3 Strategi Penanganan Dampak Polusi Udara dari Kendaraan Bermotor
Foto: Revan Pratama di Unsplash.
Di wilayah perkotaan dengan arus lalu lintas yang padat, hal pertama yang kerap terlintas di kepala adalah polusi udara yang parah. Selepas Pandemi COVID-19, peningkatan aktivitas ekonomi membuat isu pencemaran udara kembali mengemuka. Dalam hal ini, penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil telah menjadi salah satu penyebab utama. Sebuah studi mengungkap dampak polusi udara dari kendaraan bermotor terhadap kesehatan masyarakat di Indonesia.
Kendaraan Bermotor di Indonesia
Setiap hari, jutaan kendaraan bermotor tumpah ruah di jalanan di berbagai daerah, dan tak jarang menimbulkan kemacetan–tidak hanya di wilayah metropolitan, tetapi juga merambat ke banyak wilayah pinggiran kota. Kendaraan-kendaraan tersebut telah menjadi penyebab utama polusi udara, dan Jakarta merupakan kota dengan tingkat polusi udara terburuk di Indonesia, bahkan menjadi salah satu yang terburuk di dunia. Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, sektor transportasi menyumbang sekitar 67,04% dari total polusi udara di Jakarta.
Kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar fosil, menghasilkan emisi gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), dan partikulat halus (PM2.5). Meski telah diakui sebagai salah satu kontributor signifikan polusi udara, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia terus mengalami peningkatan secara ajek dalam jumlah jutaan unit setiap tahunnya. Badan Pusat Statistik mencatat pada tahun 2021, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebanyak 142.001.698 unit. Kemudian pada tahun 2022, angkanya meningkat menjadi 148.261.817 unit; dan pada tahun 2023 menjadi 157.080.504 unit. Jawa Timur, Daerah Khusus Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat merupakan empat provinsi penyumbang tertinggi jumlah kendaraan bermotor.
Menurut Statista, Indonesia bahkan menjadi produsen kendaraan bermotor terbesar kedua di kawasan ASEAN. Biaya tenaga kerja yang rendah dan tingkat motorisasi yang rendah telah membuka pintu bagi semakin banyak produsen kendaraan bermotor di Indonesia.
Polusi Udara dan Dampaknya terhadap Kesehatan
Sektor transportasi merupakan salah satu sumber polusi udara dan berkontribusi dalam memperburuk kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Sebuah studi mengungkap bahwa total emisi dan konsentrasi polutan udara yang bersumber dari transportasi diperkirakan meningkat dua kali lipat pada tahun 2045. Dari keseluruhan polutan, konsentrasi PM2.5 yang ditimbulkan dari aktivitas transportasi diperkirakan akan mencapai 30 µg/m3, melewati ambang batas yang ditetapkan oleh WHO (10 µg/m3) dan pemerintah (15 µg/m3).
Tingginya polusi udara dari kendaraan bermotor juga berdampak pada peningkatan risiko kematian sebesar 2,56 kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polusi udara akan mengurangi angka harapan hidup rata-rata individu sebesar 1,8 tahun. Menurut Kemenkes, polusi udara merupakan faktor penyebab kematian tertinggi kelima di Indonesia setelah hipertensi, gula darah, merokok dan obesitas. Meskipun harapan hidup nasional diperkirakan akan semakin meningkat di masa depan, potensi kehilangan angka harapan hidup akibat polusi udara juga diperkirakan meningkat lebih tajam. Tidak hanya gangguan saluran pernapasan, peningkatan paparan polusi udara juga dapat memperburuk risiko penyakit lainnya seperti stroke, jantung, gangguan neonatal, dan lainnya.
Tanpa kebijakan dan intervensi yang jelas, masalah polusi udara dari kendaraan bermotor akan semakin buruk pada tahun-tahun mendatang. Selain menurunkan produktivitas dan angka harapan hidup masyarakat, polusi udara dalam jangka panjang juga akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi.
Tiga Strategi
Mengatasi polusi udara dari kendaraan bermotor memerlukan langkah dan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Studi tersebut mengusulkan tiga strategi sebagai rekomendasi untuk menciptakan kebijakan yang komprehensif dan berkelanjutan pada sektor transportasi.
- Strategi Avoid, mengacu pada kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi dalam sistem transportasi. Strategi ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor (menghindari/meminimalkan penggunaan energi) dalam perjalanan, misalnya dengan pengembangan kawasan terintegrasi, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk berbagai urusan (termasuk pekerjaan, pelayanan publik, dan sebagainya), dan pengembangan fasilitas mobilitas aktif (untuk pejalan kaki dan pesepeda). Berdasarkan proyeksi, pengurangan jarak tempuh sepeda motor dan mobil pribadi sesuai strategi ini dapat memberikan dampak penurunan konsentrasi PM2.5 sebesar 38% (skenario fair) hingga 52% (skenario ambisius) dengan angka absolut PM2.5 di kisaran 1418 µg/m3 pada tahun 2045.
- Strategi Shift, bertujuan untuk meningkatkan efisiensi perjalanan. Strategi ini mencakup peralihan dari moda transportasi perkotaan yang konsumsi energinya tinggi seperti kendaraan pribadi menuju moda yang lebih ramah lingkungan (transportasi umum). Beberapa strategi yang dapat dilakukan: pengembangan transportasi umum dengan pelayanan, sarana, dan prasarana yang berkualitas; dan mendorong Pembangunan Berorientasi Transit (Transit Oriented Development/TOD). Melalui strategi ini, proyeksi peningkatan penggunaan transportasi umum berpotensi menurunkan konsentrasi PM2.5 sekitar 56% (skenario fair) hingga 64% (skenario ambisius).
- Strategi Improve, berfokus pada efisiensi energi kendaraan melalui pengembangan teknologi sarana dan prasarana transportasi, di antaranya dengan pengembangan kendaraan rendah emisi; penggunaan teknologi Intelligent Transportation System (ITS) untuk mengoptimalkan aliran lalu lintas, mengurangi kemacetan, dan meminimalkan waktu perjalanan; dan penggunaan teknologi Advanced Driver Assistant System (ADAS) untuk membantu pengemudi menerapkan praktik eco-driving, seperti peningkatan dan penurunan kecepatan secara halus sehingga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi.
Menuju Sistem Transportasi Berkelanjutan
Masalah polusi udara dari kendaraan bermotor akan sulit diatasi tanpa komitmen dan dukungan yang kuat dari pengambil kebijakan dan para pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi multipihak dan lintas-sektor, termasuk dalam meningkatkan investasi dan dukungan pendanaan untuk pengembangan sistem transportasi berkelanjutan, perlu untuk terus didorong, serta didukung dengan penegakan hukum untuk memastikan seluruh kebijakan yang dirancang dapat berjalan sesuai harapan. Studi tersebut menekankan bahwa tiga strategi di atas akan menjadi lebih efektif dalam mengurangi dampak buruk sektor transportasi jika diterapkan secara simultan dan terintegrasi.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan