Penerapan Konsep BGCE untuk Pariwisata yang Lebih Berkelanjutan
Pantai Mandalika, Mataram, NTB. | Foto: Afif Ramdhasuma di Unsplash.
Dengan lanskap alam dan budaya yang kaya, pariwisata di Indonesia telah menjadi sektor penting yang mendukung perekonomian masyarakat di banyak daerah. Namun, tanpa tata kelola yang memadai dan bertanggung jawab, sektor pariwisata dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, yang pada gilirannya juga akan berdampak terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Di tengah desakan dunia untuk menerapkan pariwisata yang lebih berkelanjutan, Kementerian Pariwisata telah meluncurkan strategi penerapan konsep BGCE (Blue, Green, dan Circular Economy) dalam sektor pariwisata.
Dampak Sektor Pariwisata di Indonesia
Pariwisata termasuk salah satu sektor yang berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Pada kuartal ketiga tahun 2024, misalnya, sektor pariwisata berkontribusi 4,01% terhadap PDB. Sempat terpukul karena pembatasan mobilitas akibat Pandemi COVID-19, pariwisata Indonesia mulai pulih sejak pertengahan 2022 dan terus membaik pada tahun-tahun berikutnya. Sepanjang tahun 2024, misalnya, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara mencapai 13,9 juta, meningkat 20,17% dibandingkan tahun 2023 dan mencatatkan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Namun, meski berkontribusi besar terhadap perekonomian, pariwisata juga menimbulkan berbagai dampak negatif, baik terhadap lingkungan, sosial-ekonomi, maupun budaya lokal. Di berbagai daerah, pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata seperti hotel, diskotek, dan banyak lainnya, turut melibatkan alih fungsi lahan dan hutan, reklamasi pantai, hingga pelanggaran HAM seperti penggusuran masyarakat lokal. Overtourisme juga turut menyebabkan terkurasnya sumber daya alam, hingga menimbulkan kemacetan dan kerumunan di tempat-tempat wisata populer. Selain itu, modifikasi terhadap praktik-praktik budaya lokal demi menarik minat wisatawan telah menyebabkan pengikisan terhadap budaya lokal.
Oleh karena itu, tata kelola pariwisata yang berkelanjutan dibutuhkan untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, salah satunya dengan konsep Ekonomi Biru, Hijau, dan Sirkular (Blue, Green, dan Circular Economy/BGCE).
Konsep BGCE dan Tantangan Penerapannya
Konsep BGCE merupakan gabungan dari tiga konsep besar, yakni: Ekonomi Biru yang menekankan pentingnya keseimbangan ekonomi dengan konservasi lingkungan dalam konteks maritim dan daerah pesisir; Ekonomi Hijau yang mengintegrasikan ekonomi, lingkungan, dan sosial; dan Ekonomi Sirkular yang mengintegrasikan aktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan melalui perputaran material untuk memaksimalkan fungsi ekosistem dan kesejahteraan manusia.
BGCE pada dasarnya selaras dengan konsep pariwisata berkelanjutan, dengan mengedepankan prinsip ekonomi dan nilai manfaat dengan pertimbangan sosial-ekonomi-lingkungan. Namun, penerapan BGCE dalam sektor pariwisata bukanlah perkara mudah. Kurangnya pemahaman dan kompetensi untuk menerapkan BGCE, keterbatasan infrastruktur dan layanan pemerintah, dan kurangnya insentif dan pembiayaan untuk penerapan konsep BGCE, adalah tiga tantangan utama penerapan BGCE dalam sektor pariwisata di Indonesia.
Penerapan BGCE dalam Sektor Pariwisata
Strategi Penerapan BGCE dalam Sektor Pariwisata dari Kementerian Pariwisata bertujuan untuk menciptakan usaha pariwisata yang berkualitas dan berdaya saing dengan mengedepankan pariwisata berkelanjutan. Strategi tersebut berfokus pada empat subsektor utama pariwisata, yakni akomodasi & perhotelan, penyedia makanan dan minuman, transportasi, dan kawasan wisata, yang selama ini berkontribusi signifikan terhadap masalah lingkungan.
Berdasarkan analisis terhadap tantangan yang ada, dokumen tersebut memberikan rekomendasi rencana aksi untuk mengakselerasi penerapan BGCE, yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
- Penguatan konsep, perubahan peraturan, perencanaan dan sosialisasi BGCE.
- Pelaksanaan pilot project, pembangunan infrastruktur, dan stakeholders engagement BGCE.
- Pemberian pengakuan dan/atau sertifikasi BGCE.
“Dengan menerapkan prinsip BGCE, industri pariwisata tidak hanya akan mampu mengurangi dampak negatif terhadap iklim, tapi juga berbagai fungsi pada solusi global guna mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” kata Rizki Handayani, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata.
Mewujudkan Sektor Pariwisata yang Lebih Berkelanjutan
Pada akhirnya, mewujudkan pariwisata yang lebih berkelanjutan membutuhkan partisipasi dan sinergi seluruh pihak, mulai dari komunitas lokal dan kelompok pengelola wisata, hingga bisnis dan pemerintah. Seluruh kebijakan dan program nasional hingga pengelolaan pariwisata di tingkat daerah dan akar rumput harus mempertimbangkan berbagai aspek untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal di belakang.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan