Pentingnya Komitmen Lembaga Keuangan terhadap Isu Kesejahteraan Hewan
Foto: Austin Santaniello di Unsplash.
Ketahanan pangan dan kesejahteraan hewan adalah dua isu yang bertaut. Banyak makanan yang beredar di pasar merupakan hasil dari pemanfaatan hewan, dan tidak jarang mengorbankan kesejahteraan hewan dalam proses produksinya. Mengingat betapa krusialnya dua isu ini dalam pembangunan berkelanjutan, menjadi penting bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk lembaga keuangan, untuk ikut berpartisipasi dalam mewujudkannya. Namun, sebuah laporan mengungkap minimnya komitmen lembaga keuangan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, dalam melindungi kesejahteraan hewan dan mendukung pangan berkelanjutan.
Kerawanan Pangan dan Penderitaan Hewan
Kerawanan pangan merupakan salah satu isu mendesak di berbagai belahan dunia saat ini. Di Indonesia sendiri, terdapat 68 kabupaten/kota yang rentan terhadap keadaan rawan pangan. Kerawanan pangan akan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dan sosial, yang dapat berujung pada bencana kelaparan.
Ketika berbicara tentang pangan, kesejahteraan hewan merupakan hal yang tak terpisahkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu sumber daya yang paling berkontribusi dalam menyediakan pangan bagi manusia adalah hewan. Sayangnya, masalah kesejahteraan hewan dalam produksi pangan seringkali belum dianggap sebagai suatu hal yang penting.
Banyak hewan, terutama hewan-hewan di industri peternakan yang “diproduksi” secara cepat dalam jumlah besar, diperlakukan dengan buruk selama hidup mereka yang singkat. Mereka ditempatkan di kandang yang sempit dan berdesak-desakan sehingga mereka tidak dapat melakukan tingkah alamiahnya, bahkan untuk sekadar membalikkan badan. Tidak hanya akan mempengaruhi produksi pangan, hal ini juga dapat meningkatkan risiko penyebaran zoonosis.
Isu kesejahteraan hewan tidak hanya menyangkut hewan ternak dan produksi pangan, melainkan juga banyak sektor dan aspek lainnya. Sebagai contoh, industri bulu telah membunuh 100 juta hewan liar untuk diambil kulitnya. Contoh lain, perdagangan satwa liar telah menyebabkan lebih dari 60% penurunan kelimpahan spesies. Banyak pula orang yang mengeksploitasi hewan sebagai alat hiburan dan berbagai tujuan komersial lainnya.
Minimnya Komitmen Bank terhadap Isu Kesejahteraan Hewan
Laporan bertajuk “Beyond Profits: Global Review of Financial Institutions in Animal Welfare and Food Systems” yang diterbitkan oleh Sinergia Animal menyatakan bahwa lebih dari 53% bank di seluruh dunia, termasuk bank-bank di Indonesia, tidak memiliki komitmen terhadap isu kesejahteraan hewan dan pangan berkelanjutan. Pangan berkelanjutan yang dimaksud adalah pangan berbasis nabati. Laporan tersebut memberikan analisis terhadap 80 lembaga keuangan di 22 negara dengan menggunakan 21 kriteria, di antaranya lima prinsip kebebasan hewan, transportasi untuk membawa hewan, perdagangan satwa, rekayasa genetika, dan konservasi. Dalam laporan tersebut, bank-bank di Indonesia, termasuk bank-bank pelat merah, mendapatkan poin 0 pada seluruh kriteria.
Lebih lanjut, laporan tersebut mengungkap bahwa banyak sektor yang berkaitan dengan isu kesejahteraan hewan mendapatkan pendanaan dari bank. Penelitian Feedback Global menemukan bahwa antara tahun 2011 hingga 2020, lembaga keuangan memberikan lebih dari USD 628 miliar pinjaman dan penjaminan kepada perusahaan daging dan susu, serta memiliki obligasi dan saham senilai USD 226 miliar. Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa di tengah meningkatnya komitmen lembaga keuangan terkait isu HAM dan perlindungan lingkungan, sebagian besar lembaga keuangan masih tertinggal dalam mendukung seruan global mengenai kesejahteraan hewan dan transformasi sistem pangan.
Peran Penting Lembaga Keuangan
Kesejahteraan hewan adalah bagian integral dari sistem pangan yang berkelanjutan. Komitmen lembaga keuangan terhadap isu kesejahteraan hewan dan pangan berkelanjutan sangat penting karena lembaga keuangan memiliki peran krusial dalam mempengaruhi praktik bisnis dan keberlanjutan di berbagai sektor, termasuk sektor pangan, pakaian, dan banyak lainnya.
Lembaga keuangan dapat menjadi penentu kebijakan dan praktik bisnis perusahaan yang mereka dukung melalui investasi dan pembiayaan. Dengan mendorong perusahaan untuk menaruh komitmen pada isu kesejahteraan hewan dan mendorong transisi menuju pangan berkelanjutan, lembaga keuangan dapat membantu mengubah seluruh rantai pasok makanan. Komitmen lembaga keuangan terhadap isu kesejahteraan hewan dan pangan berkelanjutan tidak hanya penting untuk keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan hewan, tetapi juga untuk mengurangi risiko keuangan jangka panjang dan mempromosikan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Pada bagian penutup, laporan tersebut merekomendasikan lembaga keuangan agar memasukkan aspek kesejahteraan hewan ke dalam persyaratan terkait tata kelola, manajemen, kebijakan, dan pelaporan risiko ESG. Laporan tersebut juga memberikan rekomendasi kepada regulator keuangan agar memasukkan kesejahteraan hewan ke dalam kriteria pemeringkatan lembaga keuangan.
“Bank punya kekuatan dan tanggung jawab untuk mewujudkan masa depan di mana kesejahteraan hewan, aksi iklim, dan kesehatan manusia terintegrasi ke dalam inti praktik ekonomi. Laporan ini merupakan seruan bagi sektor keuangan untuk memprioritaskan keberlanjutan jangka panjang dibandingkan keuntungan jangka pendek, memprioritaskan kesejahteraan hewan, dan membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan,” ujar Merel van der Mark, Manajer Program Animal Welfare and Finance Sinergia Animal.
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest