Kebijakan Telur Bebas Kandang untuk Produksi Telur yang Lebih Berkelanjutan
13 Juni 2024
Foto: Zosia Szopka on Unsplash.
Setiap hari, orang-orang di seluruh dunia mengonsumsi telur untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Namun, tahukah Anda bahwa banyak telur yang beredar di pasar melibatkan penderitaan hewan dalam proses produksinya? Hal ini terutama berlaku untuk telur yang diproduksi secara masif di peternakan dengan kandang. Demi produksi telur yang lebih bijaksana, tidak membuat hewan menderita, dan lebih berkelanjutan, penting untuk mengarusutamakan produksi telur bebas kandang.
Hal inilah yang dilakukan oleh Archipelago International, grup manajemen hotel swasta di Asia Tenggara yang menaungi 10 merek di Indonesia, bersama Dough Lab, perusahaan kukis artisan, dalam kebijakan baru mereka yang diumumkan pada awal Juni 2024.
Produksi Telur di Indonesia
Di berbagai belahan dunia, kebanyakan telur diproduksi secara masif di peternakan dengan kandang yang sempit dan seringkali berupa kandang baterai. Anda mungkin dapat membayangkan deretan ayam yang ditempatkan di kandang yang sempit, dan mereka nyaris tidak dapat bergerak kecuali menjulurkan leher untuk meraih makanan yang disediakan di hadapan mereka. Lalu, dengan posisi tubuh yang konstan, mereka kemudian mengeluarkan telur tanpa pernah memiliki kesempatan untuk mengeraminya.
Indonesia termasuk salah satu produsen telur terbesar di dunia. Statista mencatat jumlah produksi telur di Indonesia mencapai 132,04 miliar pada tahun 2022, tertinggi kedua di dunia setelah China. Sayangnya, mayoritas telur tersebut dihasilkan secara intensif melalui peternakan dengan sistem kandang, dimana unggas-unggas, terutama ayam yang paling banyak diandalkan, ditempatkan di dalam kandang yang sempit.
Dalam sistem kandang, ayam petelur tidak dapat melakukan perilaku alaminya seperti merentangkan dan mengepakkan sayap, melompat dan terbang rendah, menceker tanah dan mandi debu, hingga bersarang dan mengeram sebagaimana ayam yang hidup di alam bebas. Akibat pengurungan yang ekstrem, ayam petelur mengalami stres dan frustasi parah dan lebih rentan terhadap penyakit, yang pada gilirannya juga berpengaruh terhadap kualitas telur dan daging mereka, serta akan berdampak pula pada manusia yang mengonsumsinya.
Telur Bebas Kandang
Kesejahteraan hewan merupakan bagian dari tujuan pembangunan berkelanjutan—meski tidak disebutkan secara eksplisit. Atas dasar itu, kini mulai muncul gerakan-gerakan yang mengkampanyekan pentingnya mewujudkan kesejahteraan hewan, termasuk mengurangi penderitaan hewan ternak. Salah satu yang cukup aktif di Indonesia adalah Act for Farmed Animals (AFFA), sebuah inisiatif bersama organisasi nirlaba Animal Friends Jogja dan Sinergia Animal, yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan hewan ternak serta mendorong pilihan makanan yang lebih bijak, berbelas kasih, dan berkelanjutan.
AFFA aktif mendorong para pemangku kepentingan, terutama perusahaan peternakan dan pemerintah, untuk menciptakan sistem peternakan yang pro terhadap kesejahteraan hewan. Adapun kebijakan produksi telur bebas kandang yang diumumkan oleh Archipelago International dan Dough Lab tidak terlepas dari desakan yang dilakukan oleh AFFA selama ini.
Peternakan bebas kandang dapat secara signifikan mengurangi penderitaan unggas ternak dan berdampak positif pada konsumen. Penelitian mengenai keberadaan bakteri salmonella pada telur yang dilakukan oleh Otoritas Keamanan Pangan Eropa menemukan prevalensi bakteri tersebut lebih tinggi di peternakan dengan sistem kandang dibandingkan di peternakan bebas kandang (lepas).
“Ini merupakan pencapaian besar bagi hewan. Perusahaan yang berkomitmen terhadap kebijakan bebas sangkar membawa standar produksi pangan yang lebih tinggi, mendekatkan kita pada masa depan tanpa praktik paling kejam dalam industri peternakan seperti sistem sangkar ini,” kata Among Prakosa, Direktur Pelaksana AFFA.
Saat ini, AFFA mencatat ada lebih dari 300 komitmen bebas kandang dari perusahaan yang telah diterbitkan di Asia dan lebih dari 80 di antaranya merupakan perusahaan yang beroperasi di Indonesia.
“Kami mengundang lebih banyak perusahaan untuk peduli dan memiliki kebijakan yang mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan dalam rantai pasoknya. Perusahaan dapat mengambil bagian dalam salah satu tren keberlanjutan terbesar dan mempunyai peluang sebagai pionir perlindungan hewan dan ketahanan pangan,” imbuh Among.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja