Revitalisasi Candi Muarajambi dan Upaya Pelestarian Warisan Budaya
9 Juli 2024
Candi Muarajambi. | Foto: Kemenparekraf.
Setiap hal dalam kehidupan kita merupakan produk kebudayaan: kepercayaan, ilmu pengetahuan, hukum, adat istiadat, kesenian, pertanian, hingga perihal makanan. Di Indonesia, ada banyak warisan budaya yang unik yang berkontribusi terhadap peradaban. Tentunya, melindungi dan melestarikan warisan budaya sangat penting untuk mendukung keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Terkait hal ini, Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat melakukan revitalisasi Candi Muarajambi yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat pendidikan tertua di Asia.
Mengenal KCBN Muarajambi
Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi, atau yang umum dikenal sebagai Candi Muarajambi, merupakan kompleks percandian Hindu-Buddha yang berada di Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarajambi, Provinsi Jambi. Kompleks candi memiliki luas 3.981 hektare, membentang dari barat ke timur di Daerah Aliran Sungai Batanghari, menjadikannya terluas di Asia Tenggara.
Candi Muarajambi disebut-sebut sebagai salah satu pusat pendidikan tertua di Asia yang telah ada sejak abad ketujuh. Di kompleks candi ini terdapat ratusan situs percandian, menapo (tumpukan batu berstruktur candi), beberapa arca, kanal-kanal kuno, gundukan tanah yang di dalamnya terdapat susunan bata kuno, dan kolam penampungan air. Untuk melindunginya, pemerintah telah menetapkan kompleks candi ini sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional pada tahun 2013 berdasarkan penetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 259/M/2013.

Revitalisasi Candi Muarajambi
Revitalisasi Candi Muarajambi telah dimulai sejak tahun 2022 yang meliputi pemugaran, perencanaan pemugaran, normalisasi parit keliling, dan penataan lingkungan. Pada tahun 2023, pemerintah mulai membangun pusat pendidikan Swarnadipa.
Selanjutnya pada tahun 2024, pemerintah mulai membangun Museum KCBN Muarajambi; memugar Candi Kotomahligai dan Candi Parit Duku; melakukan perencanaan pemugaran Candi Sialang dan Candi Alun-Alun; menata lingkungan Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong, dan Candi Astano; serta membangun pusat UMKM masyarakat, pusat informasi wisatawan, dan ruang anak.
Megaproyek Revitalisasi KCBN Muarajambi ini ditandai dengan prosesi Tegak Tiang Tuo pada 5 Juni 2024. Melibatkan masyarakat setempat, revitalisasi tidak hanya berfokus pada cagar budaya, tetapi juga mengembangkan perlindungan alam dan lingkungan, termasuk membangun delapan desa budaya di sekitar Muarajambi, baik infrastruktur fisik maupun memperkuat identitas dan kearifan lokal masyarakat setempat.
“Melalui upaya ini, kami tidak hanya memperbaiki infrastruktur fisik, tetapi juga berkomitmen untuk melakukan kajian mendalam terhadap peradaban Muarajambi yang hilang melalui ekskavasi benda sejarah, mengidentifikasi makna-makna budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut bertujuan untuk mengembalikan KCBN Muarajambi menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan yang menyenangkan dan berkelanjutan bagi publik,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid.
Revitalisasi ini juga mencakup pelestarian terhadap warisan gastronomi dari daerah sekitar Muarajambi yang berasal dari rawa, sungai, dan hutan seperti rempah ratus belut, olahan ikan ruwan, dan cuko no. Pelestarian kuliner lokal diharapkan dapat membantu memelihara warisan budaya dan menawarkan pengalaman menarik bagi para pengunjung.
Memajukan Kebudayaan
KCBN Muarajambi telah diusulkan menjadi situs warisan budaya dunia UNESCO sejak tahun 2009, dan hingga saat ini belum mendapatkan pengakuan yang diharapkan. Oleh karena itu, revitalisasi ini dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Namun pada akhirnya, revitalisasi candi ini mesti dilakukan selaras dengan tujuan pemajuan Kebudayaan, termasuk memperkuat ketahanan budaya, alih-alih hanya sebagai proyek pariwisata.
“Revitalisasi KCBN Muarajambi dapat berkontribusi pada kemajuan kebudayaan dan pembangunan masyarakat Jambi. Dari segi skalanya, revitalisasi KCBN Muarajambi merupakan yang paling besar setelah revitalisasi Candi Borobudur pada tahun 1973. Candi Borobudur merupakan ikon nasional, bahkan internasional, dan dikenal di seluruh dunia. Maka diharapkan, KCBN Muarajambi yang telah direvitalisasi juga bisa menjadi destinasi wisata berbasis budaya dan religi yang termasyhur di seluruh dunia,” imbuh Hilmar.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut