Kerusakan Ekosistem Danau dan Pentingnya Pengelolaan Danau Berkelanjutan
Danau Toba. | Foto: Irfannur Diah di Unsplash.
Danau memiliki peran sentral dalam kehidupan kita. Lebih dari sekadar badan air besar yang memperindah bentang alam, danau memainkan peran krusial dalam berbagai aspek budaya, ekosistem, dan ekonomi. Namun sayangnya, ekosistem danau di berbagai tempat menghadapi ancaman kerusakan oleh berbagai faktor, terutama akibat aktivitas manusia. Oleh karena itu, perlu pengelolaan danau secara berkelanjutan untuk menyelamatkan dan memulihkan danau-danau di Indonesia.
Danau di Indonesia
Indonesia memiliki ribuan danau, yang tersebar dari ujung Pulau Sumatera hingga Papua. Danau-danau tersebut telah menjadi penopang kehidupan yang sangat berarti bagi manusia, menjadi sumber air bersih, membantu menghadapi krisis iklim dengan menyerap karbon, dan menjadi rumah bagi berbagai jenis spesies hewan dan tumbuhan yang unik.
Pada tahun 2020, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI—kini bagian dari BRIN) mengidentifikasi 5.807 danau yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dengan rincian 1.022 danau alami, 1.314 danau buatan, dan 3.471 danau lainnya yang tidak teridentifikasi apakah alami atau buatan. Berdasarkan luasnya, terdapat 1.797 danau yang sangat kecil (kurang dari 1 hektare), 3.949 danau kecil (1-1.000 hektare), 51 danau sedang (1.000-10.000 hektare), sembilan danau besar (10.000-100.000 hektare), dan satu danau sangat besar (lebih dari 100.000 hektare). Yang disebutkan terakhir adalah Danau Toba di Sumatera Utara.
Sayangnya, danau-danau tersebut secara umum mengalami degradasi akibat perubahan iklim dan berbagai aktivitas manusia, seperti pembuangan limbah, peternakan ikan yang tidak bertanggung jawab (seperti peternakan dalam keramba jaring apung), penebangan pohon di sekitar danau, hingga aktivitas pariwisata. Di beberapa tempat, banyak kasus di mana air danau bahkan tidak lagi dapat diminum dan terjadi kematian massal ikan-ikan akibat tingkat ketercemaran yang parah.
Mirisnya, beberapa danau besar di Indonesia yang paling ikonik termasuk danau yang paling kritis kondisinya, seperti Danau Toba, Danau Singkarak, dan Danau Poso.
Penyelamatan Danau Prioritas Nasional

Menyadari pentingnya peran danau bagi ekosistem dan perekonomian, Presiden telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional. Dalam peraturan tersebut, terdapat 15 danau yang dikategorikan sebagai danau prioritas, yaitu:
- Danau Toba di Sumatera Utara.
- Danau Singkarak di Sumatera Barat.
- Danau Maninjau di Sumatera Barat.
- Danau Kerinci di Jambi.
- Danau Rawa Danau di Banten.
- Danau Rawa Pening di Jawa Tengah.
- Danau Batur di Bali.
- Danau Tondano di Sulawesi Utara.
- Danau Kaskade Mahakam (Melintang, Semayang, dan Jempang) di Kalimantan Timur.
- Danau Sentarum di Kalimantan Barat.
- Danau Limboto di Gorontalo.
- Danau Poso di Sulawesi Tengah.
- Danau Tempe di Sulawesi Selatan.
- Danau Matano di Sulawesi Selatan.
- Danau Sentani di Papua.
Penetapan 15 danau prioritas tersebut didasarkan pada tiga kriteria, yakni:
- Mengalami tekanan dan degradasi berupa kerusakan Daerah Tangkapan Air Danau, kerusakan sempadan danau, kerusakan badan air danau, pengurangan volume tampungan danau, pengurangan luas danau, peningkatan sedimentasi, penurunan kualitas Air, dan penurunan keanekaragaman hayati yang mengakibatkan masalah ekologi, ekonomi, dan sosial budaya bagi masyarakat.
- Memiliki nilai strategis ekonomi, ekologi, sosial budaya, dan ilmu pengetahuan.
- Tercantum dalam salah satu dokumen perencanaan pembangunan, rencana induk, dan/ atau bentuk dokumen teknis lainnya di sektor air dan/atau danau.
Penyelamatan danau prioritas tersebut merupakan upaya untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan ekosistem danau, memulihkan fungsi dan memelihara ekosistem danau, dan memanfaatkan danau dengan tetap memperhatikan kondisi dan fungsinya secara berkelanjutan. Untuk menjalankan upaya ini, dibentuk Tim Penyelamatan Danau Prioritas Nasional yang terdiri dari beberapa kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.
Strategi yang dilakukan untuk menyelamatkan danau-danau tersebut adalah:
- Pengintegrasian program dan kegiatan penyelamatan danau ke dalam penataan ruang.
- Pengintegrasian program dan kegiatan penyelamatan danau ke dalam kebijakan, perencanaan, dan penganggaran.
- Penyelamatan ekosistem perairan, ekosistem sempadan, dan ekosistem daerah tangkapan air danau.
- Penerapan hasil riset, pemantauan, evaluasi, dan pengembangan basis data dan informasi.
- Pengembangan sosial ekonomi, penguatan kelembagaan, dan peningkatan peran pemangku kepentingan.
Pengelolaan Danau Berkelanjutan
Ada banyak danau di Indonesia yang mengalami degradasi dan menghadapi ancaman kerusakan di luar 15 danau prioritas tersebut. Untuk itu, penyelamatan dan pemulihan danau mesti diperluas dengan tidak sebatas pada danau-danau tertentu yang memiliki potensi besar dari segi ekonomi. Kolaborasi dan sinergi antarpemangku kepentingan lintas-sektor, termasuk dengan masyarakat akar rumput, mesti terus ditingkatkan demi mewujudkan pengelolaan danau berkelanjutan di semua tempat.
Terkait hal ini, beberapa langkah dapat dilakukan berdasarkan perjanjian tentang Pengelolaan Danau Berkelanjutan yang telah diadopsi dalam Majelis Lingkungan PBB pada Maret 2022, yaitu:
- Melindungi, melestarikan, memulihkan, dan memastikan pemanfaatan danau secara berkelanjutan, termasuk aspek-aspek seperti kualitas air, erosi, sedimentasi, dan keanekaragaman hayati perairan melalui pengelolaan terintegrasi di semua tingkatan yang didukung oleh peraturan terkait, pengembangan kelembagaan, alokasi anggaran, pemantauan dan data yang dikelola dengan baik, penelitian terpadu, teknologi berkelanjutan, dan kerja sama internasional.
- Mengintegrasikan danau ke dalam rencana pembangunan nasional dan regional, termasuk dalam adaptasi iklim, pengelolaan sumber daya air, dan konservasi keanekaragaman hayati.
- Mempertimbangkan budaya dan pengetahuan lokal serta ketergantungan dan dampaknya terhadap danau, serta memastikan keterlibatan dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal dan masyarakat adat.
- Melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi dan pusat penelitian, perusahaan swasta dan organisasi non-pemerintah, dalam upaya bersama untuk menerapkan pengelolaan danau berkelanjutan.
- Mempertimbangkan penelitian dan panduan ilmiah, dengan penekanan pada hubungan sains-kebijakan.
- Mengembangkan jaringan dan kolaborasi internasional untuk pengelolaan danau terintegrasi yang berkelanjutan dan berketahanan iklim dan secara teratur melakukan pertukaran data dan informasi antar-negara yang berbagi danau lintas-batas.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit