Memperkuat Perlindungan Perempuan Pekerja Migran dengan Chatbot AI
Perwakilan Kemenlu dan UN Women dalam peluncuran Chatbot AI SARI. | Foto: UN Women/Christina Phan.
Migrasi dapat memperluas kesempatan seseorang untuk mendapatkan sumber penghidupan. Namun, migrasi juga memiliki risiko yang tidak dapat diabaikan, khususnya bagi perempuan yang rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi. Oleh karena itu, penguatan perlindungan bagi perempuan pekerja migran sangat penting untuk mewujudkan migrasi dan dunia kerja yang lebih aman.
Kekerasan dan Eksploitasi terhadap Perempuan Pekerja Migran
Ketika memperoleh pekerjaan di dalam negeri semakin sulit karena keterbatasan lapangan pekerjaan dan berbagai faktor lainnya, banyak orang yang memilih bermigrasi untuk mencari sumber penghidupan, tidak terkecuali perempuan. Namun, diskriminasi, kekerasan (fisik, mental, dan seksual), dan eksploitasi (perbudakan modern, kerja paksa, dsb), masih kerap mengintai perempuan dalam seluruh tahapan migrasi.
Menurut Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan tahun 2023, terdapat 321 kasus kekerasan terhadap perempuan pekerja migran yang dilaporkan. Angka sesungguhnya mungkin jauh lebih besar karena banyak perempuan pekerja yang tidak melaporkan kasus yang mereka alami karena stigma dan hambatan dalam mengakses dukungan dan layanan.
Komnas Perempuan juga mengungkap bahwa bentuk Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap perempuan pekerja migran terus berkembang dari waktu ke waktu dengan berbagai modus baru, seperti magang kampus, perekrutan lewat media sosial, penipuan oleh agensi, dan penempatan ilegal oleh perusahaan penyalur, yang ironisnya juga kerap melibatkan oknum dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).
Memperkuat Perlindungan dengan Chatbot AI
Untuk mendukung perlindungan terhadap perempuan pekerja migran, Kementerian Luar Negeri dan UN Women meluncurkan Sahabat Artifisial Migran Indonesia (SARI), fitur chatbot AI yang tersedia di aplikasi Safe Travel—aplikasi yang memuat informasi praktis bagi warga Indonesia yang berada di luar negeri. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi kedua lembaga yang bertujuan untuk mendukung upaya perlindungan bagi WNI di luar negeri, khususnya untuk menghentikan kekerasan terhadap pekerja perempuan.
Chatbot AI SARI dikembangkan dengan pendekatan human-centered design dan proses partisipatif melalui konsultasi langsung dengan komunitas perempuan pekerja migran, penyedia layanan kekerasan, organisasi masyarakat sipil, dan orang muda. Melalui integrasi data yang bebas dari bias gender, SARI didesain untuk memberikan respons percakapan yang empatik dan tidak memberikan stigma maupun prasangka. Dengan dukungan Migration Multi-Partner Trust Fund (MMPTF), SARI ditujukan untuk memberikan respons awal untuk melengkapi layanan tatap muka yang telah disediakan oleh Kemenlu.
“AI yang dikembangkan dengan bertanggung jawab, dilatih dengan etika dan mitigasi bias, termasuk bias gender, memiliki potensi untuk memberikan solusi inovatif dalam mencegah dan mengatasi kekerasan terhadap perempuan,” ujar Dwi Yuliawati, Kepala Program UN Women Indonesia.
Perlindungan yang Lebih Kuat
Risiko yang dihadapi oleh para pekerja migran sangat mungkin jauh lebih kompleks dan berat daripada yang dapat kita bayangkan, yang bahkan juga dapat muncul dari penggunaan teknologi digital yang tidak didukung oleh prosedur yang tepat. Mereka yang pernah atau sedang menjalani hari-hari sebagai pekerja migran adalah pihak yang paling memahami situasi di lapangan. Besarnya risiko yang mereka hadapi kemungkinan tidak dapat sepenuhnya mereka hindari atau laporkan karena kurangnya sistem perlindungan dan mekanisme pengaduan yang memadai.
Oleh karena itu, sistem perlindungan bagi pekerja migran, khususnya perempuan, harus dibangun dengan lebih kuat dan menyeluruh yang mencakup tahapan sejak dari dalam negeri. Memperkuat pengawasan terhadap perusahaan penempatan pekerja migran, menyediakan layanan pemulihan komprehensif bagi perempuan pekerja migran yang menjadi korban kekerasan dan eksploitasi, dan memperkuat penegakan hukum, termasuk di antara banyak elemen yang harus dilakukan.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja