Perawatan Sosial Menyeluruh untuk Dukung Kesejahteraan Lansia
Foto: Joshua Newton di Unsplash.
Menua adalah keniscayaan bagi orang-orang yang berumur panjang. Namun yang menyedihkan, menjadi tua dapat berarti hidup dalam kesepian, dan—yang lebih buruk—ketakberdayaan. Di berbagai tempat, banyak orang lanjut usia (lansia) yang hidup dalam kesunyian dan terbelenggu dalam kemiskinan. Demi mewujudkan kesejahteraan lansia yang lebih baik, penting bagi semua pihak untuk mendorong terciptanya perawatan sosial menyeluruh yang mencakup berbagai aspek.
Penuaan Populasi
Setidaknya sejak tahun 2021, Indonesia telah memasuki fase penuaan populasi (ageing population), dengan jumlah penduduk lansia yang semakin meningkat. Berdasarkan Statistik Penduduk Lanjut Usia 2023, hampir 12 persen atau sekitar 29 juta penduduk Indonesia masuk kategori lansia. Persentase lansia Indonesia mengalami peningkatan setidaknya 4 persen selama lebih dari satu dekade sejak tahun 2010.
Penuaan penduduk menimbulkan tantangan signifikan, salah satunya terkait kualitas hidup lansia. Bertambahnya usia umumnya disertai dengan penurunan kemampuan fisik yang berdampak pada penurunan kemampuan untuk beraktivitas atau bekerja. Selain itu, penuaan juga sering diiringi dengan munculnya berbagai penyakit degeneratif dan disabilitas yang meningkatkan kebutuhan akan pendampingan dan perawatan terhadap lansia.
Kemiskinan Lansia
Tantangan lain yang tidak kalah serius menyangkut kemandirian finansial lansia. Meningkatnya persentase penduduk lansia berdampak pada peningkatan ketergantungan lansia terhadap kelompok usia produktif. Berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk BPS, rasio ketergantungan lansia terus meningkat dari 15,16 pada tahun 2020 menjadi 17,08 pada tahun 2023. Artinya, 100 penduduk usia produktif menanggung 17 lansia; atau dengan kata lain, satu orang lansia didukung oleh 6 penduduk usia produktif.
Tingginya rasio ketergantungan lansia tersebut dapat diperparah dengan ketidaksiapan kondisi finansial lansia. Para lansia yang semasa mudanya hidup dalam kemiskinan dan bekerja dengan upah rendah, akan sulit mempersiapkan keuangannya secara matang untuk kehidupan hari tua. Kondisi ini akan semakin buruk apabila keluarga atau keturunan lansia tidak berhasil keluar dari jerat kemiskinan.
Menurut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial 2019, 40 persen dari total lansia (sekitar 12,6 juta jiwa) berada dalam status sosial ekonomi terbawah yang masuk kategori miskin atau rentan miskin. Kemiskinan membuat banyak lansia harus bekerja untuk menyambung hidup, terutama di sektor informal yang tidak memiliki perlindungan sosial. Kondisi ini jelas berbeda dengan konteks lansia pekerja formal yang belum mencapai waktu pensiun, atau mereka yang membutuhkan pekerjaan sebagai aktivitas untuk mengusir kejenuhan.
Hidup dalam Kesunyian
Tidak hanya tentang kemiskinan, banyak pula lansia yang menghabiskan masa tua sebatang kara, atau hanya dengan pasangan. Bahkan, banyak dari mereka yang hidup terlantar dan mati dalam kesunyian. Sekilas, hal mungkin ini terlihat sebagai potret melodramatik dari kehidupan manusia, namun sebenarnya merupakan petanda lemahnya kebijakan publik dan kegagalan negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat.
Kesepian yang dialami oleh lansia sering dikaitkan dengan kondisi kesehatan mental mereka. Lansia yang hidup dalam kesendirian lebih rentan mengalami gangguan kejiwaan. Faktanya, jumlah lansia yang mengalami masalah kesehatan mental cukup tinggi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi lansia yang mengalami gangguan jiwa ringan sebesar 12,8 persen dan depresi sebesar 7,7 persen. Tidak hanya kejiwaan, kesepian juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik lansia seperti serangan jantung, stroke, kanker, diabetes, alzheimer, dan demensia.
Perawatan Sosial Menyeluruh
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 menyatakan bahwa upaya peningkatan kesejahteraan sosial lansia diarahkan agar lansia tetap dapat diberdayakan sehingga dapat berperan dalam kegiatan pembangunan. Namun selama ini, upaya untuk mendukung kesejahteraan lansia di Indonesia seringkali hanya berupa pemberian bantuan sosial bagi lansia miskin.
Lansia membutuhkan perawatan sosial menyeluruh agar lebih berdaya dan dapat menjalani hari tua dengan sehat dan aman. Perawatan sosial untuk mendukung kesejahteraan lansia memerlukan intervensi kolaboratif dan pendekatan holistik yang melibatkan beberapa aspek kunci seperti kesehatan fisik, kesehatan mental, sosial, dan lingkungan. Perawatan kesehatan fisik dapat dilakukan dengan pengelolaan penyakit kronis yang umumnya dialami lansia seperti diabetes, hipertensi, dan artritis; layanan medis rutin yang mencakup pemeriksaan kesehatan berkala dan perawatan pencegahan; dan penyediaan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan lansia.
Sementara itu, dukungan kesehatan mental dapat berupa penyediaan layanan konseling dan terapi untuk mengatasi gangguan seperti depresi dan kecemasan. Selain kesehatan mental dan fisik, perawatan sosial menyeluruh bagi lansia juga mencakup dukungan pengelolaan finansial untuk hari tua, penyediaan akses yang mudah ke berbagai layanan, perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi, hingga advokasi dan edukasi mengenai pentingnya perawatan sosial bagi lansia.
“Untuk memastikan penuaan berjalan dengan sukses dan sehat, kita harus memastikan lansia bebas dari kesepian berkepanjangan karena itu akar masalahnya. Dengan apa? Dengan menyediakan lansia jaringan sosial, memastikan keterlibatan mereka dalam komunitas, serta membantu mereka dalam transisi kehidupan menuju lansia,” kata Resti Pujihasvuty, peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN dalam webinar bertajuk “Lansia-Ku di Era Ageing Population”, 19 Juni 2024.
Pada akhirnya, perawatan sosial menyeluruh bagi lansia memerlukan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk dengan meningkatkan infrastruktur perawatan lansia dan memperkuat jaringan dukungan komunitas yang dapat membantu dalam perawatan dan interaksi sosial lansia. Selain itu, mengatasi ageisme yang menciptakan pandangan negatif, stigma, hingga diskriminasi terhadap lansia juga sangat penting untuk mendukung kesejahteraan lansia dan menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk semua.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut