Kalkulator Hijau untuk Dukung Penghitungan Emisi GRK Perbankan dan Pelaku Usaha
Foto: Freepik.
Perubahan iklim menghadirkan tantangan signifikan dalam berbagai sektor, termasuk sektor jasa keuangan. Risiko krisis iklim telah berdampak secara sistemik terhadap ekonomi dan keuangan karena sifatnya yang multidimensional, simultan, dan tidak terduga. Namun, sektor jasa keuangan juga dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan keuangan berkelanjutan dan mendorong transisi menuju ekonomi hijau. Sehubungan dengan hal ini, Bank Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi meluncurkan aplikasi Kalkulator Hijau untuk mendukung upaya penghitungan dan pelaporan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) perbankan dan pelaku usaha.
Lemahnya Komitmen Bank terhadap Masalah Perubahan Iklim
Dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution tahun 2022, Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89% dengan upaya sendiri, dan 43,20% dengan dukungan internasional. Selain itu, Indonesia juga menargetkan pencapaian Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Penurunan emisi GRK tersebut membutuhkan komitmen dan upaya yang kuat dari seluruh sektor, termasuk perbankan yang selama ini menyokong pembiayaan berbagai sektor bisnis.
Sektor perbankan memiliki peran strategis dan krusial dalam mendorong percepatan penurunan emisi GRK di Indonesia, termasuk dengan mendorong transisi energi yang berkeadilan. Namun sayangnya, selama ini, peran perbankan di Indonesia secara keseluruhan belum memenuhi ekspektasi tersebut. Laporan yang diterbitkan oleh The Prakarsa mengungkap bahwa kebijakan bank dalam transisi energi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia masih rendah karena berbagai hambatan. Salah satu hambatan paling signifikan yang dihadapi oleh bank untuk merealisasikan komitmen iklim adalah regulasi yang berubah-ubah dan kontraproduktif.
Tantangan lainnya menyangkut pengetahuan internal bank terkait urgensi transisi energi dan persepsi atas bonafiditas energi terbarukan. Laporan tersebut menemukan bahwa secara umum, bank belum dapat melihat potensi keuntungan jangka panjang dari pembiayaan energi terbarukan. Bank masih menganggap bahwa pembiayaan energi terbarukan belum menghasilkan keuntungan seperti halnya pembiayaan perusahaan energi fosil.
Lebih lanjut, laporan tersebut mengungkap bahwa proporsi pembiayaan sektor energi yang teratribusi dengan energi bahan bakar fosil selalu jauh lebih dominan dibanding pembiayaan energi terbarukan untuk semua jenis pembiayaan: pinjaman, penjaminan, kepemilikan saham dan obligasi. Antara tahun 2016-2022, rata-rata proporsi pembiayaan yang teratribusi dengan energi terbarukan hanya 9,1%, sedangkan rata-rata proporsi pembiayaan yang teratribusi dengan energi fosil mencapai 90,9%.
Oleh karena itu, penghitungan dan pelaporan emisi dari sektor perbankan dan perusahaan menjadi sangat penting untuk mendorong pembiayaan yang berkelanjutan dan mendukung transisi menuju ekonomi hijau.
Kalkulator Hijau
Kalkulator Hijau merupakan alat penghitung emisi GRK berbasis smartphone yang dapat digunakan oleh perbankan dan pelaku usaha, termasuk UMKM, secara voluntary dan tanpa biaya. Berbasis standar emisi nasional, Kalkulator Hijau dapat menjadi referensi nasional, dan diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perbankan dan pelaku usaha dalam pelaporan emisi serta memberikan panduan dalam mengembangkan strategi pengurangan emisi serta menuju ekonomi emisi nol bersih. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan aplikasi ini adalah:
- Memantau tingkat kehijauan aktivitas ekonomi dan tingkat keberhasilan transisi menuju ekonomi hijau.
- Memberikan kemudahan bagi perusahaan dalam pemenuhan kebutuhan pelaporan keberlanjutan yang dipersyaratkan oleh regulator dan pasar global.
- Membuka akses yang lebih luas kepada investasi dan pendanaan hijau.
Ruang lingkup Kalkulator Hijau meliputi sumber penambah emisi serta sumber pengurang dan aktivitas penghindaran emisi yang mengacu pada SNI ISO 14064-1:2018. Aplikasi kalkulator Hijau dapat diunduh di website dan penggunaanya dapat dipelajari melalui buku panduan yang disediakan oleh Bank Indonesia.
Akan Dikembangkan
Sebagai tahap awal, aplikasi Kalkulator Hijau versi 1.0 hanya dapat mengukur Scope 1 dan 2 yang mencakup penghitungan emisi karbon yang bersumber dari pemakaian bahan bakar dan listrik. Ke depan, ruang lingkup aplikasi ini akan terus diperluas mencakup seluruh aktivitas penghasil emisi, sejalan dengan perkembangan global, atau yang lebih dikenal dengan istilah Scope 3.
“Kami berharap kalkulator hijau ini tidak hanya berfungsi sebagai pengukur, tetapi juga sebagai katalis untuk mendorong pengurangan emisi karbon di Indonesia,” kata Juda Agung, Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Namun, pada akhirnya, upaya mitigasi perubahan iklim, termasuk pengurangan emisi melalui transisi energi, membutuhkan komitmen yang kuat dan langkah-langkah nyata dari para pemangku kepentingan utama, khususnya bisnis dan pemerintah. Di samping itu, kesadaran, advokasi, hingga pengawasan dari masyarakat sipil sangat penting untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaannya.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah