Bagaimana AI dan Digitalisasi dapat Meningkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja?
Foto: Igor Omilaev di Unsplash.
Perkembangan teknologi telah dan semakin merangsek ke berbagai sendi kehidupan kita. Hari ini, banyak sektor yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menyederhanakan dan meningkatkan berbagai hal. Lantas, bagaimana AI dan digitalisasi dapat berperan dalam meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)? Sebuah laporan dari ILO yang diluncurkan secara tripartit di Jakarta pada 24 April 2025 memberikan gambaran atas pertanyaan itu.
AI dan Digitalisasi untuk K3
Laporan ILO bertajuk “Merevolusi Kesehatan dan Keselamatan: Peran AI dan Digitalisasi di Tempat Kerja” menyoroti bagaimana AI, digitalisasi, robotika, dan otomatisasi telah membentuk ulang lanskap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di tempat kerja di berbagai belahan dunia. Laporan tersebut menyatakan bahwa sistem bertenaga AI dapat meningkatkan pemantauan K3, merampingkan tugas dan operasi, meringankan beban kerja, dan mendorong inovasi di berbagai sektor, termasuk sektor-sektor yang biasanya berteknologi rendah.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa otomatisasi dan sistem pemantauan cerdas dapat mengurangi paparan berbahaya, mencegah cedera di tempat kerja, dan meningkatkan kondisi kerja secara keseluruhan. Namun, laporan tersebut juga menekankan perlunya kebijakan dan regulasi yang proaktif untuk memastikan teknologi ini diterapkan dengan aman dan adil serta untuk mengatasi risiko baru yang muncul.
Peluang dan Risiko Teknologi untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Laporan tersebut merangkum beberapa tren utama terkait peluang dan risiko penggunaan teknologi AI dan digitalisasi untuk K3 sebagai berikut:
- Otomasi dan robotika yang canggih dapat menyederhanakan kerja-kerja yang melibatkan fisik dan kognitif serta mengurangi paparan bahaya dan cedera. Namun, pada saat yang sama, teknologi ini juga dapat menimbulkan risiko yang berkaitan dengan kegagalan mekanis, ergonomi, dan faktor psikososial. Misalnya, para pekerja yang merawat, membenahi, atau bekerja dengan robot dapat menghadapi bahaya baru. Perilaku robot yang tidak terprediksi, kegagalan sistem, atau ancaman siber dapat membahayakan keselamatan.
- Alat dan sistem pemantauan cerdas K3 dapat membantu mendeteksi bahaya secara real time dan menyediakan penilaian risiko prediktif dan tindakan keselamatan proaktif. Namun, tantangannya adalah memastikan kegunaan, kesesuaian yang tepat untuk pekerja yang beragam, perlindungan privasi, dan pencegahan stres akibat pemantauan yang terus-menerus.
- Realitas yang diperluas dan realitas virtual mengubah pelatihan pekerja dengan simulasi imersif untuk pengenalan bahaya dan tanggap darurat. Namun, sangat penting untuk mengatasi risiko seperti jarak pandang yang terhalang, masalah keseimbangan, dan ketegangan visual dan beban kognitif yang berlebihan.
- Manajemen kerja algoritmik dengan sistem yang diprogram oleh AI dapat membantu mengkoordinasikan para pekerja dalam sebuah organisasi, mengoptimalkan alokasi tugas, meningkatkan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan (work-life balance) dan mengatasi kesenjangan keterampilan. Namun, pengawasan berlebihan dan intensifikasi kerja merupakan tantangan yang harus diperhatikan.
- Pengaturan (setting) kerja yang terus berkembang, seperti kerja jarak jauh (remote) dan pekerja berbasis platform, memang menawarkan fleksibilitas. Namun pada saat yang sama, hal ini juga menimbulkan tantangan K3 fisik dan psikososial.
Laporan tersebut mewanti-wanti bahwa ketergantungan berlebihan pada AI dan otomatisasi dapat mengurangi pengawasan manusia yang pada gilirannya akan meningkatkan risiko K3, sementara beban kerja yang digerakkan oleh algoritma dan terus-menerus terhubung dapat menyebabkan stres, kelelahan, dan masalah kesehatan mental. Selain itu, laporan tersebut juga mengungkap risiko K3 yang dihadapi oleh para pekerja di seluruh rantai pasok digital, mulai dari mereka yang berada dalam proses ekstraksi hingga mereka yang menggerakkan AI dan mereka yang menangani limbah elektronik.
“Agar kita bisa mendapatkan manfaat penuh dari teknologi ini, kita harus memastikan bahwa teknologi tersebut diterapkan tanpa menimbulkan risiko baru,” kata Manal Azzi, Ketua Tim Kebijakan K3 di ILO.
Perlunya Pembaruan Kebijakan dan Regulasi
Lebih lanjut, laporan tersebut menekankan perlunya pembaruan kebijakan dan regulasi di tingkat global, regional, dan nasional untuk mengatur risiko K3 terkait otomasi dan digitalisasi. Pembaruan kebijakan dan regulasi sangat penting untuk mengatasi risiko dan peluang yang ditimbulkan oleh teknologi digital baru. Selain itu, perlindungan K3 juga perlu diperluas mencakup pekerja jarak jauh dan pekerja platform dengan mempertimbangkan sifat pekerjaan yang terus berkembang.
Oleh karena itu, keterlibatan pekerja dalam setiap tahap adopsi teknologi sangatlah penting. Pelatihan dan inisiatif peningkatan kesadaran adalah kunci untuk memastikan penggunaan teknologi baru secara aman. Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk mengeksplorasi pemahaman dampak jangka panjang K3 dalam transformasi digital.
Memastikan Transisi Digital yang Aman
Kolaborasi tripartit—pemerintah, dunia usaha, dan pekerja—merupakan hal esensial dalam membentuk kebijakan yang inklusif yang dapat menyeimbangkan antara inovasi teknologi dan perlindungan pekerja. Pendekatan partisipatif sangat dibutuhkan dengan melibatkan para profesional K3 dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan bahwa transformasi digital benar-benar meningkatkan keselamatan dan kesehatan di tempat kerja, bukan sebaliknya–membahayakan. Laporan tersebut memberikan beberapa rekomendasi tindakan yang diperlukan:
- Mengarusutamakan K3 dalam kebijakan dan strategi digitalisasi serta memastikan bahwa pertimbangan K3 tertanam dalam kebijakan terkait AI, otomatisasi, dan pekerjaan digital; serta mengintegrasikan digitalisasi ke dalam kerangka kerja K3 untuk meningkatkan pencegahan risiko, pemantauan, dan perlindungan pekerja.
- Memperbarui kerangka kerja peraturan dan mendorong kepatuhan – Memperkuat undang-undang K3 untuk mengatasi risiko yang muncul akibat teknologi baru dengan lebih baik, serta mendorong kepatuhan melalui panduan, penyebaran informasi, kampanye peningkatan kesadaran, dan inisiatif peningkatan kapasitas untuk memastikan implementasi yang efektif dan perlindungan pekerja.
- Memperkuat penilaian risiko dan tindakan pencegahan – Mengevaluasi secara rutin risiko yang muncul terkait teknologi digital dan menerapkan tindakan pencegahan yang sejalan dengan “hierarki kontrol” K3.
- Meningkatkan pelatihan dan pengembangan keterampilan – Menyediakan peluang peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang yang berkelanjutan untuk membantu para pekerja beradaptasi dengan transformasi digital.
- Meningkatkan dialog sosial dan partisipasi pekerja – Melibatkan organisasi pekerja dan pengusaha dalam pengambilan keputusan untuk mendorong adopsi teknologi yang aman dan adil serta memastikan bahwa inovasi diimbangi dengan perlindungan K3 yang kuat.
- Mempromosikan digitalisasi yang berpusat pada pekerja – Memastikan bahwa teknologi baru meningkatkan K3 serta tidak memperparah ketimpangan, dengan perhatian khusus pada kelompok-kelompok rentan.
Laporan selengkapnya dapat dibaca di sini.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit