Mengatasi Emisi Pertanian di Kawasan Mekong Besar
Foto: Zinko Hein di Unsplash.
Pertanian merupakan sumber pangan terbesar di dunia. Pengolahan tanah untuk pertanian dan memelihara hewan ternak merupakan sumber pendapatan penting bagi banyak orang, termasuk penduduk yang tinggal di Sub-kawasan Mekong Besar. Pada saat yang sama, penting untuk mengatasi emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian merupakan salah satu penyumbang utama. Lantas, apa saja hambatan dalam mengatasi emisi pertanian di negara-negara di kawasan Mekong Besar?
Emisi Pertanian di Kawasan Mekong Besar
Sungai Mekong mengalir hampir 5.000 km dari Dataran Tinggi Tibet dan melewati enam negara, yakni Tiongkok, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Sungai ini menghasilkan hingga 25% tangkapan air tawar global, menjadikannya perikanan darat terbesar di dunia. Sungai Mekong juga merupakan rumah bagi populasi lumba-lumba Irrawaddy (pesut) yang tersisa.
Sementara itu, pertanian juga penting bagi wilayah ini. Menurut data FAO, negara-negara Mekong Raya memproduksi sekitar 40% beras dunia pada tahun 2021. Pertanian di kawasan ini juga mencakup peternakan dan budidaya tanaman utama seperti singkong dan tebu.
Namun, emisi pertanian di kawasan ini juga menjadi sorotan. Pada tahun 2020, aktivitas di sektor pertanian saja menyumbang 1-3% emisi gas rumah kaca global. Tiga sumber utama tersebut adalah budidaya padi (25%), peternakan (23%), dan penggunaan pupuk sintetis (15%).
Meskipun jumlahnya tidak besar, emisi pertanian dari negara-negara Mekong Raya tidak mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, jumlah tersebut kemungkinan akan meningkat di masa depan. Yang mengkhawatirkan, sebagian besar emisi tersebut adalah metana dan dinitrogen oksida, yang memiliki potensi pemanasan jauh lebih tinggi dibandingkan CO2 dalam jangka panjang.
Transformasi Pertanian Rendah Emisi Menemui Hambatan
Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Stockholm Environment Institute (SEI) mengidentifikasi sejumlah hambatan yang dihadapi negara-negara Mekong Raya dalam melakukan transformasi menuju pertanian rendah emisi:
- Jutaan orang di kawasan ini mengalami kerawanan pangan, sehingga meningkatkan tekanan terhadap produksi pangan lokal, khususnya pertanian.
- Beberapa praktik pertanian berakar pada tradisi dan adat istiadat setempat, sehingga masyarakat cenderung tidak mencoba alternatif lain yang tidak memiliki fungsi sosio-kultural.
- Kesenjangan pengetahuan akibat kurangnya bukti kuat mengenai dampak inovasi rendah emisi terhadap kondisi setempat. Sejauh ini, bukti dan studi kasus yang ada sebagian besar berasal dari negara-negara Utara dan Tiongkok.
- Banyak petani tidak memiliki jaring pengaman finansial untuk bisa bereksperimen dengan teknologi dan praktik baru rendah emisi dan berisiko mengalami kerugian panen.
- Kebanyakan petani tidak memiliki kapasitas – mulai dari pelatihan dan informasi – untuk mengadopsi alternatif rendah emisi sesuai skala dan anggaran mereka.
- Secara struktural, sebagian besar petani di wilayah ini merupakan petani kecil. Dengan luas 70–80% lahan pertanian yang kurang dari 2 hektare, sulit untuk mencapai skala yang diperlukan untuk sebagian besar inovasi alternatif.
- Dalam hal kebijakan, sebagian besar pemerintah di kawasan ini tidak memiliki target yang cukup ambisius dan dapat diverifikasi serta tidak memiliki strategi terperinci untuk mengatasi emisi pertanian dan transisi menuju sektor pertanian rendah emisi.
- Hambatan kebijakan lainnya adalah kurangnya dukungan khusus seperti hibah dan subsidi untuk mendorong dan memberi insentif untuk alternatif rendah emisi di bidang pertanian.
Emisi Pertanian di Mekong Besar
Terdapat beberapa teknologi, praktik, dan inovasi yang dapat mendukung transisi menuju pertanian rendah emisi di negara-negara Mekong Besar. Namun, kurangnya kebijakan yang kuat dan dukungan struktural menghalangi penerapannya dalam skala besar.
Laporan tersebut merekomendasikan agar kesenjangan pengetahuan dijembatani dengan mendanai penelitian spesifik wilayah yang mempertimbangkan konteks lokal, tanah, tanaman, hewan, dan masyarakat di Mekong Raya. Selain itu, laporan tersebut juga menyarankan untuk mengatasi kesenjangan kapasitas melalui jaringan pembelajaran inklusif di mana masyarakat dapat berbagi praktik terbaik dan pembelajaran di antara sesama dan antar pemangku kepentingan.
Pemerintah dapat lebih ambisius dalam mencapai target dekarbonisasi. Tujuan ini harus disertai dengan peningkatan dukungan ekonomi, seperti mengarahkan keringanan pajak, subsidi, dan hibah pada praktik pertanian rendah emisi dan menjauhi sektor dan praktik yang tinggi emisi. Rekomendasi lainnya adalah menciptakan mekanisme pendanaan inklusif dan jaring pengaman sehingga petani kecil di Mekong Raya lebih tertarik untuk mencoba alternatif baru.
Transisi menuju sektor pertanian yang adil, inklusif, dan rendah emisi dapat dicapai di negara-negara Mekong Raya. Upaya yang diperlukan dimulai dari mengatasi hambatan yang ada dan menerapkan kerangka kebijakan yang kuat hingga membuat inovasi dan mengubah perilaku konsumen. Strategi-strategi ini memerlukan kolaborasi lintas sektor multidisiplin antara pemerintah, perusahaan besar, petani kecil, dan masyarakat sipil.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit