Laporan Ketimpangan Iklim 2023 Ungkap Kaitan antara Perubahan Iklim dan Ketimpangan
Foto: Milind Ruparel di Unsplash.
Ketimpangan merupakan masalah klasik yang terus ada hingga hari ini. Perubahan iklim memperburuk ketimpangan yang ada—dan bahkan mungkin menciptakan ketimpangan baru. Laporan Ketimpangan Iklim 2023 yang dirilis oleh World Inequality Lab mengungkap keterkaitan antara perubahan iklim dan ketimpangan dan menawarkan langkah yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya.
Laporan Ketimpangan Iklim 2023
Laporan Ketimpangan Iklim 2023 menganalisis berbagai dimensi ketimpangan iklim, dengan fokus pada negara berpenghasilan rendah dan menengah. Menurut laporan tersebut, hanya sebagian kecil populasi dunia yang bertanggung jawab atas tingginya konsentrasi emisi gas rumah kaca global. Sementara itu, tingkat kerentanan seseorang terhadap dampak perubahan iklim sangat ditentukan oleh kekayaan yang ia miliki.
Beberapa temuan utama yang disajikan dalam laporan tersebut di antaranya:
- Sebanyak 10% penghasil emisi karbon dunia teratas bertanggung jawab atas hampir 50% emisi gas rumah kaca global.
- Ketimpangan karbon di dalam negara saat ini lebih besar daripada antarnegara.
- Produktivitas pertanian menurun hingga 30% di banyak daerah berpendapatan rendah akibat perubahan iklim. Kondisi ini memperparah kemiskinan dan kerawanan pangan.
- Lebih dari 780 juta orang, sebagian besar di negara berkembang, berisiko mengalami kemiskinan dan banjir parah.
Mengatasi Perubahan Iklim dan Ketimpangan
Temuan-temuan tersebut semakin mempertegas perlunya membatasi pemanasan global tidak melebihi 1,5°C sekaligus mengurangi ketimpangan. Berangkat dari temuan tersebut, yang diperkuat dengan temuan empiris tambahan dan wawancara ahli, laporan tersebut menawarkan sejumlah rekomendasi untuk mengatasi ketimpangan iklim pada inti permasalahannya.
Menurut laporan tersebut, upaya yang diperlukan untuk mengurangi emisi bagi kelompok beremisi tinggi mungkin jauh lebih rendah daripada kelompok lain. Selain itu, anggaran yang dibutuhkan untuk mengangkat orang keluar dari kemiskinan berjumlah sekitar sepertiga dari 10% penghasil emisi teratas yang dihabiskan untuk menghasilkan emisi. Jadi, kebijakan penargetan pada kelompok ini akan menjadi yang paling efektif.
Rekomendasi yang diberikan dibagi ke dalam tiga kategori:
- Pengukuran dan Evaluasi: menyediakan matriks inequality-check untuk kebijakan iklim dan berinvestasi dalam menghasilkan statistik lingkungan yang dapat didistribusikan.
- Rancangan Kebijakan: berfokus pada dampak distribusi, seperti penghapusan subsidi bahan bakar fosil; mengurangi ketimpangan dan meningkatkan ketahanan dengan transfer tunai; dan memastikan akses universal ke energi bersih, layanan kesehatan, dan pendidikan.
- Pembiayaan: meningkatkan bantuan pembangunan internasional; mengubah rezim pajak internasional dengan pajak progresif atas kepemilikan kekayaan, seperti pajak progresif “1,5% untuk 1,5°C” atas kekayaan ekstrem; memodernisasi sistem pajak nasional dengan pajak pendapatan modal progresif, pajak warisan tertinggi, pajak laba berlebih, dan pajak kekayaan progresif.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan