Pengembangan Pangan Akuatik untuk Atasi Malnutrisi dan Kerawanan Pangan
Foto: Tapan Kumar Choudhury di Unsplash.
Dengan sumber daya alam yang ada, Indonesia mestinya memiliki sumber makanan yang kaya dan beragam yang dapat dinikmati oleh semua orang. Namun, kenyataannya tidak demikian; banyak orang yang tetap menghadapi keterbatasan akses terhadap pangan bergizi, termasuk pangan akuatik yang berasal dari perairan. Di tengah berbagai isu terkait pangan yang masih berlangsung di Indonesia, pengembangan pangan akuatik dapat menjadi salah satu solusi yang sangat penting.
Dari Masalah Malnutrisi hingga Kerawanan Pangan
Indonesia masih bergulat dengan berbagai isu yang berkaitan dengan pangan, mulai dari terbatasnya akses terhadap pangan bergizi dan terjangkau, menjamurnya makanan ultra-olahan (termasuk makanan pendamping ASI), malnutrisi, hingga kerawanan pangan.
Hari ini, makanan sehat yang bernutrisi dan terjangkau, khususnya real food (makanan alami dan utuh), cenderung lebih sulit dijangkau dibanding makanan ultra-proses, terutama oleh masyarakat berpendapatan rendah. Tengoklah dapur rumah tangga miskin di Indonesia, maka akan lebih mudah menemukan, misalnya, ikan kaleng berpengawet yang bisa tahan sampai bertahun-tahun dibanding ikan segar. Hal ini merupakan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat karena makanan ultra-olahan umumnya mengandung kadar gula-garam-lemak yang tinggi serta lebih sedikit nutrisi penting. Tidak hanya meningkatkan berbagai risiko penyakit, makanan ultra-olahan juga menyebabkan berbagai dampak buruk terhadap lingkungan.
Kondisi ini pada gilirannya turut meningkatkan risiko malnutrisi di Indonesia, khususnya stunting pada anak-anak. Hingga tahun 2023, prevalensi stunting masih berada di angka 21,5%. Selain karena kurangnya akses ke pangan bergizi yang terjangkau, malnutrisi di Indonesia terutama disebabkan oleh kemiskinan, terbatasnya akses ke pekerjaan atau sumber penghidupan yang layak, kurangnya literasi terkait nutrisi, yang juga diperparah oleh perubahan iklim.
Dan yang lebih mengkhawatirkan, Indonesia juga menghadapi ancaman kerawanan pangan di berbagai daerah terutama akibat degradasi lingkungan serta kebijakan dan tata kelola pangan yang kurang memadai.
Pangan Akuatik dan Manfaatnya
Pangan akuatik merujuk pada semua jenis makanan berupa hewan, tumbuhan, mikroorganisme, serta makanan berbasis sel dan tumbuhan yang berasal dari perairan, baik laut, sungai, danau, dan sumber perairan lainnya. Sering disebut sebagai “blue foods”, makanan akuatik merupakan penopang ketahanan pangan dan sumber nutrisi yang sangat penting. Beberapa contoh paling umum dan sering dijumpai adalah ikan, udang, kerang, rumput laut, dan banyak lainnya–baik ditangkap langsung di alam maupun dibudidayakan.
Rata-rata pangan akuatik memiliki nutrisi yang kaya, terutama protein berkualitas tinggi, lemak omega-3, serta berbagai vitamin dan mineral penting. Selain menyediakan nutrisi, pangan akuatik juga mendukung perekonomian negara dan menjadi simbol budaya di banyak daerah, seperti ikan mas arsik dalam tradisi masyarakat Batak Toba.
Akses yang Terbatas
Sayangnya, meski produksinya secara nasional cukup tinggi, makanan akuatik tidak selalu dapat dijangkau dengan mudah oleh setiap warga di Indonesia. Banyak orang, terutama mereka yang hidup dalam kemiskinan dan berpendapatan rendah, kesulitan untuk memperoleh makanan-makanan yang berasal dari perairan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketidakmampuan masyarakat untuk menjangkau makanan akuatik salah satunya terlihat dari rendahnya tingkat konsumsi ikan laut di Indonesia, yang bahkan ironisnya lebih rendah dibanding negara-negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar, yang tingkat produksi ikannya jauh di bawah Indonesia.
Permasalahan ini bahkan masih tetap berlanjut meski pemerintah telah mencanangkan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) sejak tahun 2004. Sebab, program ini kenyataannya tidak membuat makanan akuatik menjadi lebih mudah dijangkau. Harga yang relatif mahal, terutama di wilayah-wilayah yang jauh dari perairan, adalah salah satu masalah yang paling menonjol. Masalah ini turut diperparah oleh distribusi yang tidak memadai yang berdampak terhadap kualitas dan ketersediaannya. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya pengembangan yang bermakna untuk menciptakan akses yang luas dan merata terhadap pangan akuatik.
Integrasi ke Dalam Sistem Pangan Nasional
Indonesia belum sepenuhnya mengintegrasikan pangan akuatik untuk memaksimalkan potensinya dalam menyediakan nutrisi yang cukup, beragam, dan seimbang sebagai makanan yang sehat dan aman bagi semua. Perikanan skala kecil, yang membentuk sekitar 90% sektor perikanan di Indonesia, mengalami susut hasil produksi ikan hingga 30%, atau setara dengan 75.000–125.000 ton per tahun.
Dengan segenap persoalan di atas, sebuah laporan yang diterbitkan oleh Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) menekankan pentingnya mengintegrasikan pangan akuatik ke dalam dalam sistem pangan nasional. Pemerintah dan seluruh aktor terkait harus berkolaborasi untuk memastikan makanan akuatik yang sehat dan berkualitas dapat dijangkau oleh semua kalangan, termasuk mereka yang hidup dalam kemiskinan dan kemiskinan ekstrem. Peningkatan produksi dan diversifikasi, penguatan rantai pasok, serta intervensi pada mekanisme pasar untuk menjamin aksesibilitas adalah langkah utama yang dibutuhkan.
Laporan tersebut memberikan beberapa rekomendasi bagi upaya peningkatan rantai nilai makanan akuatik untuk mendukung ketahanan pangan dan pemenuhan nutrisi di Indonesia:
- Menggunakan data dari Dasbor Sistem Pangan Indonesia (DSPI) untuk mengidentifikasi prospek, tantangan, kondisi pasar, dan area prioritas terkait rantai nilai pangan akuatik pada tingkat nasional dan subnasional.
- Mengintegrasikan dataset produksi, ekspor, impor, distribusi regional, dan konsumsi ikan berdasarkan jenis ikan pada tingkat subnasional ke dalam DSPI.
- Membina kemitraan dengan sektor swasta untuk mengatasi persoalan distribusi ikan dan meningkatkan investasi untuk perbaikan infrastruktur pendukung, seperti gudang berpendingin, sentra kelautan dan perikanan terpadu, dan lainnya.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan