Kerja Sama Indonesia-Inggris untuk Tingkatkan Konservasi Laut
28 Januari 2025
Foto: Andika Christian di Unsplash.
Laut merupakan salah satu penopang kehidupan terpenting di Bumi dan sumber penghidupan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Namun, berbagai aktivitas manusia telah menimbulkan degradasi laut yang signifikan, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, upaya konservasi laut perlu ditingkatkan demi masa depan yang lebih baik. Terkait hal ini, Indonesia menjalin kerja sama dengan Inggris untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan konservasi laut.
Degradasi Laut
Mulai dari makanan hingga transportasi dan pengangkutan, kehidupan manusia sangat bergantung pada laut dalam berbagai sektor. Namun sayangnya, berbagai aktivitas yang tidak bertanggung jawab telah menyebabkan kerusakan dan degradasi laut yang mengancam kehidupan masyarakat pesisir dan jutaan orang lainnya yang bergantung pada laut yang sehat.
Penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (Illegal, Unreported, and Unregulated/IUU Fishing) menjadi salah satu masalah utama. Hal ini diperparah dengan buruknya penanganan di Indonesia, sebagaimana ditunjukkan oleh IUU Fishing Index 2023. Pada saat yang sama, Indonesia juga menghadapi masalah perburuan liar berbagai biota laut kritis seperti hiu, pari, dan penyu.
Selain itu, polusi sampah, terutama sampah plastik, juga menjadi masalah yang paling menonjol. Pada tahun 2022, misalnya, jumlah sampah plastik di lautan Indonesia mencapai 398 ribu ton. Masalah signifikan lainnya adalah degradasi terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove; tumpahan minyak dan pembuangan limbah tambang; hingga perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu dan naiknya permukaan laut hingga perubahan pola cuaca yang berdampak terhadap keanekaragaman hayati laut dan mata pencaharian nelayan.
Blue Planet Fund Country Plan
Kerja sama Indonesia-Inggris dalam meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan konservasi laut dilakukan melalui proyek Blue Planet Fund Country Plan yang diluncurkan di Jakarta pada 21 Januari 2025. Proyek ini berfokus pada upaya peningkatan kapasitas dan partisipasi publik, serta penguatan sistem data dan informasi konservasi.
Proyek Blue Planet Fund (BPF) senilai 500 juta poundsterling telah diluncurkan Inggris sebagai bagian dari upaya global untuk melindungi dan meningkatkan ekosistem laut melalui konservasi dan pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan. BFP memiliki beberapa bidang prioritas, termasuk konservasi laut, budidaya perikanan berkelanjutan, dan kawasan konservasi perairan seperti ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang.
Salah satu program utama BFP di Indonesia adalah Adaptasi Iklim dan Laut serta Transisi Berkelanjutan (Climate and Ocean Adaptation and Sustainable Transition/COAST). Program COAST dirancang untuk mengatasi tantangan penurunan keanekaragaman hayati sekaligus menghadapi dampak perubahan iklim. Indonesia merupakan salah satu negara prioritas dalam pelaksanaan program ini, bersama Vietnam, Filipina, dan Mozambik.
“Pengelolaan kawasan konservasi penting dilakukan bersama karena berkaitan dengan penyerapan emisi karbon yang menjadi pemicu utama perubahan iklim,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.
Memperluas Kawasan Konservasi Laut
Indonesia telah menetapkan kebijakan Ekonomi Biru dengan lima prioritas utama, salah satunya memperluas kawasan konservasi. Dalam hal ini, Indonesia berencana melindungi 10% wilayah laut pada tahun 2030 dan 30% atau sekitar 97,5 juta hektare pada tahun 2045. Untuk memperluas kawasan konservasi laut dan memastikan pengelolaan yang efektif, Indonesia menerapkan tiga strategi, yakni:
- Mengintegrasikan 30% kawasan konservasi laut ke dalam rencana konsep pembangunan jangka panjang dan rencana tata ruang laut nasional dan regional.
- Memperkuat regulasi untuk pengelolaan kawasan konservasi laut.
- Mengembangkan dokumen Visi Kawasan Konservasi Laut 2045.
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir
Pada akhirnya, memperluas kawasan konservasi laut mesti dilakukan beriringan dengan upaya peningkatan kesejahteraan nelayan kecil dan masyarakat pesisir secara keseluruhan. Hal ini menjadi semakin mendesak mengingat masih banyak nelayan kecil dan masyarakat pesisir yang secara ironis hidup dalam kemiskinan, padahal mereka berperan penting dalam upaya konservasi laut. Memastikan seluruh kebijakan yang diambil tidak meminggirkan mereka adalah hal yang utama.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut