Status Burung 2024: Penambahan Spesies Burung di Indonesia
Burung bertengger di ranting pohon. | Foto: Mugdha Agrawal di Unsplash.
Keanekaragaman hayati seringkali tidak hanya penting bagi keseimbangan ekosistem, tetapi juga menentramkan dan menjadi penanda bahwa alam masih baik-baik saja. Di antara kekayaan spesies yang ada, burung merupakan salah satu satwa yang dapat mewakili penanda itu. Di tengah perubahan iklim dengan berbagai kerusakan yang terjadi di muka Bumi, adalah sebuah anugerah bahwa masih banyak spesies burung yang bertahan hidup—bahkan populasinya masih aman. Status Burung 2024 yang diluncurkan oleh Burung Indonesia menunjukkan bahwa spesies burung di Indonesia mengalami penambahan, namun beberapa spesies burung semakin terancam punah.
Burung dan Ancaman Kepunahan
Burung merupakan salah satu kelompok hewan dengan spesies yang sangat banyak. Di seluruh dunia, diperkirakan terdapat lebih dari 11.000 spesies burung dengan berbagai rupa dan keunikan. Sedangkan secara populasi, diperkirakan ada sekitar 50 miliar burung yang hidup di dunia. Beberapa negara memiliki spesies burung paling banyak yang jumlahnya mencapai ribuan, di antaranya Brasil, Peru, Kolombia, Indonesia, Ekuador, Venezuela, India, dan Meksiko.
Sayangnya, banyak spesies burung di dunia, termasuk di Indonesia, yang terancam punah dan sebagian bahkan hampir punah. Di Indonesia sendiri terdapat setidaknya 166 spesies burung yang terancam punah. Hilangnya habitat akibat deforestasi dan alih fungsi lahan; perburuan dan perdagangan liar; perubahan iklim; serta gangguan manusia seperti polusi, gangguan bunyi, dan gangguan langsung pada habitat burung merupakan beberapa faktor utama yang mendorong burung ke ambang kepunahan.
Status Burung di Indonesia 2024
Status Burung 2024 menunjukkan bahwa terdapat 1.836 spesies burung di Indonesia. Jumlah tersebut mencakup penambahan 5 spesies burung yang merupakan catatan baru, serta penambahan 9 spesies dari hasil pemecahan taksonomi (taxonomic split).
Lima spesies burung yang merupakan hasil catatan baru adalah camar paruh-ramping (larus genei), uncal kalimantan (macropygia tenuirostris), petrel kermadec (pterodroma neglecta), penggunting-laut hitam (ardenna grisea), dan seriwang india (terpsiphone paradisi). Sedangkan sembilan spesies dari hasil pemecahan taksonomi adalah cerek-pasir tibet (charadrius atrifrons), uncal enggano (macropygia cinnamomea), udang punggung-merah (ceyx rufidorsa), kepudang ventrilokuis (oriolus consobrinus), kacamata morotai (zosterops dehaani), cica-kopi melayu (pomatorhinus bornensis), punggok rote (ninox rotiensis), punggok timor (ninox fusca), dan punggok alor (ninox plesseni).
Selain itu, ada juga 9 spesies burung yang mengalami penggabungan taksonomi (taxonomic lump) sehingga jumlahnya menyusut menjadi 5 spesies, yakni pergam pinon (ducula pinon), walik kuping-merah (ramphiculus fischeri), cekakak-hutan dada-sisik (actenoides princeps), sikatan ninon (eumyias indigo), dan serak australia (tyto novaehollandiae).
Status Burung 2024 juga menunjukkan adanya perubahan status keterancaman pada 62 spesies burung di Indonesia. Perubahan tersebut meliputi peningkatan status 8 spesies dari kategori keterancaman rendah ke kategori dengan risiko keterancaman yang lebih tinggi, penurunan status 40 spesies dari kategori keterancaman tinggi ke keterancaman yang lebih rendah, serta 14 spesies lainnya yang baru dievaluasi dan ditetapkan kategori keterancamannya. Dari delapan spesies yang mengalami peningkatan status keterancaman, empat spesies dievaluasi sebagai spesies terancam punah secara global.
“Kakatua raja (probosciger aterrimus) salah satu contoh spesies burung yang mengalami peningkatan status keterancaman. Pada tahun lalu statusnya adalah Risiko Rendah (Least Concern), namun saat ini meningkat menjadi Mendekati Punah (Near Threatened). Perubahan status keterancaman kakatua raja disebabkan karena berkurangnya habitat alami tempat pohon-pohon yang menjadi lokasi untuk berbiak. Berdasarkan kajian BirdLife International, tingginya intensitas penangkapan burung tersebut untuk dijadikan satwa peliharaan juga turut berpengaruh pada peningkatan status keterancaman,” ujar Ria Saryanthi, Conservation Partnership Adviser Burung Indonesia.
Memperkuat Perlindungan
Perlindungan terhadap burung-burung merupakan sebuah keharusan di tengah meningkatnya potensi kepunahan akibat perubahan iklim dan berbagai faktor lainnya yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Untuk memastikan keberlangsungan keanekaragaman burung, diperlukan langkah-langkah konservasi yang lebih kuat, termasuk pengaturan yang ketat terhadap perburuan dan perdagangan burung, pelestarian habitat alam, pendidikan masyarakat tentang pentingnya melestarikan burung, serta penelitian yang berkelanjutan yang melibatkan masyarakat untuk memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh populasi burung. Semua pihak, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas lokal, dan masyarakat umum, harus berperan aktif dalam upaya perlindungan burung di Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan warga masyarakat adalah kunci untuk menciptakan kebijakan yang efektif dalam menjaga keberlangsungan burung-burung Indonesia.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat