Blended Finance sebagai Alternatif Pembiayaan UMKM
Foto: Innovative Financing Lab.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus meningkat. Kampanye dan hashtag #dukungUMKM lantas muncul mengiringinya. Namun, UMKM masih membutuhkan sistem pendukung untuk meningkatkan ketahanan keuangan di masa krisis seperti pandemi COVID-19. Ringkasan kebijakan yang diterbitkan oleh Innovative Financing Lab (IFL) mengusulkan pembiayaan campuran (blended finance) sebagai solusi alternatif untuk masalah ini.
Sumbangsih UMKM
Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat bahwa UMKM menyumbang 50% dari PDB sektor swasta di negara-negara berpenghasilan tinggi dan 40% di negara berkembang. UMKM juga menyerap lebih dari setengah jumlah tenaga kerja sektor swasta secara global.
Meskipun kontribusinya sangat besar, potensi UMKM masih belum dicapai secara optimal. Para pelaku UMKM kerap menghadapi tantangan yang membuat mereka rentan terhadap guncangan, terutama menyangkut keuangan. Pada April 2023, Innovative Financing Lab di bawah UNDP, menerbitkan ringkasan kebijakan dalam acara “Pemaparan Program-Program yang Responsif Gender dan Peluncuran Laporan” di Jakarta.

Blended Finance untuk Memperluas Akses Keuangan bagi UMKM
Ada banyak kendala keuangan yang kerap dihadapi oleh UMKM, di antaranya kesenjangan informasi dan lemahnya kerangka peraturan. Blended finance merupakan strategi pembiayaan yang tidak hanya melibatkan donor konvensional dan bank. Blended finance juga mencakup filantropi, keuangan syariah, dan masyarakat sebagai individu melalui urun dana (crowdfunding), pendapatan tetap (pasar obligasi), bursa saham (pasar modal), dan kontribusi zakat (donasi sosial).
Ringkasan kebijakan tersebut memaparkan empat rekomendasi untuk memperluas solusi pembiayaan yang akan meningkatkan produktivitas, daya saing, dan ketahanan jangka panjang UMKM. Berikut rekomendasinya:
- Meningkatkan Akses Keuangan
Untuk usaha kecil, bank konvensional, kredit, investasi, dan instrumen lainnya terlalu rumit, memakan waktu, dan penuh hambatan. Menggunakan modal katalis untuk meningkatkan akses alternatif seperti sumber filantropi dan investasi sektor swasta dapat membantu.
- Membangun Ekosistem untuk UMKM
Ekosistem kolaboratif yang terdiri dari bank, LSM, donor dan penyedia dana, pemerintah, dan perusahaan sosial sangat penting untuk mengembangkan UMKM. Ekosistem ini dapat memanfaatkan kemampuan yang ada, sumber daya eksternal (sehingga mengurangi biaya sendiri), berbagi risiko, dan memungkinkan intervensi untuk hidup mandiri.
- Meningkatkan Infrastruktur Digital
Digitalisasi dan otomatisasi akses pembiayaan bagi UMKM melalui platform marketplace akan memudahkan mereka mengakses kredit. Selain itu, digitalisasi juga dapat mengaktifkan metodologi evaluasi kredit alternatif sehingga lebih mudah mendapatkan pinjaman. Pada saat yang sama, langkah-langkah kebijakan diperlukan untuk mencegah penipuan keuangan digital dan risiko scam.
- Menjembatani Kesenjangan Kapasitas dan Informasi
Tanpa literasi digital yang memadai, digitalisasi justru akan memperlebar kesenjangan kapasitas dan informasi. Peningkatan kapasitas pada sisi permintaan dan penawaran keuangan sangat penting. Tindak lanjut dapat mencakup pengadaan kursus tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), mendorong proyek transformatif, dan menetapkan contoh bisnis untuk produk baru yang tidak berisiko.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan