Membangun Masa Depan Remaja yang Lebih Baik
Foto: Mochammad Hafidz di Unsplash.
Masa depan ada di tangan remaja dan anak-anak hari ini. Namun, kondisi dunia yang semakin sulit dengan berbagai krisis yang terjadi membuat masa depan remaja dan anak-anak menjadi temaram. Perubahan iklim, kerusakan lingkungan dan menipisnya sumber daya alam, hingga lapangan pekerjaan yang semakin sulit merupakan beberapa tantangan utama yang diperkirakan akan semakin memburuk pada tahun-tahun mendatang. Oleh karena itu, mereka membutuhkan dukungan yang lebih kuat untuk mencapai potensi penuh mereka dan meraih kesejahteraan dalam hidup.
Terkait hal ini, UNICEF meluncurkan Strategi Remaja 2024-2030 sebagai peta jalan untuk mendukung setiap remaja agar lebih berdaya dan dapat membuat keputusan menyangkut masa depan mereka.
Remaja dan Tantangannya
PBB mendefinisikan remaja sebagai individu berumur antara 10 hingga 19 tahun. Sementara itu, di Indonesia, secara umum remaja merupakan kelompok usia 10 tahun sampai sebelum usia 18 tahun, meski ada pula pandangan yang mendefinisikan remaja sebagai orang muda berusia 15 hingga 24 tahun. Terlepas dari itu, remaja di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang menghambat mereka dalam mencapai potensi terbaik mereka.
Salah satu tantangan utama terkait pendidikan yang belum merata di setiap daerah, terutama untuk pendidikan berkualitas. Meskipun ada kemajuan, data menunjukkan bahwa masih terdapat ketimpangan pendidikan yang signifikan antara daerah perkotaan dan pedesaan.
Tantangan utama lainnya menyangkut kesehatan remaja, terutama kesehatan mental. Kurangnya dukungan keluarga dan kondisi sosial-ekonomi yang sulit, yang diperparah dengan tekanan akademis di sekolah serta maraknya perundungan (bullying) di kalangan remaja, turut menyebabkan terganggunya kesehatan mental remaja, yang pada akhirnya juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik mereka.
Perkembangan teknologi informasi dan media sosial juga turut meningkatkan tantangan ini mengingat perundungan hingga kekerasan juga marak terjadi di ruang digital. Ironisnya, di kalangan masyarakat luas, masalah kesehatan mental remaja ini seringkali masih dianggap tabu dan stigma terkait kesehatan mental masih subur. Hal ini pada akhirnya membuat remaja sulit mengakses bantuan dan layanan kesehatan mental.
Tidak sampai di situ, penyalahgunaan narkoba dan kekerasan juga masih banyak ditemukan di kalangan remaja. BNN mencatat angka penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja mencapai 2,2 juta orang pada tahun 2023. Sementara itu, survei Kementerian PPPA menunjukkan bahwa 4 dari 10 anak perempuan dan 3 dari 10 anak laki-laki berusia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan dalam bentuk apapun di dalam hidupnya.
Strategi Remaja 2024-2030

Strategi Remaja 2024-2030 oleh UNICEF bertujuan untuk meningkatkan partisipasi remaja di berbagai bidang dan semua tahap pengambilan keputusan, dengan penekanan khusus pada partisipasi remaja perempuan dan kelompok rentan. Strategi ini menekankan penguatan berbagai program dan kebijakan pemerintah dan inisiatif-inisiatif yang sudah ada, dengan berfokus pada keterlibatan remaja yang lebih mendalam, inklusif, dan berkelanjutan. Strategi ini berfokus pada empat pilar utama, dengan menampilkan isu prioritas serta rekomendasi untuk tiap-tiap pilar, yaitu:
1. Kesejahteraan Remaja
- Membangun kapasitas remaja dalam kesehatan mental dan fisik serta gaya hidup dan pola makan sehat untuk menghindari perilaku berisiko atau tidak sehat.
- Membangun kapasitas orang tua terkait kesejahteraan remaja dan gaya hidup sehat.
- Memperkuat kapasitas pembimbing sebaya dan menyediakan platform digital interaktif.
- Mempromosikan pendidikan kesehatan reproduksi dan manajemen kebersihan menstruasi bagi remaja di sekolah, di luar sekolah, dan di lingkungan masyarakat.
2. Pencegahan Bahaya
- Mengembangkan kapasitas remaja untuk melindungi diri dari bahaya dengan memberdayakan mereka melalui program keamanan digital sekaligus memberikan kesempatan untuk mengakses informasi sesuai usia terkait kekerasan, intimidasi, eksploitasi dan pernikahan anak.
- Memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk melibatkan remaja dalam upaya pencegahan kekerasan, untuk memastikan remaja dapat mengakses informasi, mencari dukungan dan melaporkan kekerasan secara anonim.
- Memperkuat pengetahuan dan keterampilan orang tua untuk memahami berbagai tahap perkembangan remaja dan menerapkan praktik pengasuhan positif dan protektif dengan memperkuat komponen pengasuhan remaja dalam paket pendidikan yang ada untuk pengasuh, misalnya, sesi pengembangan keluarga dalam program Keluarga Harapan.
3. Pembelajaran dan Peningkatan Keterampilan
- Memperkuat keterampilan abad 21 bagi remaja seperti berpikir kritis (critical thinking), pemecahan masalah dan komunikasi, serta keterampilan relevan lainnya, termasuk keterampilan digital, keterampilan hijau, dan kewirausahaan, untuk mempersiapkan mereka memperoleh pekerjaan yang layak.
- Menyediakan jalur pembelajaran alternatif untuk mendukung pengurangan remaja NEET (tidak bekerja/menganggur atau tidak terlibat dalam pendidikan dan pelatihan) dan kelompok rentan lainnya untuk memperoleh keterampilan abad ke-21. Hal ini dapat dilakukan dengan mengarusutamakan bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) pada remaja perempuan.
- Memasukkan prinsip-prinsip desain universal ke dalam pendekatan penyampaian program pengembangan keterampilan dan materi pembelajaran.
4. Aksi Iklim
- Mengintegrasikan pendidikan iklim yang komprehensif ke dalam kurikulum sekolah.
- Terlibat dalam pembentukan inisiatif iklim dan lingkungan dalam kelompok remaja, seperti misalnya kelompok Pramuka (Praja Muda Karana) dan OSIS (organisasi siswa intra sekolah).
Partisipasi yang Bermakna
Pada akhirnya, memastikan masa depan remaja yang lebih baik mesti dilakukan dengan melibatkan mereka secara bermakna dalam setiap proses pengambilan keputusan. Sayangnya, isu ini masih menjadi penghalang utama dalam berbagai upaya yang telah dan perlu dilakukan di Indonesia. Oleh karena itu, strategi tersebut memasukkan partisipasi yang bermakna remaja sebagai pilar kelima, dengan rekomendasi sebagai berikut untuk mengatasinya:
- Meningkatkan kesadaran di kalangan remaja dan orang dewasa mengenai hak-hak remaja, termasuk hak untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, dan membangun keterampilan untuk terlibat secara bermakna.
- Memprioritaskan inisiatif pengembangan keterampilan untuk mendorong inklusivitas dalam Forum Anak, memastikan keterwakilan kelompok remaja yang beragam, dan membangun kapasitas anggotanya untuk mengatasi permasalahan remaja multisektoral.
- Membangun program pendampingan formal di mana anggota Forum Anak yang berpengalaman berperan sebagai mentor bagi kader baru, terutama mereka yang berasal dari latar belakang rentan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan