Rendahnya Tingkat Kebugaran Jasmani Masyarakat
Foto: Freepik.
Secara alamiah, manusia adalah makhluk yang perlu melakukan aktivitas fisik dalam siklus hidupnya untuk menunjang kesehatan raga dan jiwa. Namun, perkembangan peradaban, terutama yang ditandai dengan kemajuan teknologi, telah membuat banyak orang kurang melakukan aktivitas fisik dalam kesehariannya, sehingga berdampak terhadap kebugaran jasmani dan kesehatan mental. Selain itu, rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga, termasuk karena kurangnya ketersediaan fasilitas olahraga yang memadai, turut menjadi faktor utama masalah ini.
Hidup yang Semakin “Praktis” dan Kurangnya Aktivitas Fisik dan Olahraga
Hari ini, hampir seluruh aspek kehidupan kita telah berubah drastis dibandingkan dengan keadaan pada masa-masa dahulu, khususnya dalam hal kepraktisan yang mempengaruhi keterlibatan aktivitas atau gerakan fisik.
Dulu, untuk menyampaikan sebuah kabar ke seseorang yang jauh, misalnya, kita setidaknya harus menempuh perjalanan yang menggerakkan raga kita, baik secara langsung ke alamat yang dituju ataupun melalui surat yang kita titipkan lewat kantor pos. Kini, urusan yang sama bisa beres dalam hitungan detik melalui pesan yang kita kirimkan dengan sentuhan jari di layar ponsel.
Di bidang pertanian, penyiraman tanaman yang dulu harus dilakukan secara manual dengan gerakan fisik yang intens, kini dapat diwakilkan oleh mesin yang menyebarkan air secara otomatis dan cepat. Di bidang pendidikan, pembelajaran yang dulu hanya mungkin berjalan secara langsung tatap muka, kini dapat diikuti hanya dari kamar sambil leyeh-leyeh di atas kasur. Demikian juga halnya di dunia kerja, semakin banyak jenis pekerjaan yang tak lagi membutuhkan aktivitas fisik, dan sebaliknya banyak jenis pekerjaan yang membuat para pekerja hanya duduk berjam-jam di depan layar laptop.
Hal serupa juga terjadi di hampir semua sendi-sendi kehidupan kita—jika tidak dapat menyebutnya semua–dan mungkin semua orang telah menganggapnya sebagai suatu hal yang lazim. Keadaan semakin diperparah oleh kurangnya motivasi masyarakat untuk berolahraga. Kesibukan, tuntutan pekerjaan atau sekadar mencari penghasilan untuk menyambung hidup, membuat olahraga jauh dari kebiasaan–bahkan pikiran–banyak orang. Kurangnya sarana dan prasarana olahraga, di samping kurangnya waktu luang untuk berolahraga, juga turut menjadi faktor penyebabnya.
Rendahnya Kebugaran Jasmani
Laporan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2024 mengungkap bahwa terdapat 55,5% masyarakat Indonesia (114 juta orang) berusia 10-60 tahun yang berada dalam kategori kebugaran jasmani ‘Kurang Sekali’ atau sangat buruk. Sebanyak 24,7% lainnya (50,7 juta orang) masuk dalam kategori ‘Kurang’ atau buruk. Sebaliknya, hanya 6,3% (12,9 juta orang) yang kebugaran jasmaninya masuk kategori “baik ke atas”, dengan rincian 4,4% masuk kategori ‘Baik’, 1,1% ‘Baik Sekali’, dan 0,8% ‘Unggul’. Sisanya, 13,5% masyarakat masuk dalam kategori ‘Sedang’.
Sebuah penelitian mengungkap bahwa kekurangan aktivitas fisik atau olahraga dapat menurunkan kebugaran jasmani seseorang dan meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, kanker, dan penyakit kardiovaskular. Tidak hanya itu, kurangnya aktivitas fisik atau olahraga juga dapat meningkatkan gangguan kesehatan mental, seperti mood-swing atau emosi yang tidak stabil, kecemasan, stres, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya.
Kesenjangan Gender dalam Aktivitas Olahraga
Rendahnya kebugaran jasmani masyarakat berkaitan erat dengan ketimpangan partisipasi berbasis gender dalam kegiatan olahraga di tengah masyarakat. Laporan IPO 2024 menunjukkan bahwa angka partisipasi perempuan dalam berolahraga jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki pada semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Beberapa faktor penyebabnya adalah:
- Konstruksi sosial masyarakat yang kurang mendukung perempuan untuk melakukan aktivitas olahraga layaknya laki-laki.
- Anggapan bahwa aktivitas olahraga dapat mengganggu organ reproduksi. Faktanya, persepsi tersebut tidak seluruhnya benar, sebab olahraga yang dilakukan secara teratur dan dengan takaran yang sesuai, justru dapat bermanfaat bagi organ reproduksi dan kesehatan perempuan secara keseluruhan.
- Kerja-kerja domestik atau perawatan yang seringkali dibebankan kepada perempuan, membuat banyak perempuan tidak punya waktu luang yang memadai untuk terlibat dalam kegiatan olahraga.
Perkembangan Positif dan Tantangan Besar
Secara keseluruhan, terdapat perkembangan positif—meski sangat kecil—dalam IPO 2024 jika dibandingkan tahun sebelumnya, antara lain pada dimensi literasi fisik yang berdampak pada angka partisipasi masyarakat dalam berolahraga. Namun, permasalahan rendahnya kebugaran jasmani masyarakat ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam upaya pembangunan manusia di Indonesia, khususnya dalam bidang keolahragaan, yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan semua orang.
Oleh karena itu, perlu ada tindakan yang lebih kuat dan bermakna untuk meningkatkan kebugaran jasmani masyarakat dan Indeks Pembangunan Olahraga secara keseluruhan, yang pada akhirnya mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Laporan tersebut memaparkan beberapa tindakan atau hal yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu:
- Penguatan dan perluasan infrastruktur dan fasilitas olahraga yang memadai dan mudah diakses di seluruh daerah hingga ke pelosok pedesaan dan daerah terpencil, untuk mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam kegiatan olahraga. Hal ini harus dilakukan dengan prinsip inklusivitas, terutama dari perspektif gender dan disabilitas, agar tidak ada seorang pun yang tertinggal di belakang. Selain ketersediaan, perawatan fasilitas olahraga juga sangat penting.
- Peningkatan literasi fisik. Memperluas pendidikan tentang pentingnya olahraga dan gaya hidup sehat sejak dini, termasuk melalui kurikulum sekolah dan kampanye masyarakat yang lebih luas.
- Inovasi dalam program olahraga. Mengadakan program atau acara olahraga yang lebih menarik, mudah diakses, dan menyenangkan untuk mendorong masyarakat untuk lebih aktif.
- Kolaborasi antara pemerintah dengan sektor swasta untuk mempercepat pengembangan industri olahraga, baik dari sisi infrastruktur, pembinaan atlet, maupun penyelenggaraan acara olahraga.
- Peta Jalan Industri Olahraga untuk mengembangkan industri olahraga yang tidak hanya berfokus pada prestasi, tetapi juga pada aspek ekonomi dan pariwisata olahraga.
Namun pada akhirnya, meningkatkan aktivitas fisik untuk mendukung kesehatan masyarakat membutuhkan dukungan yang bersifat sistemik, yang lebih dari sekadar tentang pengembangan dan pengelolaan olahraga di tengah masyarakat. Isu-isu yang lebih mendasar, seperti kemiskinan, kurangnya lapangan pekerjaan yang layak, dan peluang ekonomi yang setara, harus diatasi. Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan lintas-sektor harus bersinergi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja