Program PENA: Menghapus Kemiskinan Ekstrem dengan Bantuan Modal Usaha
Foto: Refhad di Unsplash.
Kemiskinan masih menjadi permasalahan serius di Indonesia hingga hari ini. Meskipun data pemerintah menunjukkan adanya penurunan persentase dari tahun ke tahun, kenyataannya orang yang hidup dalam kemiskinan masih dapat dijumpai di berbagai tempat—termasuk mungkin tak jauh dari tempat kita tinggal. Sebagai upaya untuk menghapus kemiskinan ekstrem di Indonesia, Kementerian Sosial meluncurkan Program Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA) yang memberikan bantuan modal usaha bagi orang-orang miskin ekstrem agar lebih berdaya.
Kemiskinan Ekstrem yang Masih Berlanjut
Penduduk yang dikategorikan miskin ekstrem adalah penduduk yang memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tidak lebih dari USD 1,9 per hari (Purchasing Power Parity/Paritas Daya Beli atau PPP 2011). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terdapat 0,83 persen penduduk Indonesia yang hidup dalam kemiskinan ekstrem per Maret 2024. Angka ini bisa lebih tinggi apabila pemerintah menggunakan standar PPP 2017, yakni USD 2,15 per hari, sebagaimana telah diperbarui oleh Bank Dunia.
Pemerintah telah menargetkan penurunan kemiskinan ekstrem hingga nol persen pada tahun 2024 berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2022. Namun, target tersebut menemui jalan terjal untuk dapat tercapai. Perubahan iklim dan berbagai krisis yang sedang berlangsung saat ini membuat kerentanan masyarakat terhadap kemiskinan semakin meningkat di mana-mana. Tanpa antisipasi yang berarti, banyak orang yang akan terjerembab ke dalam kemiskinan, bahkan kemiskinan ekstrem. Pandemi COVID-19 telah menunjukkan hal tersebut.
Program Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA)
Program Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA) merupakan program Kementerian Sosial yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat miskin ekstrem dengan bantuan modal usaha dan penguatan produksi dengan jumlah maksimal Rp 5 juta per Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Sasaran program ini adalah keluarga penerima bantuan sosial (bansos) yang usianya masih produktif, yakni 20-40 tahun.
Ada beberapa kelompok penerima manfaat program ini, antara lain penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan sembako (PENA Berdikari); orang dengan disabilitas, korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dan kelompok rentan (PENA Atensi); anak muda dari KPM PKH yang telah lansia (PENA muda); dan PENA Komunitas. Selain bantuan modal usaha, program ini juga menyediakan pelatihan dan pendampingan usaha hingga penerima manfaat dapat menjalankan usaha secara mandiri.
Sejak diluncurkan pada November 2022, Kemensos mengklaim bahwa program ini telah menggraduasi 28.775 KPM hingga Juni 2024. KPM yang telah graduasi tidak lagi menerima bansos dari pemerintah. Namun, pendampingan terhadap mereka tetap dilakukan hingga usahanya berjalan stabil.
Untuk memastikan efektivitas dari program ini, diperlukan pemantauan dan evaluasi menyeluruh dan transparan terhadap implementasinya di lapangan. Seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pusat hingga di tingkat desa, mesti menjaga integritas dan meningkatkan kapasitas dalam menjalankan tugas. Pendataan mengenai penerima manfaat yang tepat sasaran sangat krusial dalam memastikan dampak yang diharapkan dari program ini.
Mengakhiri Kemiskinan secara Sistemik
Kemiskinan pada dasarnya bersifat multidimensi dan kompleks, bukan hanya tentang keadaan dimana orang tidak punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Menyederhanakan kemiskinan sebatas pada soal daya beli akan membuat upaya pemberantasan kemiskinan menjadi terhambat, dan akhirnya membuat kemiskinan terus berlanjut. Demikian pula, segala faktor yang memungkinkan orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan mesti dipahami dan diantisipasi.
Oleh karena itu, pemberantasan kemiskinan tidak boleh berhenti hanya sekadar mengejar target. Yang dibutuhkan adalah menghapus kemiskinan secara sistemik dengan mempertimbangkan seluruh aspek yang melingkupinya: layanan kesehatan yang adil, pendidikan berkualitas dan merata, pekerjaan yang layak, hingga lingkungan yang sehat.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan