Menengok Pengelolaan Sampah di Banyumas dengan Prinsip ‘Nol Sampah ke TPA’
Foto: Mufid Majnun di Unsplash.
Penumpukan sampah masih menjadi masalah serius di berbagai wilayah Indonesia. Yang membuatnya semakin parah, masalah ini seringkali tidak diimbangi dengan pengelolaan sampah yang memadai sehingga menimbulkan dampak yang meluas. Di tengah banyaknya daerah yang kesulitan dalam menangani sampah mereka, Banyumas tampil sebagai yang terdepan di Indonesia. Wilayah yang beribukotakan Purwokerto ini dinobatkan sebagai salah satu daerah dengan pengelolaan sampah terbaik di Asia Tenggara dalam City Windows Series II dari Program Smart Green ASEAN Cities (SGAC).
Penumpukan Sampah di Banyumas Dulu
Bertahun-tahun yang lalu, seperti banyak daerah lain di Indonesia, Banyumas juga mengalami masalah penumpukan sampah yang membuat warganya gerah. Setiap harinya, sekitar 1,78 juta warga Banyumas memproduksi ratusan toh sampah yang akhirnya menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) karena tidak terkelola dengan baik.
Masalah penumpukan sampah di wilayah berjuluk “Kota Satria” itu memuncak pada tahun 2018 ketika dua TPA ditutup oleh warga yang tidak tahan menanggung polusi dan dampak lingkungan lainnya yang disebabkan oleh sampah yang tidak terkelola. Protes warga tersebut membuat penumpukan sampah meluas di seluruh tempat penampung sementara (TPS) yang ada di Banyumas, sehingga membuat wilayah itu mengalami kondisi “darurat sampah”.
Pengelolaan Sampah Banyumas: Dari Pemilahan hingga Pengolahan
Lantas, sejak saat itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas melakukan pembenahan. Mula-mula, Bupati Banyumas saat itu, Achmad Husein, melakukan pendekatan kepada warga untuk menampung aspirasi mereka. Dari situ, Pemkab Banyumas menginisiasi Program Sulap Sampah Berubah Uang atau yang dikenal dengan singkatan “Sumpah Beruang”.
Sumpah Beruang dilakukan dengan tiga tahapan. Pertama, mengubah praktik pengolahan sampah yang semula manual menjadi mekanis dengan membangun pusat daur ulang (PDU), termasuk mengubah fungsi TPS yang selama ini hanya berfungsi sebagai penampung sementara sampah sebelum diangkut ke TPA menjadi PDU. Untuk mengoptimalkan daur ulang dan penggunaan kembali sampah, Pemkab Banyumas membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) atau hanggar di setiap kecamatan, yang dilengkapi dengan mesin pemilah dan mesin pencuci sampah, serta mesin pembuat paving block.
Kedua, sampah-sampah yang telah dipilah dan dibersihkan kemudian diolah menjadi berbagai barang bernilai. Sampah-sampah anorganik diolah antara lain menjadi paving block, genteng, biji plastik, dan Refuse Derived Fuel (RDF); sedangkan sampah organik diolah menjadi pupuk kompos dan pakan maggot. Ketiga, residu sampah yang sulit didaur ulang dimasukkan ke dalam mesin pirolisis di TPA BLE untuk diolah kembali menjadi benda-benda bernilai.
“Sumber penghasilan KSM itu dari penjualan sampah high value seperti plastik, kresek, plastik kemasan, botol plastik. Dengan pemasukan delapan truk sampah per hari di Banyumas, mereka mendapatkan penghasilan sekitar Rp30 juta per bulan,” kata Husein.
Seluruh tahapan tersebut dilakukan dengan memaksimalkan partisipasi masyarakat dari hulu ke hilir, antara lain dengan mengajak masyarakat memilah sampah sejak dari rumah dan menjualnya ke Pemkab Banyumas. Untuk memudahkan masyarakat dalam menjual sampah mereka, Pemkab Banyumas menyediakan aplikasi Sampah Online Banyumas (Salinmas) dan Ojeke Inyong (Jeknyong).
Selain itu, Pemkab Banyumas juga membangun Tempat Pemrosesan Akhir Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPA-BLE) dengan melibatkan 29 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai pengelola. Secara keseluruhan, 29 KSM tersebut terdiri dari sekitar 1.200 pekerja.
Setelah berjalan selama empat tahun, Banyumas berhasil menekan jumlah sampah yang dibuang ke TPA hingga lebih dari 80 persen, dan menghasilkan puluhan juta rupiah setiap bulannya dari pengolahan sampah mereka menjadi barang-barang bernilai. Selain itu, secara bertahap kabupaten ini juga menghapus seluruh TPA konvensional mereka dan sepenuhnya menerapkan sistem zero waste to landfill (nol sampah ke TPA).
Yang Perlu Diperbaiki
Namun, permasalahan sampah di Banyumas belum sepenuhnya tuntas. Wilayah ini masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain terkait masalah kultural seperti perilaku membuang sampah sembarangan hingga masalah manajemen yang belum sepenuhnya solid di antara kelompok pengelola. Selain itu, masalah pembiayaan juga masih menjadi kendala, terutama terkait pengolahan residu sampah yang umumnya membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Dalam konteks Banyumas, masalah ini berpengaruh terhadap kesejahteraan KSM sebagai garda terdepan pengelolaan sampah.
Meski demikian, apa yang telah dilakukan Banyumas dapat menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia dalam mengatasi masalah penumpukan sampah, dengan menyesuaikan kondisi wilayah dan latar belakang sosial-budaya masing-masing, serta melibatkan partisipasi dan kolaborasi dari semua pihak.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit