdayakan guru untuk memimpin di dalam kelas, mendidik siswa untuk menjadi pemimpin yang aktif bersama teman-teman mereka, dan mendorong orang tua serta anggota masyarakat untuk terlibat.”
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan