Kolaborasi untuk Tingkatkan Upaya Konservasi yang Inklusif di Papua Barat Daya
Tim peneliti dari Indonesia dan Australia mengunjungi Desa Malaumkarta di Sorong, Papua Barat Daya, untuk melihat perkembangan proyek penelitian konservasi Ridge to Reef. | Foto: KONEKSI.
Di tengah meningkatnya kerusakan lingkungan dan penurunan keanekaragaman hayati, konservasi menjadi semakin mendesak. Dalam hal ini, kolaborasi sangat penting bagi peningkatan upaya untuk mencapai kemajuan yang bermakna. Di Papua Barat Daya, sejumlah lembaga penelitian dari Indonesia dan Australia berkolaborasi untuk meningkatkan upaya konservasi yang inklusif dari pegunungan hingga pesisir (Ridge-to-Reef/R2R) sekaligus mendorong penghidupan yang adil bagi masyarakat adat dan komunitas lokal.
Kekayaan Alam Papua Barat Daya dan Ancaman yang Mengintai
Papua Barat Daya dikenal memiliki kekayaan keanekaragaman hayatinya yang kaya, mulai dari hutan yang luas hingga ekosistem pantai yang beragam. Luas hutan di provinsi ini mencapai 3.431.549 hektare yang mencakup 30,56% kawasan konservasi dan 22,31% hutan lindung. Sedangkan wilayah pesisirnya memiliki kekayaan hutan bakau dan terumbu karang yang signifikan secara global. Desa Malaumkarta, Distrik Makbon, khususnya, salah satu tempat dimana proyek penelitian ini berlangsung, memiliki daya tarik wisata alam, terutama pantai berpasir putih yang menjadi tempat perkembangbiakan penyu dan Pulau Um sebagai habitat kelelawar.
Namun, seperti halnya di banyak tempat lain di dunia, wilayah ini juga tidak terbebas dari ancaman kerusakan lingkungan, terutama akibat pembabatan hutan yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan untuk kepentingan industri, serta perubahan iklim yang menyebabkan naiknya permukaan laut, rusaknya terumbu karang, menurunnya populasi ikan, dan semakin sulitnya cuaca untuk diprediksi. Selain itu, tata kelola sumber daya alam yang kurang memadai, menyebabkan perencanaan yang kurang terkoordinasi antarsektor, dengan kurang atau bahkan tanpa adanya integrasi antara perencanaan darat dan laut.
Konservasi yang Inklusif
Proyek konservasi Ridge-to-Reef (R2R) ini merupakan hasil kolaborasi antara World Resources Institute (WRI) Indonesia, Institute for Sustainable Futures University of Technology Sydney, Center for Biodiversity and Conservation Science University of Queensland, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Didanai oleh KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia), proyek ini mengeksplorasi cara-cara terbaik untuk melindungi kekayaan alam Papua Barat Daya, mulai dari pegunungan hingga laut dan mendukung inisiatif perubahan iklim yang lebih luas.
Beberapa metode digunakan dalam proyek ini untuk mencapai hasil penelitian yang optimal, termasuk pengembangan bersama data dasar dan metode untuk mengelola, mengintegrasikan, dan memantau hutan di dataran tinggi, daerah aliran sungai, dan hutan mangrove, serta pengembangan arsitektur R2R yang mencakup Indikator Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI). Selain itu, proyek penelitian ini akan memasukkan indikator GEDSI untuk mengidentifikasi kondisi dan mekanisme yang dapat memfasilitasi implementasi konservasi R2R yang adil, dengan tiga komponen yang mencerminkan tiga output utama:
- Studi kelayakan komprehensif dan strategi untuk implementasi R2R dan kontribusinya terhadap proyek-proyek perubahan iklim yang inklusif.
- Usulan mekanisme untuk tata kelola yang efektif dari area antara hutan dataran tinggi, daerah aliran sungai, dan hutan mangrove, dengan mempertimbangkan GEDSI di tingkat nasional dan subnasional.
- Usulan pendekatan pendanaan berkelanjutan untuk membantu pelaksana proyek dan pemerintah untuk mendapatkan pendanaan dari sumber-sumber di tingkat lokal, nasional, atau lintas negara dari sektor publik dan swasta untuk mendukung proyek-proyek perubahan iklim R2R di Indonesia.
“Proyek ini mengusulkan jalur-jalur untuk mekanisme pembiayaan yang terintegrasi dan inovatif serta kerangka tata kelola terdesentralisasi yang memungkinkan para pemangku kepentingan memiliki lebih banyak pengaruh dalam pengambilan keputusan dan membantu menyeimbangkan kekuasaan, memastikan proyek-proyek iklim di Papua Barat Daya lebih inklusif,” kata Toni Haryadi, Direktur Program Pangan, Tanah, dan Air WRI Indonesia dan peneliti utama dari penelitian ini.
Meningkatkan Pembiayaan yang Berkelanjutan
Seperti banyak pendekatan dan model konservasi lainnya, implementasi konservasi R2R di Indonesia, termasuk di Papua Barat Daya, menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan pendanaan yang berkelanjutan, terutama untuk proyek-proyek perubahan iklim yang inklusif. Oleh karena itu, proyek penelitian tersebut juga bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana merancang mekanisme pendanaan untuk manajemen R2R yang berkelanjutan dan adil.
Pada akhirnya, upaya konservasi R2R yang inklusif mesti diimplementasikan dan diperluas cakupannya ke berbagai daerah lain di Indonesia. Kemitraan multipemangku kepentingan dan lintas-sektor, serta dukungan pembiayaan yang berkelanjutan, merupakan komponen fundamental yang perlu ditingkatkan untuk mencapai tujuan ini.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja