Kolaborasi Tingkatkan Kompetensi Bidan untuk Tekan Kematian Ibu dan Bayi
Foto: B5zero di Pixabay.
Kehidupan jutaan orang di dunia sangat bergantung pada tenaga kesehatan, khususnya bidan yang menjadi tulang punggung layanan kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, investasi dalam peningkatan kompetensi bidan merupakan hal yang sangat penting. Terkait hal ini, Pemerintah Inggris dan Dana Kependudukan PBB (UNFPA), bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan para pemangku kepentingan kebidanan, meluncurkan proyek “Midwifery Capacity Advancement for Equitable Sexual and Reproductive Health and Reproductive Rights” (MARCH). Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi bidan sebagai aktor utama dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia.
Kesenjangan Kompetensi Bidan di Indonesia
Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2024, terdapat lebih dari 351.673 bidan yang terdaftar di seluruh Indonesia, yang melayani 74% pemeriksaan antenatal (ANC), 61% proses persalinan, dan lebih dari 50% layanan keluarga berencana. Selain membantu persalinan, bidan juga berperan besar dalam berbagai layanan kesehatan lainnya, termasuk konseling dan pendidikan kesehatan ibu sejak masa kehamilan, perencanaan keluarga berencana, hingga perawatan kesehatan bayi baru lahir.
Sayangnya, masih terdapat kesenjangan keterampilan di antara bidan-bidan di Indonesia. Sebagian bidan dapat memiliki kompetensi dan keterampilan di atas rata-rata, sementara lainnya tertinggal di belakang dan tetap tertinggal karena kurangnya akses ke pelatihan dan pengembangan kapasitas.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan adanya kesenjangan kompetensi tersebut adalah kualitas pendidikan kebidanan yang masih belum merata di Indonesia. Sebuah penelitian mengungkap bahwa masalah struktural berperan dalam hal ini, seperti program kebidanan, akreditasi, UU Kebidanan, dan ketiadaan Konsil Kebidanan.
Sebagai akibatnya, kesenjangan kompetensi ini turut berkontribusi terhadap tingginya angka kematian Ibu dan bayi di Indonesia. Pada tahun 2023, misalnya, jumlah ibu yang meninggal akibat komplikasi selama kehamilan, persalinan, atau pascapersalinan mencapai 4.129 jiwa; sementara bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu tahun mencapai 29.945 jiwa.
Proyek MARCH
Proyek MARCH diluncurkan pada 10 Maret 2025 di Jakarta, bersamaan dengan Program Pelatihan Pengembangan Fakultas yang mempertemukan 48 dosen kebidanan dari berbagai institusi pendidikan kebidanan, termasuk politeknik kesehatan, universitas, dan sekolah swasta. Program pelatihan ini membekali para dosen dengan keterampilan untuk mengajarkan kurikulum berbasis kompetensi berstandar internasional, yang bertujuan untuk mencetak tenaga kesehatan yang kompeten dan terampil dalam memberikan layanan berkualitas tinggi berbasis bukti. Kementerian Kesehatan dan UNFPA akan memperluas pelatihan ini ke 37 politeknik kesehatan yang memiliki program studi kebidanan di bawah Kementerian Kesehatan.
Untuk memperkuat kerangka regulasi, proyek MARCH juga akan mendukung penyusunan kerangka Pengembangan Profesi Berkelanjutan (Continuing Professional Development/CPD) dan program pelatihan bagi bidan yang telah bekerja. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan bidan sehingga mereka lebih siap dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat yang terus berkembang.
“Bidan adalah tenaga kesehatan utama yang menjadi ujung tombak dalam layanan kesehatan ibu. Ada ratusan ribu bidan terdaftar di Indonesia, tetapi angka kematian ibu masih tinggi. Oleh karena itu, kita perlu memperkuat kapasitas bidan. Kita harus memastikan keberlanjutan pengembangan kapasitas mereka dari tahun ke tahun. Kita juga harus menyesuaikan kurikulum kita dengan standar internasional,” kata Yuli Farianti, Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan, Kementerian Kesehatan.
Menekan Angka Kematian Ibu
Setiap kelahiran adalah harapan baru bagi masa depan yang lebih baik. Bagi seorang perempuan dan keluarganya, kelahiran seorang bayi adalah kebahagiaan yang tak tepermanai. Oleh karena itu, kematian ibu dan bayi merupakan masalah mendesak yang harus dapat dicegah dengan intervensi menyeluruh dan sistemik. Meningkatkan keterampilan dan kompetensi tenaga kesehatan, yang disertai dengan peningkatan kesejahteraan mereka, adalah satu hal.
“Ada tiga intervensi utama untuk menurunkan angka kematian ibu: keluarga berencana, tenaga kesehatan terlatih dalam persalinan, dan layanan kegawatdaruratan obstetri. Kita membutuhkan bidan yang kompeten, percaya diri, dan berkualitas untuk membantu persalinan,” kata Hassan Mohtashami, Perwakilan UNFPA Indonesia.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan