SITH-ITB Petakan Potensi Ekowisata di Desa Penyangga SM Gunung Sawal
Tim SITH-ITB bersama warga kawasan penyangga Suaka Margasatwa Gunung Sawal. | Foto oleh Dokumen SITH-ITB.
Suaka margasatwa merupakan rumah bagi satwa langka dan yang terancam punah. Di beberapa tempat, suaka margasatwa memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan menjadi tempat berlindung bagi jenis satwa migrasi tertentu. Namun, keberlangsungan suaka margasatwa dan satwa-satwa liar yang tinggal di dalamnya dapat terancam oleh berbagai aktivitas manusia, termasuk ekowisata.
Di Indonesia, salah satu suaka margasatwa yang terancam oleh aktivitas ekowisata adalah Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal yang terletak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Macan tutul menjadi salah satu satwa yang sering ditangkap saat memasuki wilayah pemukiman warga karena terganggu oleh aktivitas ekowisata.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati – Institut Teknologi Bandung (SITH-ITB) yang diketuai oleh Kepala Museum Zoologi ITB Arni Sholihah, melakukan pemetaan dan pengembangan potensi ekowisata berkelanjutan di desa penyangga kawasan konservasi SM Gunung Sawal. Pemetaan dilakukan di Dusun Palasari, Desa Sukahurip, Kecamatan Cihaurbeuti, di mana warganya berencana mengembangkan ekowisata dengan salah satu objek berupa air terjun.
Kondisi Suaka Margasatwa Gunung Sawal
Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal memiliki luas 5.567 Ha dengan puncak tertinggi 1.764 mdpl. SM Gunung Sawal dihuni oleh berbagai fauna langka dan dilindungi seperti macan tutul jawa (Panthera pardus melas), kukang jawa (Nycticebus javanicus), dan elang jawa (Nisaetus bartelsi).
Selain rumah bagi satwa langka, SM Gunung Sawal juga merupakan daerah tangkapan air penting. Di dalam SM Gunung Sawal terdapat banyak sumber mata air, sungai, dan air terjun dengan peran ekologi dan ekonomi yang krusial.
Tanpa perencanaan dan pengelolaan yang tepat, aktivitas ekowisata berpotensi memberikan dampak negatif terhadap upaya konservasi kawasan SM Gunung Sawal. Akses jalan yang melingkari Gunung Sawal bukan hanya memudahkan wisatawan untuk memasuki kawasan wisata air yang mengelilingi suaka margasatwa, tetapi juga meningkatkan level intrusi aktivitas manusia di sepanjang area penyangga kawasan konservasi.
Pemetaan Potensi Wisata

Langkah pertama yang dilakukan oleh tim SITH-ITB adalah mengidentifikasi dan memetakan secara menyeluruh potensi ekowisata di Dusun Palasari. Pemetaan juga mempertimbangan masalah konflik manusia-satwa liar di kawasan desa penyangga yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Proses identifikasi dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pengumpulan informasi dari berbagai pemangku kepentingan terkait.
Selanjutnya, tim melakukan survei lapangan untuk menggali informasi fisik terkait objek biotik dan abiotik dalam ekosistem di dalam dan sekitar kawasan Dusun Palasari. Poin penting pada tahap ini adalah pemetaan objek potensial yang dapat memberikan manfaat ekonomi dengan dampak minimum pada kawasan konservasi.
Hasil pemetaan kemudian disampaikan dalam diseminasi pada Oktober 2022. Tim SITH-ITB merumuskan bahwa ecovillage merupakan model yang paling cocok diterapkan di Dusun Palasari. Sebagai bagian dari konsep ekoturisme, ecovillage berusaha untuk menjaga keaslian kawasan desa dan mengandalkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh penduduk setempat tanpa gimik turisme modern berlebihan.
Potensi yang Belum Tergarap
Pemetaan tim SITH-ITB juga menemukan bahwa terdapat potensi wisata alam yang belum tercatat oleh masyarakat setempat. Misalnya, ada satu lokasi yang potensial untuk dijadikan tempat pengamatan burung di Gunung Sawal. Untuk itu, SITH ITB merekomendasikan pembuatan jalur pengamatan burung dengan akses yang relatif mudah tanpa harus memasuki kawasan konservasi.
Selain itu, hasil pemetaan tim SITH-ITB juga menemukan fakta bahwa tingkat kelerengan Dusun Palasari cukup curam sehingga memiliki risiko longsor yang tinggi. Untuk itu, pembangunan kawasan ekowisata perlu dialihkan ke area yang relatif lebih datar untuk memastikan keamanan.
“Ekowisata berkelanjutan tak mungkin lepas dari proses penggalian informasi terkait kekayaan hayati yang menjadi modal dasar pelaksanaannya. Karena itu, pemanfaatan dan perlindungan kelestarian suaka margasatwa harus berjalan beriringan,” kata Arni kepada Green Network.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan