UNESCO dan Kominfo Luncurkan Alat Ukur Kesiapan Penerapan AI
Penandatanganan peluncuran Metodologi Penilaian Kesiapan AI di Indonesia oleh Nezar Patria. | Foto: UNESCO/Aisyah Agusty.
Perkembangan dan pemanfaatan teknologi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan. Saat ini, banyak negara di dunia mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menunjang pembangunan dalam berbagai aspek, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, hingga pengembangan energi terbarukan. Namun, mengingat dampak yang dapat ditimbulkan, penerapan teknologi AI mesti dilakukan dengan mengikuti etika yang berlaku. Terkait hal ini, UNESCO dan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) meluncurkan Metodologi Penilaian Kesiapan (Readiness Assessment Methodology/RAM) AI, yang bertujuan untuk mendukung negara-negara anggota UNESCO dalam mengukur kesiapan dalam menerapkan AI secara etis dan bertanggung jawab demi kepentingan seluruh warga negara.
Kesiapan Indonesia dalam Penerapan AI
Sebuah studi yang dilakukan oleh IDC Asia Pasifik dan Microsoft pada tahun 2019 menunjukkan bahwa Indonesia belum siap untuk menerapkan AI. Ada enam dimensi yang menjadi indikator penilaian kesiapan penerapan Al di suatu negara menurut studi tersebut, yakni strategi, investasi, budaya, kapabilitas, infrastruktur, dan data. Menurut studi tersebut, Indonesia masih mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Pasifik dalam hal investasi, strategi, dan data untuk mengakselerasi penerapan AI secara menyeluruh.
Sementara itu, menurut Global AI Index 2023 yang diterbitkan oleh Tortoise Media, Indonesia berada di peringkat ke-46 dari 62 negara yang dinilai berdasarkan tiga pilar, yakni investasi, inovasi, dan implementasi. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Government AI Readiness Index 2023 oleh Oxford Insight, dimana Indonesia masih lemah dalam aspek teknologi serta data dan infrastruktur.
Selain itu, kesiapan Indonesia dalam menerapkan AI juga perlu ditingkatkan, terutama terkait sumber daya manusia, tata kelola data, dan regulasi terkait keamanan siber.
Metodologi Penilaian Kesiapan AI
Dikembangkan oleh UNESCO, Metodologi Penilaian Kesiapan (RAM) AI merupakan alat yang selaras dengan standar etika AI global. Indonesia bersama 193 negara anggota UNESCO lainnya telah berkomitmen untuk mengimplementasikan Rekomendasi Etika AI UNESCO yang diluncurkan pada November 2021.
Sejak awal tahun 2024, menyusul adopsi Rekomendasi Etika AI UNESCO dan penerbitan Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika AI, UNESCO dan Kominfo telah bekerja sama dalam mempersiapkan implementasi RAM di Indonesia. Alat pengukur ini menilai berbagai dimensi kesiapan penerapan AI, termasuk aspek hukum, sosial budaya, ekonomi, pendidikan dan infrastruktur. Inisiatif ini juga bertujuan untuk mendukung perumusan strategi dan kebijakan nasional terkait AI.
“AI adalah salah satu teknologi paling ampuh yang kita miliki di era digital ini, kita tidak punya waktu untuk berhenti sejenak, sehingga kita didorong untuk bertindak cepat dan bijak. Hasil laporan RAM akan menampilkan rekomendasi yang mengarahkan intervensi strategis dan kerangka regulasi yang penting untuk tata kelola AI yang bertanggung jawab di Indonesia. UNESCO sangat mengapresiasi kolaborasi dan komitmen Kominfo dalam pelaksanaan RAM,” ujar Maki Katsuno-Hayashikawa, Direktur Regional Kantor UNESCO Jakarta.
RAM AI mencakup serangkaian pertanyaan kuantitatif dan kualitatif yang dirancang untuk mengumpulkan informasi terkait ekosistem AI suatu negara, termasuk dimensi hukum dan peraturan, sosial dan budaya, ekonomi, sains dan pendidikan, serta dimensi teknologi dan infrastruktur. Implementasi RAM di Indonesia didukung oleh Patrick J. McGovern Foundation.
“Sejak tahun 2019, Indonesia telah mendukung serangkaian prinsip AI yang mendorong penggunaan AI yang inklusif dan bertanggungjawab, mengikuti rekomendasi dari UNESCO. Indonesia harus memastikan kebijakan kita telah mencerminkan nilai-nilai pengembangan AI seperti hak asasi manusia, perdamaian, keragaman, inklusivitas, dan keberlanjutan lingkungan. Dalam kemitraan bersama dengan UNESCO, kami akan melaksanakan penilaian kesiapan AI secara komprehensif di berbagai dimensi di Indonesia,” kata Wakil Menteri Kominfo Nezar Patria.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan