IKEA Foundation Dukung Transisi Energi yang Berkeadilan dan Berpusat pada Masyarakat
Foto: Hoan Ngọc di Pexels.
Transisi energi sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim. Selama ini, dunia telah menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi, dan menghentikan penggunaannya berarti memerlukan perubahan di hampir semua sektor. Tidak hanya itu, transisi energi juga merupakan proses yang mahal dan rumit. Berangkat dari persoalan itu, IKEA Foundation dan ClimateWorks Foundation berinisiatif untuk mendanai transisi energi yang berkeadilan dan berpusat pada masyarakat di Global South.
Mahalnya Ongkos Transisi Energi
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa dibutuhkan USD4,6 triliun per tahun pada tahun 2030 untuk mencapai net-zero pada tahun 2050. Namun, pada tahun 2023, diperkirakan hanya ada sekitar USD1,7 triliun yang digunakan untuk energi ramah lingkungan—tak sampai setengahnya.
Meski begitu, jumlah tersebut menunjukkan kemajuan. IEA mengungkapkan bahwa investasi energi global sedang meningkat, dimana investasi pada energi ramah lingkungan melebihi bahan bakar fosil hampir tiga banding satu.
Sayangnya, kemajuan tersebut tidak merata di seluruh dunia. Negara-negara berpendapatan rendah dan negara-negara berkembang sering kali merupakan pihak yang paling kecil kontribusinya terhadap perubahan iklim, namun paling terkena dampak. Mereka juga merupakan kelompok yang paling tidak siap dan tidak mempunyai perlengkapan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Meningkatkan aksi iklim, penelitian, dan investasi di negara-negara Global South sangat penting untuk mencapai masa depan yang lebih baik tanpa ada yang tertinggal.
Inisiatif pendanaan multilateral dan kolaboratif seperti yang dilakukan C40 untuk aksi iklim inklusif, Clara Lionel Foundation untuk keadilan iklim, Aliansi Energi Global untuk Manusia dan Planet untuk energi bersih, dan Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (JETP) disebut-sebut dapat mendukung transisi yang lebih inklusif di seluruh dunia.
Dukungan IKEA Foundation untuk Transisi Energi yang Berkeadilan
Pada bulan September 2023, IKEA Foundation dan ClimateWorks Foundation meluncurkan inisiatif filantropis untuk mendukung rencana JETP di Indonesia, Vietnam, dan Afrika Selatan. Proyek ini melibatkan pendanaan awal senilai $20 juta selama empat tahun dan berfokus pada pekerja dan masyarakat yang terkena dampak rencana transisi energi.
Peralihan ke energi terbarukan berdampak pada sekitar 32 juta orang yang bekerja di industri tinggi karbon. Inisiatif ini bertujuan untuk memberdayakan mereka dengan memperkuat dan menyalurkan suara mereka untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Hal ini akan dilakukan dengan:
- Mengidentifikasi kelompok yang terkena dampak dan menganalisis dampak ekonomi yang akan mereka hadapi untuk memberikan pandangan holistik terhadap rencana Transisi Energi yang Berkeadilan.
- Menyelenggarakan dialog nasional dan internasional dengan pemerintah, serikat pekerja, penyedia teknologi, perusahaan utilitas, dan masyarakat sipil.
- Memanfaatkan komunikasi strategis untuk membangun narasi menarik tentang Transisi Energi yang Berkeadilan di tingkat lokal, negara, dan global.
- Memungkinkan inisiatif berbasis masyarakat untuk mengkomunikasikan tuntutan mereka secara efektif terhadap kebijakan Transisi Energi yang Berkeadilan.
“Seiring dengan beralihnya perekonomian global dari bahan bakar fosil yang menimbulkan polusi, kita memerlukan transisi energi yang tidak meninggalkan siapa pun. Hibah dari IKEA Foundation memberikan peluang untuk mendukung strategi yang menempatkan pekerja dan komunitas yang terkena dampak sebagai inti aksi iklim dan pengembangan energi bersih di Global South,” kata Presiden & CEO ClimateWorks Foundation Helen Mountford.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB