Meningkatkan Keselamatan Anak dan Remaja di Jalan Raya
Dua anak perempuan mengendarai sepeda listrik. | Foto: Dwi Cahyo di Unsplash.
Saat berada di jalan raya, hal yang paling utama adalah keselamatan–diri kita maupun orang lain. Kita mengenal petuah “pelan-pelan asal selamat”, dan itu sangat relevan bagi kita semua, terutama anak-anak dan remaja yang seringkali lebih rentan terhadap kecelakaan lalu lintas. Terkait hal ini, UNICEF merilis naskah kebijakan yang mengulik kesenjangan, tantangan, dan faktor risiko kecelakaan lalu lintas, serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan keselamatan anak dan remaja di jalan raya.
Kecelakaan Lalu Lintas: Kematian dan Disabilitas
Setiap hari, kita dapat dengan mudah melihat anak-anak dan remaja berada di jalan, baik saat berangkat ke sekolah, bermain, atau untuk hal lainnya. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik sepeda, dan ada pula yang mengendarai sepeda motor. Namun, selama ini, kecelakaan lalu lintas telah menjadi salah satu penyebab utama cedera dan kematian anak-anak dan remaja di Indonesia. Setiap tahun, ribuan anak dan remaja terlibat dalam kecelakaan lalu lintas, dan sebagian dari mereka meninggal dunia. Misalnya, dari total 27.895 kematian akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2022, 20 persen korban di antaranya merupakan anak-anak dan remaja berusia 0–19 tahun.
Tidak hanya tentang kematian, kecelakaan lalu lintas berdampak signifikan terhadap kehidupan anak-anak sampai kemudian hari. Mereka yang selamat dari maut, banyak yang mengalami cedera serius yang membuat mereka menjalani hidup—bahkan sisa hidup—dengan disabilitas fisik yang menghambat banyak hal dalam kehidupan mereka. Bahkan, jika diibaratkan seperti gunung es, jumlah kematian anak akibat kecelakaan lalu lintas hanyalah puncaknya, sementara sisanya di dasar lautan adalah mereka yang menjadi orang dengan disabilitas akibat cedera.
Kesenjangan dan Tantangan
Anak-anak dan remaja memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap kecelakaan lalu lintas dibandingkan orang dewasa. Kerentanan tersebut dapat berasal dari faktor risiko internal, seperti ukuran tubuh, kekuatan fisik, dan kemampuan kognitif yang matang. Selain itu, ada pula faktor-faktor risiko lain seperti kurangnya pengalaman berkendara, kondisi jalan yang tidak memenuhi standar keselamatan, serta ketiadaan perlengkapan keselamatan.
Dalam naskah kebijakannya, UNICEF memaparkan beberapa kesenjangan dan tantangan yang ada di Indonesia yang berdampak besar terhadap keselamatan anak-anak dan remaja di jalan raya, di antaranya:
- Infrastruktur jalan. Banyak ruas jalan yang perlu ditingkatkan agar memenuhi standar keselamatan.
- Pendidikan dan kesadaran. Keselamatan di jalan raya belum terintegrasi dalam kurikulum sekolah, dan upaya peningkatan kesadaran publik masih lemah.
- Penanganan pascakecelakaan. Pelatihan pertolongan pertama belum menjadi kewajiban di sekolah menengah. Layanan trauma yang sesuai dengan kebutuhan anak dan remaja juga masih belum memadai.
Meningkatkan Keselamatan Anak dan Remaja di Jalan Raya
Dengan menganalisis tantangan-tantangan yang ada, serta merujuk pada praktik baik yang terbukti secara ilmiah dalam meningkatkan keselamatan anak dan remaja di jalan raya, UNICEF menutup naskah kebijakannya dengan sejumlah rekomendasi:
- Mengintegrasikan kebijakan yang spesifik untuk anak dan remaja ke dalam rencana aksi nasional keselamatan di jalan raya, dengan pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas di antara lembaga-lembaga utama seperti Polri, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Kesehatan.
- Menyelenggarakan kampanye kesadaran publik tentang keselamatan di jalan raya yang menyasar guru, pengemudi, orang tua, dan pengasuh.
- Meningkatkan pengumpulan dan analisis data cedera akibat lakalantas pada anak dan remaja, serta memperbaiki disagregasi kelompok usia dalam data yang dikumpulkan untuk melacak penyebab dan memantau efektivitas intervensi; serta membangun sistem surveilans nasional untuk faktor risiko keselamatan jalan.
- Menerapkan zona selamat sekolah dengan batas kecepatan 30 km/jam serta meningkatkan infrastruktur bagi pejalan kaki dan pesepeda.
- Memperkuat layanan perawatan trauma anak dan sistem pertolongan prarumah sakit; serta memberikan pelatihan pertolongan pertama kepada masyarakat dan penanganan darurat kepada remaja.
Pada akhirnya, meningkatkan keselamatan anak dan remaja di jalan raya harus menjadi bagian integral dari pembangunan kota/daerah yang berkelanjutan secara keseluruhan, sehingga harus didukung dengan perencanaan infrastruktur yang ramah anak serta partisipasi aktif dari seluruh anggota masyarakat dan pemangku kepentingan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan