GSDR 2023: Pentingnya Pengembangan Kapasitas untuk Pembangunan Berkelanjutan
Laporan Pembangunan Berkelanjutan Global (GSDR) 2023.
Jika Anda bertanya apakah dunia sedang bergerak mundur, jawabannya adalah ya—setidaknya di beberapa bidang. Di tengah upaya mencapai Tujuan Global pada tahun 2030, Laporan Pembangunan Berkelanjutan Global (GSDR) 2023 memberikan informasi terkini mengenai perkembangan yang telah dicapai. Laporan ini juga menyoroti transformasi penting yang kita perlukan, salah satunya pengembangan kapasitas. Lantas, bagaimana kita dapat mempercepat pengembangan kapasitas untuk pembangunan berkelanjutan?
Kondisi Dunia Saat Ini
“Pembatasan kegiatan karena pandemi menunjukkan adanya kesenjangan dalam perlindungan sosial dan pemberian layanan di semua negara, memperparah kesenjangan yang ada dan membuat kelompok rentan semakin tertinggal. Mata pencaharian terganggu dan kesejahteraan pun menjadi terganggu. Walaupun kini mulai memasuki pemulihan, namun keadaan masih rapuh dan timpang. Dan krisis biaya hidup yang diakibatkan oleh konflik dan perpecahan geopolitik telah memperlebar kesenjangan tersebut,” kata Li Junhua, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial.
Komunitas global mengadopsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2015 sebagai cetak biru untuk mencapai kemakmuran dan kehidupan yang lebih baik bagi manusia dan planet bumi. Ke-17 Tujuan tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan dan pembangunan, yang masing-masing memiliki indikator yang harus dicapai pada tahun 2030. Selain itu, SDGs bekerja dalam semangat kolaborasi dengan prinsip “tidak meninggalkan siapa pun”.
Namun, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres membuka GSDR 2023 dengan mengungkap kenyataan pahit. Ia katakan, “Pandemi COVID-19, meningkatnya konflik, dan krisis biaya hidup global telah memperburuk dampak perubahan iklim yang sudah tidak ada habisnya, tidak adil, serta melemahkan janji untuk tidak meninggalkan siapa pun.”
Perkembangan dalam GSDR 2023
Pada dasarnya, kita telah jauh melangkah dibandingkan empat tahun lalu. Ada sejumlah kemajuan besar antara tahun 2020 dan 2023, khususnya dalam bidang konektivitas. Misalnya, kita sudah mendekati target 2030 dalam hal meningkatkan akses terhadap jaringan seluler dan penggunaan internet.
Namun, kita masih berada di tengah jalan dan bahkan jauh dari banyak tujuan. Kita bahkan mengalami kemunduran demi kemunduran dari beberapa target penting, termasuk mengakhiri kemiskinan ekstrem, mencapai ketahanan pangan, mengurangi emisi gas rumah kaca global, dan mencegah kepunahan spesies. Selain itu, kesenjangan pembiayaan SDGs meningkat sebesar 56% pada tahun 2020, mencapai 3,9 triliun USD.
Pengembangan Kapasitas dalam Transformasi

Laporan ini menekankan perlunya peningkatan ambisi dan intervensi yang terintegrasi, koheren, dan transformatif demi kemajuan global. GSDR 2019 memperkenalkan kerangka pengorganisasian enam titik masuk dengan empat tuas. Laporan Pembangunan Berkelanjutan Global tahun 2023 menambahkan faktor kelima: pengembangan kapasitas.
Menurut laporan tersebut, berikut adalah area-area di setiap titik masuk yang memerlukan pengembangan kapasitas:

Pengembangan Kapasitas untuk Pembangunan Berkelanjutan
Lebih lanjut, laporan tersebut merekomendasikan rencana percepatan nasional untuk berinvestasi dalam pengembangan kapasitas untuk pembangunan berkelanjutan. Strategi ini mungkin mengharuskan pemerintah untuk mengatur ulang pembuatan kebijakan dan administrasi publik guna meningkatkan mekanisme pengembangan kapasitas di semua tingkat pemangku kepentingan dan sektor.
GSDR 2023 menyarankan beberapa langkah khusus untuk pengembangan kapasitas, yaitu:
- Manajemen transformasi, dengan fokus pada pengembangan kapasitas multisektoral dan antarkementerian para pemangku kepentingan utama (pembuat kebijakan, akademisi, CEO, OMS).
- Kapasitas wawasan ke depan, menekankan visi jangka panjang dan meningkatkan respons terhadap guncangan eksternal dan peluang baru.
- Keterlibatan publik yang efektif, menciptakan ruang aman untuk melibatkan kelompok masyarakat, pemuda, filantrop, kelompok perempuan, komunitas adat, kelompok difabel, dan kelompok marjinal lainnya secara bermakna.
- Produksi pengetahuan, memperkuat proses produksi, validasi, dan penyebaran pengetahuan ilmiah yang kuat secara sosial, termasuk pengetahuan Pribumi.
- Antarmuka sains-kebijakan-masyarakat, membangun platform interaksi di ketiga cabang ilmu pengetahuan dan memperkuat kepercayaan publik terhadap sains.
- Keterampilan negosiasi dan resolusi konflik, mendesak negara-negara untuk meningkatkan navigasi pada fase akselerasi, resolusi konflik, dan mediasi.
- SDGs dalam bisnis, mendesak perusahaan-perusahaan multinasional dan berskala besar untuk menerapkan praktik keberlanjutan di seluruh rantai nilai mereka dan mendorong konsumen untuk mengerahkan suara mereka untuk menuntut yang lebih baik.
Langkah ke Depan
Transformasi yang berarti menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan memerlukan kerja keras dan tindakan tegas. Selain pengembangan kapasitas dan strategi lain di enam titik masuk, laporan tersebut juga mengusulkan seruan tindakan lainnya. Hal ini termasuk memperbaiki kondisi mendasar yang penting (perubahan iklim, kesenjangan, dll.) dan menetapkan kerangka transformasi dan rencana aksi.
GSDR 2023 juga menyoroti perlunya ilmu pengetahuan yang bersifat multidisiplin, diproduksi secara adil dan inklusif, dibagikan secara terbuka, dipercaya dan dianut secara luas, serta “kuat secara sosial”.
“Saat ini, lebih dari sebelumnya, para ilmuwan, pembuat kebijakan, dan berbagai aktor sosial perlu bekerja sama secara erat dalam antarmuka sains-kebijakan-masyarakat untuk membangun kepercayaan, membangun landasan ilmiah untuk kemajuan menuju SDGs, menyampaikan temuan, dan mengkomunikasikan temuan-temuan tersebut kepada masyarakat luas.”
Baca laporan selengkapnya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan