GATI: Mendorong Peran Ayah dalam Pengasuhan yang Setara
Foto: Kampus Production di Pexels.
Norma gender yang berlaku selama berabad-abad telah membuat peran pengasuhan sering ditumpukan pada pundak perempuan. Hal ini berdampak pada banyak aspek dalam pembangunan keluarga karena peran ayah sangat krusial dalam pengasuhan. Terkait hal ini, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) meluncurkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan sekaligus mempromosikan peran pengasuhan yang setara di masyarakat.
Fenomena Fatherless di Indonesia
Indonesia disebut-sebut sebagai salah satu negara dengan tingkat fatherless tertinggi di dunia. Meski belum ada data resmi mengenai klaim tersebut, fenomena fatherless adalah hal yang tidak dapat disangkal, terutama jika fatherless dimaknai sebagai kurangnya waktu kehadiran yang bermakna dari ayah untuk keluarganya.
Dalam kehidupan keluarga di Indonesia secara umum, sosok ayah sehari-hari pergi meninggalkan rumah untuk bekerja atau mencari nafkah. Dalam kondisi yang relatif baik, sebagian ayah mungkin sudah akan pulang pada sore atau malam hari, lantas menghabiskan sisa waktunya untuk terlibat dalam pengasuhan. Namun, dalam kenyataan umum, tidak sedikit ayah yang tetap tidak menjalankan peran tersebut sekalipun saat berada di rumah atau bersama keluarga. Budaya patriarkis yang mengakar di masyarakat telah menjadi faktor utama yang menyebabkan kondisi tersebut.
Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan
Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah secara aktif dalam pengasuhan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak. Kehadiran dan partisipasi aktif ayah dalam kehidupan anak akan meningkatkan kepercayaan diri, prestasi akademik, serta kemampuan anak dalam menjalin hubungan sosial yang sehat. Anak-anak yang memiliki hubungan positif dengan ayah cenderung menunjukkan perilaku yang lebih baik dan memiliki risiko lebih rendah terhadap masalah kesehatan mental.
Peran ayah juga penting dalam membentuk pola perilaku anak. Pengasuhan yang melibatkan ayah dan ibu secara seimbang akan memberi anak kesempatan untuk belajar tentang kerja sama, empati, dan kestabilan emosional. Keterlibatan ayah yang konsisten dan penuh kasih sayang dapat mengurangi kemungkinan keterlibatan anak dalam kenakalan atau perilaku menyimpang. Sebaliknya, kurangnya peran ayah dalam pengasuhan akan menimbulkan berbagai dampak buruk terhadap tumbuh kembang anak.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mengarusutamakan peran pengasuhan yang setara, dan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) diluncurkan untuk merespons hal tersebut.
Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI)
“GATI adalah bagian dari emansipasi pria. Jika Kartini dahulu memperjuangkan kesetaraan untuk perempuan, kini saatnya laki-laki juga mengambil peran yang setara dalam rumah tangga. Kehadiran ayah sangat penting bagi tumbuh kembang anak,” kata Wihaji, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dalam peluncuran GATI pada 22 April 2025.
GATI diharapkan dapat menjadi gerakan strategis yang mendorong ayah untuk berperan secara lebih bermakna dalam pengasuhan dan pendampingan anak, dan berbagi tanggung jawab domestik bersama pasangan. Untuk mencapai tujuan tersebut, gerakan ini mengusung empat pendekatan, yakni:
- Penguatan layanan konsultasi melalui website SiapNikah dan Satyagatra.
- Pendekatan Komunitas melalui Konsorsium Komunitas Penggiat Ayah Teladan (Kompak Tenan).
- Pendekatan berbasis desa/kelurahan Ayah Teladan di Kampung Keluarga Berkualitas untuk menjangkau para ayah yang berada di desa.
- Pendekatan berbasis sekolah melalui kegiatan Sekolah Bersama Ayah.
Mengarusutamakan Pengasuhan yang Setara
Untuk memantau dampak dari program ini, Kemendukbangga/BKKBN juga mengembangkan portal GATI, yakni platform pelaporan dan pendampingan kegiatan yang dijalankan dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. “Menjadi ayah bukan hanya soal hadir di rumah, tapi hadir di hati anak-anak kita. Teladan bukan soal kesempurnaan, tapi tentang keterlibatan dan ketulusan,” kata Wihaji.
Pada akhirnya, mengarusutamakan pengasuhan yang setara membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat dan jelas dari pemerintah, termasuk namun tidak tidak terbatas pada intervensi berupa peningkatan hak cuti ayah dan pendidikan tentang kesetaraan gender di sekolah dan di tengah masyarakat.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan