Kolaborasi UN Women dan Srikandi BUMN Tingkatkan Kesetaraan Gender di Sektor Bisnis
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) untuk mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di sektor bisnis, 19 Februari 2025. | Foto: UN Women/Christina Phan.
Dunia kerja yang inklusif merupakan bagian integral dari pewujudan kesetaraan gender. Terkait hal ini, UN Women dan Srikandi BUMN memperkuat kolaborasi untuk memajukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di sektor bisnis.
Diskriminasi dan Kesenjangan Gender dalam Dunia Kerja
Kesetaraan gender merupakan hal fundamental dalam upaya mewujudkan dunia kerja yang lebih inklusif serta mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan secara keseluruhan. Namun, diskriminasi dan kesenjangan berbasis gender di dunia kerja masih terus berlangsung hingga hari ini. Berdasarkan data BPS, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan hanya di angka 54,52% pada tahun 2023, jauh lebih rendah dibandingkan TPAK laki-laki (84,26%). Kesenjangan ini semakin terasa mengingat jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Indonesia yang relatif seimbang.
Tidak hanya soal jumlah angkatan kerja, kesenjangan dan diskriminasi berbasis gender juga banyak terjadi dalam aspek lainnya, seperti pengupahan, kesempatan promosi dan peluang menduduki posisi pimpinan, ancaman PHK yang lebih tinggi, hingga pelecehan dan kekerasan seksual. Dalam sektor industri kelapa sawit, misalnya, perempuan sering dipekerjakan tanpa kontrak kerja, dibayar dengan upah rendah, dan tidak memiliki jaminan perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja. Di pabrik-pabrik tekstil yang berbagai daerah, pekerja perempuan bahkan tidak mendapatkan hak maternitas mereka dan sering dihantui ancaman PHK ketika hendak mengajukan cuti hamil atau cuti melahirkan.
Lebih lanjut, jumlah perempuan yang menduduki posisi manajemen puncak atau eksekutif di perusahaan juga masih jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Survei ILO mengenai posisi manajerial perempuan di 416 perusahaan Indonesia menunjukkan bahwa hanya 22% perempuan yang menduduki posisi eksekutif puncak dan kurang dari 10% perempuan yang menempati posisi eksekutif.
Kerja Sama UN Women dan Srikandi BUMN
Kerja sama UN Women dan Srikandi BUMN ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua belah pihak pada 19 Februari 2025. Didukung oleh inisiatif baru UN Women, ‘Gender Action Lab (GAL): Innovation and Impact for Gender Equality in Asia-Pacific’, kerja sama ini bertujuan untuk mendorong komitmen perusahaan Indonesia dalam mengadopsi praktik dan kebijakan bisnis yang responsif gender.
Untuk meningkatkan peluang dan manfaat dari kesetaraan gender, MoU tersebut menetapkan kerangka kerja sama untuk menciptakan lingkungan yang inklusif bagi pemberdayaan perempuan dengan:
- Mengembangkan dan mengimplementasikan penguatan kapasitas dalam praktik bisnis yang responsif gender di seluruh lingkungan BUMN.
- Berkolaborasi dalam penelitian untuk meninjau dan mengembangkan kebijakan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
- Asistensi teknis untuk mendukung Srikandi BUMN dalam mengadopsi dan mengintegrasikan WEPs ke dalam praktik dan budaya bisnis.
Pada kesempatan yang sama, empat Direktur Utama BUMN—ANTAM, BTN, InJourney, dan WIKA—juga menandatangani Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Perempuan (Women’s Empowerment Principles/WEPs) untuk menunjukkan komitmen sebagai pemimpin dalam mencapai kesetaraan gender. Sejak 2021, UN Women dan Srikandi BUMN telah bekerja sama untuk mempromosikan kepemimpinan dan pemberdayaan perempuan di BUMN melalui WEPs, yang memberikan panduan bagi perusahaan untuk mendorong kesetaraan gender di tempat kerja, tempat usaha, dan komunitas. Hingga saat ini, sudah ada 14 BUMN yang telah menandatangani WEPs.
Mewujudkan Kesetaraan Gender dalam Bisnis
Bank Dunia memperkirakan bahwa pencapaian kesetaraan gender di Indonesia dapat menambah USD 135 miliar terhadap PDB tahunan, 9 persen di atas rata-rata pertumbuhan. Perusahaan dengan tiga atau lebih perempuan di posisi kepemimpinan senior secara konsisten dapat menghasilkan performa yang lebih baik di seluruh dimensi organisasi.
“Kemitraan dengan Srikandi BUMN menandakan langkah penting menuju lanskap bisnis yang lebih inklusif dan setara di Indonesia. Dengan memfasilitasi sektor bisnis untuk memberdayakan perempuan dan mendorong kesetaraan gender, akan membuka potensi yang luas dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Ulziisuren Jamsran, Perwakilan UN Women untuk Indonesia dan Liaison ASEAN.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest