Pemulihan Lahan Gambut dengan Metode Paludikultur di Katingan
Foto: Ries Bosch di Unsplash.
Kelestarian lingkungan mensyaratkan terjaganya kesehatan dan keseimbangan seluruh ekosistem yang ada di Bumi, termasuk lahan gambut. Lahan gambut berperan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim dengan kemampuannya menyimpan karbon dalam jumlah besar. Namun, lahan gambut di banyak tempat telah mengalami degradasi yang mengkhawatirkan. Di Desa Mendawai, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, terdapat upaya kolaboratif pemulihan lahan gambut yang sedang berlangsung dengan menggunakan metode paludikultur.
Kerusakan Lahan Gambut
Gambut merupakan lahan basah yang terdapat di hampir setiap negara dan menutupi setidaknya 3% permukaan daratan dunia. Istilah “lahan gambut” merujuk pada tanah gambut dan habitat lahan basah yang tumbuh di permukaannya. Lahan gambut merupakan penyimpan karbon alami terestrial terbesar, yang dapat menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan gabungan seluruh jenis vegetasi lain di dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki lahan gambut terluas di dunia, dengan perkiraan mencapai 20,2 juta hektare–setara dengan 88% dari total lahan gambut di Asia Tenggara.
Selain penyerap karbon, gambut berperan penting dalam melestarikan keanekaragaman hayati, meminimalkan risiko banjir, menjaga kesehatan tanah, dan memastikan air minum yang aman. Di berbagai belahan dunia, lahan gambut menyediakan makanan, serat, dan produk lokal lainnya yang menopang perekonomian masyarakat, serta menyimpan informasi ekologi dan arkeologi yang penting seperti catatan serbuk sari dan artefak manusia.
Namun, ekosistem lahan gambut di seluruh dunia mengalami kerusakan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Organisasi Pantau Gambut mencatat ancaman utama lahan gambut di Indonesia adalah alih fungsi lahan yang dilakukan dengan pengeringan, pembakaran, dan penebangan hutan. Emisi dari lahan gambut yang dikeringkan diperkirakan mencapai 1,9 gigaton CO2e setiap tahunnya. Kebakaran hutan yang menghanguskan lahan gambut seluas 194.787,88 hektare pada tahun 2015, misalnya, mengeluarkan hampir 16 juta ton CO2 per hari.
Pengeringan lahan gambut juga akan mengurangi kualitas air minum karena air menjadi tercemar oleh karbon organik dan polutan yang diserap dalam tanah gambut. Kerusakan lahan gambut akan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, termasuk orangutan Kalimantan yang populasinya turun hingga 60% dalam 60 tahun terakhir dan kini terdaftar sebagai spesies yang Sangat Terancam Punah dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN.
Paludikultur untuk Pemulihan Lahan Gambut
Pemulihan lahan gambut dengan metode paludikultur di Desa Mendawai, Kabupaten Katingan, dilakukan oleh Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Mendawai. Paludikultur adalah metode budidaya tanaman di lahan gambut dengan cara mempertahankan kondisi aslinya dan membasahi kembali lahan yang telah kering. Metode ini membantu memulihkan gambut yang rusak dengan menanaminya kembali dengan tanaman lokal.
Dalam kerja sama ini, BRIN dan LPHD Mendawai menerapkan pendekatan paludikultur yang mengkombinasikan tanaman hutan seperti balangeran dan jelutung, dengan tanaman yang dapat memberikan manfaat langsung untuk masyarakat seperti tanaman buah-buahan dan sagu. Selain untuk mengembalikan tutupan hutan di lahan gambut, metode ini diterapkan dengan mempertimbangkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar.
“Restorasi lahan gambut bukan hal yang mudah, tetapi dengan teknologi paludikultur dan kerja sama semua pihak, saya optimis kita bisa memulihkan ekosistem ini. Dampaknya juga akan langsung dirasakan masyarakat karena metode ini memberikan nilai tambah ekonomi,” ujar Asep Hidayat, Kepala PREE BRIN.
Memperluas Pemulihan
Kerja sama antara BRIN dan LPHD Mendawai ini menargetkan peningkatan tutupan hutan dan cadangan karbon yang signifikan dalam tiga tahun ke depan, salah satunya melalui pembangunan demo plot paludikultur seluas 4 hektare. “Kami optimis bahwa dengan kolaborasi yang kuat, hasil dari kerja sama ini akan dapat dikembangkan lebih luas. Harapannya, ini bukan hanya menjadi proyek restorasi, tetapi juga model keberhasilan yang dapat diterapkan di tempat lain,” kata Hesti Lestari, Peneliti Ahli Utama PREE BRIN.
Pada akhirnya, pemulihan ekosistem gambut mesti diperluas ke semua daerah di Indonesia yang memiliki lahan gambut yang rusak atau terdegradasi. Namun, sangat penting untuk memastikan langkah-langkah yang tepat dan berbasis bukti, yang sesuai dengan kondisi tiap-tiap daerah. Pemetaan berdasarkan tipe, kedalaman, dan tingkat kerusakan merupakan langkah awal yang penting dalam restorasi gambut, sebelum menentukan jenis restorasi, membasahi lahan, dan melakukan revegetasi. Dalam hal ini, pelibatan masyarakat lokal adalah kunci.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit