Nasib Petani Indonesia di Tengah Dampak Perubahan Iklim
18 Oktober 2024
Foto: Jantri Simbolon di Unsplash.
Petani adalah nyawa pertanian dan tulang punggung ketahanan pangan dan ekonomi banyak keluarga. Namun ironisnya, kehidupan para petani di Indonesia tak kunjung membaik dari waktu ke waktu. Sampai saat ini, masih banyak petani yang hidup dalam kemiskinan dan perubahan iklim membuat keadaan semakin sulit bagi mereka. Sebuah laporan kolaboratif yang diterbitkan oleh LaporIklim bersama sejumlah lembaga dan organisasi masyarakat sipil mengeksplorasi persepsi petani di Indonesia terhadap berbagai kebijakan terkait pertanian di Indonesia dalam satu dekade (2014-2024) dan pengaruhnya dalam merespons dampak perubahan iklim.
Kebijakan yang Tak Menyelesaikan Persoalan
Laporan tersebut disusun berdasarkan hasil Survei Persepsi Petani 2024 yang dilakukan LaporIklim bersama sejumlah lembaga seperti Tani dan Nelayan Center Institut Pertanian Bogor (TNC IPB), Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Gerakan Petani Nusantara (GPN), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), dan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). Sebanyak 98,7 persen petani yang terlibat dalam survei tersebut menyatakan bahwa dampak perubahan iklim semakin terasa dalam kehidupan mereka. Kekeringan, musim yang semakin tidak menentu, curah hujan yang menurun, dan suhu panas ekstrem merupakan beberapa kejadian iklim yang paling banyak dialami oleh para petani.
Namun sayangnya, lebih dari separuh responden (51,3%) mengatakan bahwa berbagai program dan kebijakan pemerintah dalam sepuluh tahun (2014-2024) belum mampu melindungi petani dari dampak perubahan iklim dan mengatasi berbagai persoalan yang ada. Sebagai contoh, pemerintah telah membangun bendungan secara masif di berbagai daerah untuk mengatasi kekurangan air saat periode kering. Namun, puluhan bendungan yang dibangun tidak mampu menyelamatkan petani dari penurunan produksi tanaman pangan atau kegagalan panen akibat kekurangan air. Di berbagai daerah, banyak petani yang merana karena mengalami gagal panen pada periode El Nino 2023 hingga awal 2024.
Kurangnya Dukungan
Sebagai bentuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, petani perlu menggunakan pupuk organik yang lebih mendukung kesehatan lingkungan dan benih unggul yang lebih tahan terhadap anomali cuaca, serta menerapkan sistem irigasi yang berkelanjutan. Namun, mayoritas petani yang terlibat dalam survei tersebut mengaku masih menggunakan benih sendiri, dan 51,6 persen dan merasa pemerintah tidak memberikan bantuan pupuk organik yang memadai. Selain itu, hampir setengah dari responden menyatakan tidak puas terhadap kebijakan harga yang ditetapkan pemerintah, yang tidak sebanding dengan kenaikan biaya produksi akibat inflasi dan harga pupuk yang semakin tinggi.
Lebih lanjut, laporan tersebut juga mengungkap bahwa 65,4 persen petani tidak mendapatkan akses lahan yang lebih baik meski terdapat agenda Reforma Agraria untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Selain itu, dukungan pascapanen juga masih minim. Banyak hasil pertanian yang tidak terserap pasar dengan baik atau mengalami penurunan kualitas karena kurangnya infrastruktur pendukung, seperti gudang penyimpanan berpendingin atau teknologi pengolahan yang memadai.
Hasil survei tersebut juga mengungkap kurangnya keterlibatan petani dalam pengambilan kebijakan atau perencanaan program-program pertanian. Kurangnya penyuluhan kepada petani, hingga tiadanya perdagangan yang adil di level petani, turut melengkapi persoalan ini.
Rekomendasi
Berdasarkan temuan-temuan di atas, laporan tersebut memberikan sejumlah rekomendasi untuk memperbaiki kehidupan petani di Indonesia, di antaranya:
- Memberikan lebih banyak dukungan dalam bentuk kebijakan yang pro terhadap petani, termasuk subsidi dan bantuan langsung.
- Mengembangkan kebijakan dan sistem yang memastikan harga jual produk pertanian di tingkat petani tetap layak dan tidak terpengaruh oleh fluktuasi pasar.
- Meningkatkan akses terhadap sumber produksi seperti lahan, pengairan, benih, dan permodalan melalui dengan kebijakan dan program pendukung.
- Memperkuat program yang berfokus pada perbaikan kualitas lahan pertanian.
Memperkuat kapasitas dan daya adaptasi petani melalui pelatihan dan akses terhadap teknologi pertanian modern yang dapat membantu mereka meningkatkan efisiensi dan hasil pertanian.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar
- Abul Muamar

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan