Satu Peta Destinasi Wisata dan Konservasi Raja Ampat untuk Dukung Pariwisata Berkelanjutan
Foto: Ridho Ibrahim di Unsplash.
Pariwisata memiliki peran penting dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Di Kabupaten Raja Ampat, pariwisata telah menjadi tulang punggung ekonomi dengan menarik wisatawan dari berbagai penjuru untuk menikmati keindahan alam bawah lautnya yang kaya akan keanekaragaman hayati. Namun, aktivitas pariwisata di Raja Ampat juga membawa ancaman terhadap lingkungan, termasuk kerusakan terumbu karang. Terkait hal ini, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat telah meluncurkan Satu Peta Destinasi Wisata dan Konservasi Raja Ampat sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Raja Ampat.
Pariwisata dan Kerusakan Terumbu Karang Raja Ampat
Kabupaten Raja Ampat dikenal sebagai salah satu destinasi wisata ternama di dunia, terutama untuk wisata baharinya. Lanskapnya terdiri dari ratusan pulau kecil dengan empat pulau utama (Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta), atol, dan karang yang tersebar di atas air biru laut–memberikan pemandangan yang tak tepermanai bagi para pengunjung. Wilayah ini merupakan rumah bagi terumbu karang, serta memiliki pulau-pulau pasir putih, laguna biru, dan keanekaragaman hayati bawah laut yang kaya, menjadikannya surga bagi para penyelam. Keberagaman budaya dan warisan sejarah lokal yang unik turut menambah daya tarik pariwisata di daerah ini.
Namun, kegiatan pariwisata di Raja Ampat turut menghadirkan ancaman serius terhadap lingkungan, termasuk peningkatan polusi, degradasi habitat, dan kerusakan terumbu karang. Peningkatan aktivitas manusia seperti snorkeling, diving, dan lalu lintas kapal wisata merupakan ancaman nyata bagi keberlanjutan terumbu karang di wilayah tersebut. Peristiwa kapal menabrak terumbu karang Raja Ampat bahkan telah beberapa kali terjadi sejak tahun 2017. Salah satu yang terparah terjadi pada Maret 2017 ketika kapal pesiar M.V. Caledonian Sky kandas di Selat Dampier, merusak setidaknya 1,8 hektare terumbu karang.
Tidak hanya lingkungan, pariwisata di Raja Ampat juga menghadirkan dampak sosial-ekonomi bagi komunitas lokal, termasuk kesenjangan ekonomi dan fragmentasi budaya lokal.
Satu Peta Destinasi Wisata dan Konservasi Raja Ampat
Satu Peta Destinasi Wisata dan Konservasi Raja Ampat diluncurkan pada 18 Oktober 2023 sebagai upaya untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan yang berprinsip pada kelestarian alam, ekonomi, dan sosial budaya. Satu Peta ini merupakan buah kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Raja Ampat bersama sejumlah pemangku kepentingan terkait, terutama para pengelola kawasan konservasi di darat maupun di laut Raja Ampat.
Satu Peta daring ini merupakan laman interaktif yang menyajikan informasi mengenai kawasan konservasi, pusat informasi wisata yang mencakup lokasi sungai dan air terjun, goa dan peninggalan sejarah, geosite, lokasi pengamatan burung dan kehidupan satwa liar, fasilitas kesehatan, akomodasi, serta aturan-aturan wisata yang berlaku.
“Raja Ampat perlu memastikan bahwa wisatawan yang berkunjung adalah wisatawan yang bertanggung jawab, agar alam terjaga dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal, serta memperkuat dan menghormati kondisi sosial budaya di Raja Ampat. Mari bersama-sama kita atur wisata dengan bijak, agar alam terjaga dan masyarakat sejahtera,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, Ellen Risamasu.
Langkah Selanjutnya yang Diperlukan
Peluncuran Satu Peta Destinasi Wisata dan Konservasi Raja Ampat merupakan satu langkah penting dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan yang di Raja Ampat. Namun, agar seluruh aspek keberlanjutan dapat dicapai, diperlukan beberapa hal penting seperti:
- Pengelolaan lingkungan yang ketat melalui kebijakan dan regulasi, termasuk untuk melindungi terumbu karang, habitat laut, dan sumber daya alam lainnya.
- Pengembangan infrastruktur berkelanjutan, di antaranya mencakup penggunaan energi terbarukan, sistem pengelolaan limbah yang efisien, dan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.
- Pengembangan ekonomi berbasis masyarakat, yang dapat dilakukan dengan memastikan partisipasi aktif masyarakat lokal dalam industri pariwisata melalui pelatihan, pendidikan, dan pengembangan kapasitas.
- Pendidikan dan kesadaran lingkungan yang disampaikan secara konsisten dan terus menerus kepada wisatawan, masyarakat lokal, dan pelaku pariwisata untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan budaya serta cara untuk bertindak secara bertanggung jawab.
- Membangun kemitraan dan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, dan komunitas lokal dalam pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut