Kerja Sama Indonesia-Norwegia Dukung Implementasi FOLU Net Sink 2030
Foto oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Dunia saat ini sedang berjuang menurunkan emisi gas rumah kaca untuk mengatasi krisis iklim. Di Indonesia, berbagai upaya dilakukan pemerintah, salah satunya melalui program Indonesia Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030.
FOLU Net Sink adalah keadaan di mana tingkat serapan karbon pada sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (FOLU) sudah berimbang atau lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada tahun 2030. Implementasi program ini didukung oleh Kementerian Iklim dan Lingkungan Denmark melalui kesepakatan kerja sama yang ditandatangani di Jakarta pada Senin, 12 September 2022.
Lingkup Kerjasama
Kerja sama antara Indonesia dengan Denmark ini mencakup tujuh ruang lingkup, yakni:
- Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dengan melindungi dan mengelola hutan dengan partisipasi masyarakat, termasuk masyarakat adat;
- Peningkatan kapasitas untuk memperkuat penyerapan karbon hutan alam melalui pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan dan perhutanan sosial, termasuk mangrove;
- Konservasi keanekaragaman hayati;
- Pengurangan emisi gas rumah kaca dari kebakaran dan kerusakan lahan gambut;
- Penguatan penegakan hukum;
- Komunikasi, konsultasi dan pertukaran pengetahuan pada lingkup internasional tentang kebijakan dan agenda iklim, kehutanan dan tata guna lahan;
- Pertukaran informasi dan pengetahuan pada tingkat teknis.
“MoU ini mewakilkan lebih dari sekadar kemitraan. Bukan hanya persetujuan tentang kontribusi berdasarkan hasil, tetapi juga mencakup keterlibatan yang lebih luas terkait isu iklim dan kehutanan di Indonesia,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.
11 Langkah Mitigasi
FOLU Net Sink 2030 dicapai melalui 11 langkah mitigasi pada sektor FOLU. Sebelas langkah tersebut yaitu:
- Pengurangan laju deforestasi lahan mineral
- Pengurangan laju deforestasi lahan gambut
- Pengurangan laju degradasi hutan lahan mineral
- Pengurangan laju degradasi hutan lahan gambut
- Pembangunan hutan tanaman
- Manajemen hutan berkelanjutan
- Rehabilitasi dengan rotasi
- Rehabilitasi non rotasi
- Restorasi gambut
- Perbaikan tata air gambut
- Konservasi keanekaragaman hayati.
Ke depan, mangrove juga akan dielaborasi dalam Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030 karena kapasitas mangrove dalam mengurangi emisi dari sektor lahan layak diperhitungkan baik di dalam NDC maupun di dalam dokumen LTS-LCCR 2050.
“Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 mendorong kinerja sektor kehutanan menuju target pembangunan yang sama, yaitu tercapainya tingkat emisi gas rumah kaca sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030. Pijakan dasar utamanya adalah sustainable forest management, environmental governance, dan carbon governance,” kata Ruandha Agung Sugardiman, Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Faktor Penentu
Pada akhirnya, capaian FOLU Net Sink 2030 sangat ditentukan oleh pengurangan emisi dari deforestasi dan lahan gambut. Faktor penentu lainnya adalah peningkatan kapasitas hutan alam dalam penyerapan karbon, restorasi dan perbaikan tata air gambut, restorasi dan rehabilitasi hutan, pengelolaan hutan lestari, serta optimasi lahan tidak produktif.
“Juga diperlukan pengembangan berbagai instrumen kebijakan baru, pengendalian sistem monitoring, dan evaluasi dan pelaksanaan komunikasi publik,” imbuh Ruandha.
Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest