Meningkatnya Dampak Perubahan Iklim di Kawasan Danau Toba

Danau Toba. | Foto: Marcel Ardivan di Unsplash.
Kehidupan manusia di berbagai komunitas sangat bergantung pada bentang alam dimana mereka tinggal. Demikian pula halnya dengan masyarakat yang tinggal di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Mereka bertani, berbudidaya ikan, dan menjalankan usaha dengan dukungan penuh dari danau vulkanik terbesar di dunia itu. Namun, kelestarian dan jasa penting Danau Toba semakin terancam seiring meningkatnya risiko bencana banjir dan longsor akibat perubahan iklim.
Kawasan Danau Toba dan Perannya
Danau Toba merupakan salah satu danau terbesar di dunia, dengan perkiraan luas perairan antara 1.130-1.145 kilometer persegi dan kedalaman mencapai 508 meter. Dikelilingi oleh daratan berbukit, danau in berada pada ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut dan bentangnya mencakup tujuh kabupaten di Sumatera Utara, yakni Toba, Samosir, Humbang Hasundutan, Kabupaten Karo, Simalungun, Tapanuli Utara, dan Dairi.
Menurut catatan sejarah, Danau Toba pada mulanya adalah kaldera besar yang terbentuk akibat letusan dahsyat gunung berapi super sekitar 74 ribu tahun yang lalu. Sebuah penelitian mengungkap bahwa kekuatan megaerupsinya mencapai 8 Volcanic Explosivity Index (VEI), menjadikannya salah satu letusan vulkanik terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah.
Selain pesona keindahan alamnya, Danau Toba juga memainkan peran ekologis yang sangat penting. Selain menjadi sumber air tawar bagi banyak kebutuhan manusia, danau ini juga merupakan habitat bagi berbagai spesies hewan dan tumbuhan. Selain itu, Danau Toba juga merupakan penopang berbagai aspek sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, terutama sektor perikanan, pertanian, dan pariwisata.
Dengan potensi pariwisatanya yang besar, Kawasan Danau Toba telah ditetapkan sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP) oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 2019. Selain itu, pada tahun 2020, Kaldera Danau Toba juga diakui sebagai UNESCO Global Geopark (UGG).
Terdampak Perubahan Iklim
Namun, Danau Toba telah dan semakin terdampak oleh perubahan iklim yang semakin parah. Sebuah studi yang terbit jurnal Nature pada tahun 2023 mengungkap bahwa suhu dan curah hujan di kawasan Danau Toba telah meningkat dalam kurun 40 tahun (1981–2020) akibat perubahan iklim. Secara umum, perubahan paling signifikan terjadi dalam dua dekade terakhir, dengan peningkatan suhu sebesar 0,24 °C dan curah hujan 22%.
Peningkatan suhu dan curah hujan ini telah meningkatkan risiko dan frekuensi bencana banjir dan tanah longsor di kawasan Danau Toba dalam setidaknya satu dekade terakhir. Pada 16 Maret 2025, misalnya, banjir bandang menyapu kawasan wisata Parapat di Simalungun. Pada 2 Desember 2023, banjir juga melanda Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, menyebabkan 12 orang meninggal dunia. Curah hujan yang meningkat juga memicu aliran sedimen yang lebih banyak ke dalam danau sehingga berpotensi menyebabkan pendangkalan.
Deforestasi akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan telah memicu kerusakan alam kawasan Danau Toba, dan menjadi faktor utama yang menyebabkan peningkatan risiko banjir dan longsor. Menurut data yang tersedia, luas lahan kritis dan sangat kritis di daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba telah mencapai 28.911 hektare (10,98 persen) dari total luas DTA (263.041 hektare).
Meningkatkan Mitigasi dan Adaptasi Bencana
Mengatasi dampak perubahan iklim yang meningkat membutuhkan partisipasi dan kolaborasi seluruh pihak dalam upaya mitigasi dan adaptasi bencana terkait iklim. Meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab seluruh pihak untuk menjaga dan melestarikan ekosistem Danau Toba adalah hal fundamental yang dibutuhkan, khususnya dalam aktivitas bisnis dan pariwisata yang melibatkan pemanfaatan sumber daya alam. Menjaga keseimbangan tutupan vegetasi hutan dan lahan terbuka di seluruh kawasan danau, mengkaji ulang rencana tata ruang kawasan dengan mempertimbangkan dampak perubahan iklim yang semakin signifikan, memperkuat pariwisata yang berkelanjutan, memperkuat strategi pengurangan risiko bencana yang inklusif, dan meningkatkan pengawasan terhadap segala aktivitas yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap keberlanjutan ekosistem danau, adalah beberapa langkah utama yang diperlukan.

Konten Publik GNA berupaya menginspirasi perubahan sosial skala besar dengan menyediakan pendidikan dan advokasi keberlanjutan yang dapat diakses oleh semua orang tanpa biaya. Jika Anda melihat Konten Publik kami bermanfaat, harap pertimbangkan untuk berlangganan GNA Indonesia. Langganan Anda akan menguntungkan Anda secara pribadi dan profesional sekaligus mendukung keberlanjutan finansial GNA untuk terus memproduksi konten-konten yang tersedia untuk umum ini.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor di beberapa media tingkat nasional.