Fase Baru Program Pembelajaran Kelas Awal untuk Anak-anak di Papua
Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran di SD Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Kanda, Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua | Foto: UNICEF/Al Asad.
Keterampilan dasar seperti membaca dan berhitung sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak-anak dalam tahap awal pembelajaran. Namun, pada saat keterampilan dasar ini telah menjadi sesuatu yang mudah disalurkan di banyak tempat, masih banyak anak yang kesulitan dalam mencapainya, termasuk di Tanah Papua. Terkait hal ini, UNICEF dan Pemerintah Australia, bekerja sama dengan pemerintah provinsi se-tanah Papua, meluncurkan fase baru Program Pembelajaran Kelas Awal untuk meningkatkan kemampuan dasar literasi dan numerasi anak-anak Papua di kelas awal sekolah dasar. Program ini merupakan bagian dari inisiatif pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Tingkat Literasi Membaca yang Rendah
Kemampuan membaca dan menulis anak-anak masih menjadi salah satu isu utama di Tanah Papua. Menurut data Wahana Visi Indonesia, masih banyak anak-anak dan remaja di Papua yang masih belum bisa membaca dan memahami bacaan bahkan ketika mereka telah lulus sekolah dasar. Temuan ini selaras dengan Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) yang diluncurkan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbudristek, dimana provinsi Papua dan Papua Barat merupakan provinsi dengan nilai indeks terendah di Indonesia. Nilai indeks itu tersusun dari empat dimensi, yakni dimensi kecakapan, dimensi akses, dimensi alternatif, dan dimensi budaya.
Reportase Kompas pada Mei 2024 menyebutkan bahwa dari 2.119 siswa kelas 3 di 171 sekolah dasar, hanya 58 persen siswa yang dapat membaca dengan pemahaman, sedangkan dan 30 persen siswa masuk kategori belum bisa membaca dan 12 persen merupakan pembaca pemula. Yang lebih mencengangkan, gurunya pun ada yang tidak lancar membaca.
Rendahnya literasi membaca anak-anak di Papua ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan kondisi secara nasional di Indonesia. Hasil penghitungan Indeks Alibaca menunjukkan bahwa angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional yaitu 37,32, masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah.
Fase Baru Program Pembelajaran Kelas Awal
Penelitian awal oleh UNICEF menunjukkan bahwa antara 12-69% siswa kelas 3 di 159 sekolah di 8 kabupaten di Papua yang menjadi sasaran program sebelumnya (2021-2024), tidak dapat membaca. Kemudian dengan intervensi yang telah dilakukan, kemampuan mereka meningkat rata-rata 35% dalam hal membaca dengan pemahaman dan jumlah siswa yang tidak bisa membaca menurun 45%. Hal tersebut dapat dicapai dengan mengatasi beberapa tantangan yang memengaruhi pendidikan anak-anak di Papua, seperti terbatasnya pelatihan guru terkait pembelajaran yang berpusat pada siswa dan kurangnya ketersediaan bahan bacaan.
Fase Baru Program Pembelajaran Kelas Awal (2024-2027) ini merupakan fase lanjutan dari program sebelumnya. Dengan dukungan dana sebesar 6 juta dolar Australia (setara Rp65,3 miliar) dari pemerintah Australia, fase baru ini menyasar anak-anak perempuan dan laki-laki, termasuk anak-anak dengan disabilitas, di sekitar 120 SD dan 36 PAUD di enam kabupaten, yaitu Pegunungan Arfak (Papua Barat), Tambrauw (Papua Barat Daya), Asmat (Papua Selatan), Paniai (Papua Tengah), Yalimo, dan Mamberamo Tengah (Papua Pegunungan).
Dalam fase baru ini, UNICEF dan mitra pelaksana daerah akan memberikan berbagai intervensi, termasuk pelatihan intensif dan pendampingan bagi para guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Melalui kerja sama dengan institusi penyelenggara pendidikan guru di provinsi-provinsi Papua, modul dan pendekatan pengajaran kelas awal yang berkualitas juga akan diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan pra-jabatan bagi guru. Selain itu, program ini juga akan membantu meningkatkan kemampuan pemimpin sekolah dalam mengatasi tantangan yang berkaitan dengan gender dan disabilitas yang dapat memengaruhi pembelajaran siswa.
Materi berkualitas akan disediakan di pusat-pusat PAUD untuk mempromosikan pembelajaran berbasis permainan dan buku-buku bacaan yang dikembangkan secara lokal akan disediakan di sekolah-sekolah dasar.
Pendidikan Berkualitas yang Inklusif
Dari pembelajaran yang dipetik dari fase sebelumnya, fase baru program ini juga akan memberikan dukungan untuk pusat-pusat PAUD. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kesiapan bersekolah anak-anak usia dini dan mendukung transisi yang menyenangkan dari pendidikan pra-sekolah ke sekolah dasar kelas 1, yang merupakan hal penting untuk membangun keterampilan dasar dan kesuksesan belajar mereka di jenjang yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan mesti diperluas ke semua jenjang pendidikan yang ada di setiap daerah. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terkait dapat dan mesti berkomitmen dan bekerja sama dalam melakukan tindakan konkret untuk mewujudkan pendidikan berkualitas yang inklusif bagi semua.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit