‘Nutrisi Hari Esok’: Inisiatif Menu yang Lebih Ramah Iklim
Foto: Anna Pelzer di Unsplash.
Kita membutuhkan makanan untuk hidup dan beraktivitas. Namun, sistem pangan di seluruh dunia turut berkontribusi terhadap pemanasan global melalui emisi yang dihasilkan. Oleh karena itu, penerapan pola makan berkelanjutan sangat penting untuk merespons tantangan ini. Di Indonesia, terdapat program Nutrisi Esok Hari yang menawarkan menu makanan yang lebih ramah iklim dan berkelanjutan bagi institusi publik untuk membantu mengurangi jejak karbon.
Sistem Pangan yang Tidak Berkelanjutan
Sebagian besar makanan yang kita konsumsi turut menyumbangkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang signifikan dalam proses produksinya. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa seperempat emisi GRK dunia dihasilkan dari sektor makanan dan agrikultur. Peternakan dan perikanan, misalnya, menyumbang 31% emisi GRK, dan penggunaan lahan untuk peternakan menyumbang sebesar 16%. Ironisnya, dengan emisi sebesar itu, hanya 37% protein dan 18% kalori yang disediakan oleh sektor ini untuk dikonsumsi di seluruh dunia.
Selain itu, emisi sektor peternakan juga dikaitkan dengan masalah kesejahteraan hewan ternak. Di banyak peternakan, hewan-hewan ternak seringkali diperlakukan dengan buruk—dikurung dalam kandang yang sempit dan kotor dan diberi antibiotik kimia agar tetap hidup, sebelum akhirnya dijagal untuk memenuhi permintaan pasar.
Laporan bertajuk “Perubahan Iklim dan Kekejaman: Mengungkap Dampak Nyata Industri Peternakan” mengungkap bahwa meningkatkan kesejahteraan hewan dapat menurunkan dampak perubahan iklim industri peternakan. Di samping itu, mengurangi konsumsi daging juga dapat mengurangi dampak iklim. Pengurangan konsumsi daging babi dan daging ayam per orang sebesar 50% pada tahun 2040 akan menurunkan dampak perubahan iklim rata-rata 45%, setara dengan mengeliminasi 44 juta mobil dari jalanan.
Sementara itu, laporan Komisi EAT-Lancet menyatakan bahwa sistem pangan yang selaras dengan tujuan lingkungan dan gizi terdiri atas lebih dari 90% makanan berbasis nabati.
Nutrisi Esok Hari untuk Menu yang Lebih Ramah Iklim
Diluncurkan di Indonesia sejak tahun 2021, program Nutrisi Esok Hari merupakan inisiatif kolaboratif antara Animal Friends Jogja dan Internasional Sinergia Animal, dua organisasi yang fokus mengampanyekan pilihan makanan berbasis nabati untuk mengurangi emisi karbon sektor peternakan. Terdiri atas ahli gizi dan koki profesional, inisiatif ini bertujuan untuk memberikan bantuan gratis dan kolaboratif kepada institusi publik dan swasta yang ingin menerapkan menu sepenuhnya berbasis nabati tanpa mengabaikan kualitas nutrisi dan cita rasa. Sebelum masuk ke Indonesia, program ini telah lebih dulu ada di Kolombia sejak 2019.
Saat ini, Nutrisi Esok Hari telah memiliki 15 komitmen dengan berbagai institusi di Indonesia. Melalui inisiatif tersebut, pemilik bisnis makanan hingga institusi nirlaba menerima dukungan dan panduan gratis untuk mengganti produk berbasis hewani dengan menu nabati yang dianggap dapat meningkatkan kesehatan dan menurunkan dampak buruk terhadap lingkungan. Di antara panduan tersebut adalah mengutamakan bahan-bahan lokal, mempromosikan masakan nabati asli Indonesia, serta mengkreasi ulang makanan lokal favorit dalam versi berbasis nabati tanpa mengurangi cita rasa khasnya. Mulai tahun 2024, program ini juga akan menjangkau posyandu dan usaha katering di Indonesia.
“Mengatasi perubahan iklim memerlukan implementasi pola makan yang ramah iklim dan transformasi sistem pangan. Inisiatif kami menawarkan penerapan menu berbasis nabati berkelanjutan di institusi publik, seperti sekolah, universitas, dan komunitas, dengan pendampingan ahli gizi profesional. Semua layanan ini gratis- tanpa biaya” kata Yohana.
Mengantisipasi Dampak Produksi Makanan Nabati
Sekilas, makanan nabati seolah baik dari segala sisi, terutama ketika dihadapkan dengan makanan hewani. Sebagian vegetarian fanatik mungkin akan setuju dengan anggapan itu. Namun, perkara emisi dari produksi pangan tidak boleh dilihat dengan kacamata hitam-putih. Produksi dan rantai pasok makanan nabati sendiri tidak terbebas dari “dosa” emisi GRK. Sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature Food pada tahun 2021 mengungkap bahwa produksi makanan nabati menyumbang 29% dari total emisi GRK sektor pangan, dengan beras dan gandum sebagai kontributor terbesar. Angka ini bahkan lebih tinggi dibanding emisi yang dihasilkan dari produksi daging babi, unggas, domba, kambing, dan produksi susu.
Tidak hanya serealia, sayuran dan buah-buahan pun juga demikian. Di Inggris, misalnya, konsumsi buah-buahan dan sayuran menyumbang 2,5% emisi GRK di negara tersebut, terutama dari transportasi untuk mengangkutnya. Tanpa pengelolaan yang baik dan berkelanjutan, produksi pangan nabati juga akan menimbulkan dampak yang tidak lebih baik dibanding produksi pangan hewani. Oleh karena itu, transformasi menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan seluruh aspek dalam rantai pasok, mulai dari pertanian hingga konsumsi, termasuk praktik pertanian yang ramah lingkungan, pengurangan limbah makanan, hingga sistem transportasi dan distribusi yang lebih efisien.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan